Monday, December 5, 2016

Trip Ke Garut


Beberapa hari yang lalu, aku bersama teman-teman kuliahku mengadakan kunjungan lapangan di daerah Garut selatan. Kami berangkat dari Jogja pada sabtu siang,26 november 2016. Dengan menggunakan motor, tentu ini akan menjadi perjalanan yang amat melelahkan. Singkat cerita kami baru sampai di kota tasik jam 9 malam. sehingga kami sudah menempuh waktu perjalanan 12 jam, rasanya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan ke kota garut yang masih memerlukan waktu sekitar 2 jam. Jadi malam itu kami memutuskan untuk menginap di Tasik saja. Lantas menginap dimana ? Padahal kami tidak memiliki budget anggaran untuk menyewa hotel/pun penginapan. Alhasil jam 10 malam kami dapati sebuah masjid yang lokasinya cukup strategis di samping jalan utama tasik-garut. Saat itu masjid itu sudah sepi dan tertutup. Namun yang tak disangka ternyata masjid itu tak dikunci, sehingga kami memutuskan untuk mencoba meminta izin ke takmir masjid untuk menginap, dan alhamdulillah kami di izinkan meskipun harus menunggu dan meminta izin ke beberapa orang di sekitar masjid itu. Malam itu kami tidur disana, untuk sesaat cukuplah untuk meredakan pegal-pegal perjalanan meski kami tidur seadanya dan tak sampai 5 jam. 

Pukul 3.30 takmir masjid sudah datang untuk membersihkan lantai masjid jadi mau tak mau kamipun terbangun. Aku dan beberapa teman langsung ambil wudhu untuk melaksanakan sholat sunnah, sedangkan temanku yang beragama nasrani menunggu di luar masjid. Waktu sholat subuhpun menjelang dan kami melaksanakan sholat subuh berjamaah. setelah usai, satu demi satu jamaah pergi meninggalkan masjid. Kami berenampun juga ingin sekalian berangkat pagi itu juga. Kami segera mengambil ransel kami yang kami taruh di sudut dekat pintu keluar masjid dan menemui takmir masjid untuk mengambil KTP ku yang dibawanya sekaligus untuk berpamitan. 

Kamipun mengobrol sejenak dengan Bapak takmir tersebut, beberapa saat kemudian muncul seorang bapak-bapak berusia sekitaran 45 tahunan datang mendekati kami yang masih berbicara dengan takmir. Orang itu memakai jaket kulit berwarna coklat dengan potongan rambut ikal pendek serta berlogat sunda. Dengan gaya bicara yang begitu bersahabat bapak itu menanyai kami beberapa hal, kami menjawab sebenarnya saja terkait dengan rencana kami ke garut selatan. Alhasil bapak itupun meminta kontak kami dan ia memperkenalkan namanya beserta berbicara banyak hal sesaat. setelah itu kami semua keluar dari masjid bersama bapak takmir dan bapak itu tadi. Salah satu dari kami (Rudi) dipanggil bapak berjaket itu tadi. sedangkan aku berbicara dengan bapak takmir. Bapak takmir memberitahuku bahwa orang tadi itu adalah walikota tasik sekaligus pemilik moda transport bus budiman. jujur aku agak terheran sesaat, masa ia bapak itu walikota? kemudian rudi datang setelah bicara dengan Bapak itu tadi. Terdengar mobil dinyalakan dan berajak pergi ke arah kota tasik, sebuah mobil Honda Crv bewarna hitam. Dan rudi memberitahu bahwa ia diberi bapak itu tadi uang 500.000 untuk kami, buset dah.

Alhamdulillah semoga kebaikan bapak itu dibalas berlipat kali oleh Allah SWT. meskipun pertemuan kami hanya beberapa saat saja namun seJujurnya aku terkesan sekali dengan Bapak itu, bagaimana ia bertutur, bagaimana ia menjalin hubungan dengan orang lain dan kedermawanan beliau. Yang membuatku paling heran adalah bagaimana ia mempercayai orang lain, padahal kami bukan siapa-siapanya dan baru tau hanya beberapa saat saja. Entahlah, tapi Ingin kali rasanya kelak bisa seperti beliau. Ya berkah subuh hari yang tak disangka. Dari kejadian singkat itu aku berpikir kembali bahwa masih banyak orang baik disekitar, kadang pikiran sendiri inilah yang selalu berprasangka yang tidak - tidak terhadap orang lain, sudah seharusnya aku memperbaiki diriku ini. Dan semoga kelak aku bisa berderma seperti Bapak Budiman itu tadi.

Pukul 4.30 kami melanjutkan perjalanan menuju ke kota garut ...

Saturday, October 29, 2016

Walking to The Sunset

Yang tercinta Bapak & Ibuk disana,

Pak Buk bagaimanakah kabar ? sudah teramat lama diri ini tiada bersua dengan kalian berdua. bagaimanakah keadaan disana ? Banyu harap kebahagiaan dan kedamaian selalu tercurahkan kalian. kalau aku sendiri baik - baik saja disini.

Ketika kutulis surat ini aku sedang berada di Jogja, Kota yang dahulu pernah Bapak & ibu ceritakan kepadaku. Kini aku sudah berada di kota itu, untuk memujudkan apa yang dahulu kalian pesankan. Saat ini Banyu kuliah dan sudah menginjak semester akhir. sungguh Banyu tak pernah mengira bisa benar - benar berada di kota ini. namun kenyataannya demikaianlah. Banyu benar-benar bisa kuliah. Entahlah beberapa hari ini aku selalu bermimpi bertemu dengan Bapak dan Ibuk. Mimpi - mimpi itu membangkitkan kenangan - kenangan saat masih bersama dahulu.

Untuk Bapak aku masih teringat akan banyak hal yang dahulu pernah terlewati selama kita sekeluarga masih utuh. Aku masih teringat kala aku masih berumur 6 tahun suatu malam sebelum tidur Bapak menceritakanku tentang pengalaman bapak saat berada di Jogja, tentang eloknya kota itu yang penuh dengan muda mudi intelek. Cerita yang melambungkan harapanku kala itu dan malam itupun Bapak bilang ingin membelikan Banyu sebuah sepeda untuk bisa digunakan untuk ke sekolah. Tentulah Banyu sangat senang dan esoknya kita sekeluarga ke pasar.

Saat di pasar Bapak langsung menuju toko sepeda, sedang aku dan Ibuk menunggu di luar toko. Bapak terlihat bersemangat saat masuk ke toko tersebut. Dari luar kulihat Bapak sepertinya berusaha untuk tawar - menawar dengan pemilik toko. Dan ternyata uangnya tidak mencukupi. Muka Bapak kala itu merasa bersalah ketika harus mengatakan bahwa "kita batal beli sepeda Nyu, uang Bapak kurang". Kala itu Banyu sangat sedih, namun Bapak segera mengalihkan perhatianku dengan mengajakku untuk jalan-jalan ke alun-alun kota yang tak jauh dari pasar dan membelikanku berbagai makanan yang kusuka. Banyu tak pernah lupa itu. karena tak lama sesudah hari itu Bapak harus berpulang kepada Allah SWT.

Semenjak Bapak tiada Ibuklah yang menjadi pahlawan bagiku, banyak sekali pengorbanan yang telah ibuk lakukan dan Banyu tak dapat menghitungnya satu demi satu. Namun ada beberapa moment yang Banyu tak akan pernah lupa, seperti ketika Ibuk harus bersepeda sejauh 10 km untuk menjemput raporku, lalu bagaimana susah payah berjuang kesana - kemari mencukupkan keperluan sekolah Banyu. Banyu hanya mengamati saja selama itu dan hanya bisa belajar saja untuk membalas upaya besar tersbut. Banyu hanya sedih saja, begitu besarnya pengorbanan Ibuk untuk bisa menjadikan Banyu seperti saat ini. Banyu masih ingat apa yang kutekatkan dahulu dan berjanji bahwa kerja keras Ibuk tak akan Banyu kecewakan. Serta berjanji bahwa nanti jikalau sudah berpenghasilan sendiri maka Ibuk tak perlu bekerja di sawah lagi. Namun apalah daya, setelah lulus SMA Ibuk juga menyusul Bapak kehadapan Tuhan. Belum sempatlah Banyu membalas segala kebaikan dan jasa yang Ibuk lakukan untuk Banyu, disitulah kadang Banyu merasakan kesedihan jikalau mengingat semua itu. namun dari itu pula Banyu mendapatkan kekuatan untuk bergerak mengejar cita-cita yang Bapak dan Ibuk harapkan kepadaku. 

Kini sudah terhitung empat tahun Ibuk telah pergi dan kini di kota ini aku masih berupaya untuk mewujudkan cita-cita itu. Aku akan terus berupaya sebagaimana kubisa, naik dan turun jalan telah kulalui, namun ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang telah kalian lewati. Biarlah jarak antara ruang dan waktu tak terbatas ini memisahkan kita, namun semangat dan harapan dahulu itu takkan pernah padam.

Dari Bungsumu yang tak pernah dirumah, yang hanya ingin terus berjalan menuju matahari di ufuk senja sana.

Monday, October 24, 2016

Pengalaman Menjadi BPH di HMTG "BUMI"

Rapat Terakhir BPH 2015/2016 HMTG"BUMI"

Selamat malam semuanya, cukup lama rasanya tidak menulis konten di blog ini. Malam ini sepertinya bagus untuk sharing pengalaman selama berorganisasi di HMTG"BUMI". Kadang kangen kalo ingat suasana kerja jadi pengurus BPH (Badan Pengurus Harian). Capek ia, tapi pengalamannya tak ternilai harganya. 

Aku baru masuk menjadi pengurus himpunan pada tingkat tiga. Telat kah ? mungkin ia mungkin juga tidak. Ia karena biasanya mahasiswa yang ngebet berorganisasi itu diawal-awal masuk sudah lengket ke senior. Kubilang tidak ya karena memang pada tingkat itulah aku merasa sudah siap dan enjoy untuk nyoba menyelami himpunan di jurusan ini. Pengen tau gimana daleman ni himpunan yang selama ini hanya katanya, katanya dan katanya, intinya negatif. Dan kebetulan akupun ditawari sama KABUM "Ketua BUMI" untuk membantu ia dalam kabinetnya. Ya jadi aku langsung masuk aja ke BPH tanpa ikut seleksi ini itu. 

Di BPH HMTG"BUMI" kepengurusan 2015/2016 aku masuk di divisi IBMO (Informasi, Bulletin dan Media Online). Yang beranggotakan Anggi, Aku (2013), Steven, Johan dan Aziz (2014). Masing - masing punya spesialisasi tertentu. Anggi ialah ketua divisi sekaligus Admin medsos, steven bagian majalah dinding, Johan bagian design sama website, Aziz bagian kompetisi media, Aku sendiri sebagai ketua redaksi dari majalah himpunan "ROTASI BUMI" yang ada di bawah naungan div.IBMO. Jadi job utamaku adalah membuat majalah yang nantinya akan diterbitkan pada ulang tahun HM. Memang itu yang tertera di jobdesk, namun prakteknya akan beda dari skema. Kadang kita harus rela untuk ngerjain job temen sebab ada ini dan itu ataupun apalah. Namun yang paling sering adalah alasan SIBUK.

Nah disitulah tantangannya, jadi harus mau mencoba keluar dari pakem kalo jobdesk ini ya harus ini gak mau melakukan yang lain. Bagus memang kalau mau menjunjung profesionalisme kerja. namun kalau keadaan ngga memungkinkan malah nanti bila ada satu bagian yang bermasalah imbasnya ke divisi. Jadi ego harus ditekan kalau udah begini. Namun banyak untungnya juga dengan kerja lintas jobdesk, kita jadi belajar banyak hal dan tantangan baru. 

Pada awal kepengurusan semua anggota terlihat bersemangat dan antusias namun setelah minggu dan bulan berganti, arus pasang surutnya mulai nampak menjangkiti anggota divisiku dan divisi lain BPH. Ada yang ninggalin job berbulan bulan yang terpaksa di take over teman lain ada yang moodnya naik turun jalanin job bahkan ada yang dengan terang terangan menyepelekan tanggung jawab yang sudah disanggupinya. Padahal kalau ingat, dulu saat pelantikan diadakan sumpah untuk mengemban amanah jabatan, tapi demikian realitasnya. Ini bukanlah masalah di HMTG "BUMI'' saja, masalah semacam ini adalah ciri khas dari kebanyakan organisasi yang anggotanya kebanyakan mahasiswa. Yang landasannya hanyalah komitmen dan dedikasi diri kepada organisasi. Bukan uang ataupun kenyamanan.

Selama hampir setahun di"BUMI" aku benar benar belajar banyak hal. Mulai dari menyusun naskah artikel ilmiah yang tak semudah menulis cerita fiksi serta opini, belajar jadi jurnalis yang harus nyari informasi kesana kemari dan harus selalu siap disetiap acara, lalu bagaimana menggunakan kamera DSLR yang sebelumnya tak pernah memegang sekalipun, belajar design grafis dan layout untuk membuat majalah dan berbagai macam spanduk dan poster yang setiap projek pengerjaannya bisa berhari-hari, menyusun strategi dan menejemen medsos yang uptodate dan informatif , bahkan sampai belajar marketing untuk menjual rompi saat kegiatan ulang tahun himpunan. Dan yang terpenting adalah belajar untuk bertangung jawab atas komitmen, kerja sama, manajemen waktu serta manajemen stress. Stress ??? Ya, pake banget.

Hal yang paling berkesan bagiku selama menjadi pengurus BPH "BUMI" adalah saat ulang tahun himpunan (GempaBUMI 2016). Itulah puncak dari semua kegiatan HM yang mana merupakan parameter kesuksesan dari kepengurusan, jadi harus benar-benar total. Acaranya hampir satu bulan, inilah peak point dari tingkat kestressan pengurus BPH terutama tim inti Acara GempaBumi yang tak lain adalah anggota BPH sendiri, termasuk diriku yang sudah seperti orang percetakan saja. Hampir tiap hari design berbagai macam hal dan sorenya ke percetakan dan berulang seperti itu. Sumpah ini kegiatan menguras pikiran dan tenaga sangat dan amat. Disini jobdesk diabaikan, pokoknya yang bisa dan mau berkomitmen boleh tampil. Sebab banyak panitia yang membelot dan ada masalah fundamental yang tak memungkinkan dibuat acara seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. yakni minim dana. we are so fucking crazy about it. namun syukurlah acaranya masih bisa berjalan dengan cukup baik meski dengan keterbatasan dana. Jujur suka duka bersama HM selama setahun itu memberikan ilmu dan pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan.

Jadi bener, rugi banget kalau kamu kuliah tapi ngga ikut berorganisasi. sebab di organisasi kamu akan dapat ilmu serta pengalaman yang ngga kamu dapatkan di kelas. beneran. Kalo alasan akademik yang jadi dalih, banyak lo temen - temen di Himpunan yang berprestasi, nilai mereka malahan diatas rata-rata. Kalau menurutmu kurang nyaman dengan organisasi di dalam kampus kamu bisa coba organisasi di luar yang banyak pula jumlahnya. Jadi jangan ragu untuk berorganisasi kawan, terutama teman teman JABIGER HMTG"BUMI" dan adik adik penerus himpunan di Teknik Geologi STTNAS. 

Salam BUMI !
*Note: Ini nih kalau kamu pengen baca majalah Rotasi Bumi volume 3 di kepengurusan kami https://joom.ag/Fi8Q

Saturday, September 3, 2016

Sedikit Cerita KL 2 Bayat 2016

Malam sebelum Balik KL (Rowo Jombor)

Klik link untuk memutar Musik Latar (Tulus-Monokrom)

Setelah berjuang selama lima belas hari untuk menakklukkan perbukitan Jiwo dan Pegunungan Selatan, tiba pulalah pada penghujung cerita. Hari Jumat pagi (3/9/2016) menjadi hari yang kiranya begitu Sentimental, KL 2 Bayat telah usai dan kami akan bersiap kembali ke kota Jogja lagi. Ku yakin banyak diantara teman-teman peserta KL 2 pagi itu yang masih memutar video kenangan di memori masing - masing. Ya pagi ini memang menjadi akhir sudah. Masihlah tergambar dengan jelas kemarin hari, saat menghadapi pendadaran. Wajah - wajah tegang,panik,takut atau semacamnya terlihat disana sini. Kini mereka semua telah membawa ransel dan koper masing-masing bersiap untuk menaiki bus penjemputan. Wajah - wajah lelah berlukis kerinduan tersirat di mana-mana. Ya, KL 2 benar-benar sudah usai.

Teringat, Sore kemarin hari sehabis pendadaran diadakan lomba sepak bola untuk peserta putra dan lomba Volly untuk peserta Putri. Suasana begitu santai dan riuh disana sini. Aku yang duduk santai di teras pintu gerbang selatan SD krakitan melihat banyak wajah sumringah sore itu, ada yang sedang berkejar-kejaran mengejar bola sepak, ada yang heboh menjadi suporter tim, ada pula rombongan cewek yang tak mau kalah gila - gilaan main volly dan beberapa pula yang bercengkerama di warung pojok selatan untuk sekedar bertegur sapa dengan sesama yang lainnya ataupun menikmati minuman segar. 

Jam telah menunjukkan pukul 5 sore, aku bersama beberapa kawan dekat pergi ke Rowo jombor untuk menikmati sunset sore di sana. Ada Wandi, Haidir, Gerry, Rian ,Sigit dan Welly. Meskipun datang disaat matahari tinggal beberapa menit saja akan tenggelam namun sore itu menjadi sore yang berarti untuk berkenang dalam rangkaian KL ini. Cukup lama kami mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Dari spot perahu kayu kemudian berpindah cukup jauh di jembatan bambu di tengah Rowo. Disana kami berjumpa dengan Puji,Bili dan Galih. Ya, meskipun dalam keseharian kuliah kita terpisah dengan kesibukan masing-masing. Setidaknya beberapa foto bisa menjadi kenangan yang menyatukan kami semua agar kelak menjadi buah tutur yang tak terlupakan. Magrib hari itu begitu memang begitu indah. 

Tak berakhir di situ, pukul 19.30 sesudah makan malam dengan menu yang super banyak. Acara dilanjutkan dengan penampilan dari masing-masing barak dalam berkesenian. Yang lucu adalah penampilan dari barak 1, mereka menampilkan tari kecak dengan john (12) sebagai leak nya, sumpah itu perform paling kocak dari kesemua barak. Barak 2 menampilkan choir dan goyang itik yang di pandu oleh acing dan hasta yang vulgar . Barak putri menampilkan tarian yang aku sendiri tak paham apa maksudnya, namun menghibur bagi para peserta Putra. Dan barak ku sendiri (barak 3) menampilkan perform lagu yang dikomandoi haidir yang pandai menyampaikan kata-kata persuasif untuk menutup perform malam itu dan terlebih menutupi kekurangan perform dari barak kami. Dan benar, kata-kata dari haidir ini seperti membawa mantra ajaib sebab setelah kata-kata itu diucapkan, teman-teman dalam ruangan kulihat lebih menghayati bahwa perform malam ini bukanlah ajang untuk berkompetisi melainkan malam untuk merayakan dan menikmati moment kebersamaan yang kedepan memang tak akan terulang kembali. Semua audience menikmati perform dari barak kami yang tampil seadanya dan sepertinya menjadi perform penutup yang bermakna. 

Setelah itu acara dilanjutkan dengan pembacaan ranking nilai teratas peserta KL 2 tahun ini. Syukurlah saudaraku (Wandi) masuk 5 besar, ia berada di ranking 5. Ia kurasa memang layak menerima penghargaan itu. Aku tahu, ia telah berusaha keras untuk itu. Sedang aku sendiri berdasarkan penghitungan nilai berada di urutan 9, turun 4 grade dari KL 1 yang ada di peringkat 5. Ya, pelajaran yang berarti bagiku. Bahwa orang lain terus memacu dirinya untuk berproses. Jangan lengah dengan prestasi maupun kemampuan yang dimiliki saat ini. banyak hal yang bisa ditingkatkan.harus berlari lebih kencang lagi.

Terima kasih semuanya, kenangan KL 2 ini tak akan pernah kulupakan. Dan semoga kita semua sukses dengan impian dan cita-cita masing masing. Terkhusus buat teman-teman yang selalu ada disekitar saat acara KL 2 ini (Haidir, Wandi, Sigit, Gerry, Rian dan Hamzah) semoga ini bukan menjadi saat terakhir kita untuk bersama. meskipun jalan kedepan memang menjadi tumpuan diri sendiri, entah Seminar, KKN, ataupun Tugas akhir. Semoga silaturahim tetap terjaga agar ikatan ini tak pudar termakan oleh waktu.

Aku akan selalu merindukan moment ini kawan. Dan aku yakin kalian semua akan jadi orang besar di kemudian hari.

Monday, August 8, 2016

Resensi Roman Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer


Buku ini merupakan buku pertama dalam Tetralogi Roman yang dibuat saat Pram berada di pengasingan (Pulau Buru). Buku yang selesai dibuat pada 1975 ini merupakan salah satu karya terbaiknya yang begitu melegenda. Berisi sekitar 545 halaman, buku ini menyajikan bumbu-bumbu pengalaman historis,roman,humanisme serta keadilan yang begitu menarik dan memikat untuk dibaca. 

Adapun Kisah di dalamnya adalah tentang perjalanan hidup seorang Anak Bupati dari sebuah kabupaten di Jawa Timur (B/Bojonegoro), seorang pelajar tingkat akhir H.B.S. Surabaya (setingkat SMA) bernama Raden Mas Minke. Mengambil sudut pandang orang pertama (Minke) pada kisaran tahun 1900an pada zaman kolonial hindia belanda. Kisahnya demikian:

Minke merupakan pelajar tahun terakhir di H.B.S. Surabaya. Ia memiliki seorang teman sekolah (belanda) bernama Robert suurhoof. Suatu hari ia diajak olehnya untuk berkunjung kesebuah rumah yang menurut cerita desas desus merupakan tempat tinggal seorang Nyai (Simpanan Orang belanda) yang terkenal angker. nyai itu memiliki anak yang begitu cantik. Dan Robert menantang minke untuk bertaruh mendapatkan gadis anak nyai itu. Sebenarnya minke agak segan untuk datang namun karena ini tantangan, tak ada salahnya untuk dicoba. Minke tahu sebenarnya ia hanya akan dikerjai robert namun kiranya tak apa dengan reputasinya sebagai playboy.

Pada hari yang telah ditentukan datanglah mereka ke rumah nyai tersebut. Dari sinilah semua kisah dari buku ini dimulai. Di Rumah itu tinggallah Seorang Nyai bernama sanikem (Nyai Ontosoroh) istri tidak syah dari Herman Mallema (orang belanda), Annelies mallema, dan robert mallema serta seorang asisten dari Nyai ontosoroh bernama Darman. 

Nyai Ontosoroh dalam buku ini digambarkan sebagai seorang wanita pribumi yang begitu berani, tangguh,pekerja keras dan berpendidikan (meskipun ia tak pernah sekolah). Berbeda dari nyai - nyai pada umunya yang selalu di cap negatif. Ia adalah pimpinan dari perusahaan milik Herman Mallema. Yang sejak lima tahun terakhir mengalami gangguan jiwa, sehingga segala urusan perusahaan milik belanda itu dikelola olehnya bersama putri nya (annelies). Dibalik sikapnya yang luar biasa tersebut, Wanita tersebut menyimpan pesakitan (batin) luar biasa akibat masa lalunya. Ia begitu dendam dan benci dengan keluarganya karena menjualnya ke Herman mallema saat ia masih gadis. Dan ia sangat Anti dengan Belanda. 

Dari hubungan yang tidak syah antara Herman Mallema dan Sanikem tersebut lahirlah 2 anak Indo (Robert mallema & Annelies mallema). Robert adalah anak pertama dimana ia begitu bangga menjadi belanda dan membenci pribumi (meski dalam darahnya mengalir dalah pribumi) sedang annelies malah ingin jadi pribumi seperti ibunya. Kisah robert dalam buku ini tak begitu banyak disinggung, sedangkan Annelies gadis yang begitu cantik parasnya ( menyerupai ratu belanda yang baru dilantik ) ini adalah seorang gadis manja namun pandai bekerja yang kesepian dan merindukan cinta. awalnya Minke mendekati gadis ini karena tantangan dari Suurhoof namun entah apa gerangan seperti gayung bersambut ternyata annelies juga menyukai Minke.

Sejak kedatangan Minke kerumah tersebut annelies sering sakit karena merindukan minke dan singkat cerita Minke diminta oleh Nyai Ontosoroh untuk tinggal di sana bersama annelies. sebab Annelies selain sebagai anak, ia juga merupakan Orang yang penting bagi kelangsungan usaha Nyai Ontosoroh sehingga kesembuhannya adalah mutlak. Sebab hal tersebut terdengarlah desas desus akan minke yang mana menurut umum tindakannya kurang patut. Seorang terpelajar hidup dirumah Nyai-nyai, apalagi ia anak seorang Bupati. Dan semenjak itu ia dijauhi oleh kawan sekolahnya karena hasutan dari Suurhoof yang iri dengannya karena mendapatkan annelies, namun Minke tak ambil pusing dengan itu. Hingga akhirnya ia mendapat isu akan dibunuh oleh Kakak Annelies yang membenci pribumi. Dan minke pun menghindar untuk tak tinggal di rumah nyai itu lagi. Sehingga annelies kembali sakit-sakitan karena obsesinya pada Minke yang berlebihan itu. Tapi beberapa waktu berselang akhirnya mereka berdua kembali bersama dan beberapa bulan kemudian menikah setelah kelulusan Minke Dari H.B.S.

Pada Suatu waktu timbullah persoalan bahwa perusahaan Nyai ontosoroh yang memang sebelumnya merupakan perusahaan dari mendiang suaminya (mati diracun seorang tionghoa) menerima gugatan dari anak Sah Herman mallema dengan istrinya yang tinggal di belanda. Disinilah perjuangan dan usaha dilakukan dengan segala upaya untuk menggagalkan upaya tersebut. Sebab menurut Nyai Ontosoroh, perusahaan tersebut sudahlah menjadi miliknya sebab sudah lama si Herman mallema itu menelantarkan perusahaan, sedang yang menangani dan mengembangkan usahanya sehingga besar selama ini hanyalah ia bersama annelies semata. Minke pun tak tinggal diam, dengan keahlian profesional dalam jurnalistik. Ia melakukan perlawanan dengan tulisan-tulisannya. Segala daya upaya dikerahkan oleh Nyai Ontosoroh dan Minke, namun sayang pribumi selalu disalahkan dalam hukum belanda yang tidak adil. Dan akhirnya perusahaan pun disita oleh pengadilan belanda sedangkan Annnelies harus dipulangkan ke Belanda. sebab menurut hukum belanda ia adalah orang belanda, bukan pribumi. meskipun jikalau bisa memilih, Annelies lebih bahagia untuk menjadi pribumi saja. sehingga bisa membersamai Ibu kandung dan suami tercintanya.

Cerita dalam buku ini begitu indah,menarik dan berbobot. Penggunaan tata bahasa dan pemilihan kata begitu baik sehingga memudahkan memahami alur ceritanya serta enak untuk dibaca. Banyak sekali nilai dan pesan pesan bernuansa humanisme dalam Roman ini. Sungguh ini merupakan karya yang layak untuk dibaca dan dikoleksi. Demikianlah, semoga sedikit resensi ini bisa menjadi gambaran awal sebelum anda untuk membeli buku aslinya.

Wednesday, August 3, 2016

Apa itu Gladi Bumi ?

Ketika menjadi mahasiswa baru tentu yang bakalan ada dalam pikiran kita adalah Ospek. Ya ospek merupakan sarana untuk memperkenalkan mahasiswa baru mengenai apa-apa saja yang ada di kampus tersebut. Tujuan diadakannya ospek sebenarnya baik, namun mungkin selama ini ada beberapa orang yang memanfaatkan masa-masa ospek untuk hal - hal yang kurang terpuji. Sehingga kerap terdengar bahwa ospek diidentikan dengan perpeloncoan. meskipun dalam kenyataannya tidak sepenuhnya benar.

Sekedar sharing saja bahwa di lingkungan STTNAS, Ospek ada dua Jenis, pertama Ospek dari pihak kampus dan yang kedua dari Jurusan / Himpunan masing - masing. Untuk ospek yang dari pihak kampus, biasanya dilakukan di awal - awal sebelum jadwal kuliah dimulai (Sekitaran akhir Agustus / awal bulan September). sedangkan untuk pihak himpunan (Teknik Geologi) biasanya saat liburan UTS (Oktober-an). Sedangkan untuk jurusan lain sepertinya berbeda jadwalnya.

Ospek untuk jurusan Teknik geologi STTNAS biasa disebut GLADI BUMI. FYI, Gladi Bumi adalah salah satu acara penting sebelum kamu masuk kedalam Himpunan, karena memang untuk menjadi bagian dari Himpunan mahasiswa teknik geologi STTNAS ini itulah syarat mutlaknya. Oh iya, nama untuk HMTG di STTNAS ialah "BUMI". 

HMTG "BUMI" sendiri adalah organisasi jurusan yang menghimpun mahasiswa Teknik Geologi di STTNAS. Dimana di dalam organisasi inilah nantinya teman - teman bisa belajar banyak dalam berorganisasi serta mengembangkan kemampuan sesuai dengan bakat dan keahlian yang ingin / sudah dimiliki. Jikalau sudah mengikuti Gladi bumi dan dinyatakan lulus nanti teman-teman akan mendapatkan JABIG (jaket biru geologi) dan kalian mendapat sebutan JABIGER (Sebutan untuk anggota HMTG ''BUMI"). 

Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan ini selain untuk menghimpun anggota baru, disini pihak Himpunan ingin memperkenalkan akan gambaran mengenai dunia geologi lapangan secara umum. Sehingga teman-teman nanti tidak heran/kaget jikalau sudah menjadi orang geologi. Sebab sudah mengerti apa yang akan dilalui jika memilih jalan di bidang geologi. Dalam acara ini nanti teman-teman juga akan mendapatkan materi pembelajaran semacam kuliah lapangan sederhana oleh beberapa dosen perwakilan. Dan yang terpenting diharapkan dengan adanya acara ini bahwa semua anggota baru bisa selayaknya saudara, Satu hati dan seperjuangan. Agar kelak menjadi motor penggerak ilmu geologi pada umumnya dan himpunan Pada khususnya dalam kepengurusan selanjutnya.

Untuk Gladi Bumi biasanya dilakukan di daerah Parangtritis Selama 2,5 hari. gambaran acara ialah nanti teman-teman akan melakukan semacam foot trip lapangan yang akan didampingi oleh teman-teman Jabiger yang sudah berpengalaman sebagai pendamping dan pemandu jalan selama 2 hari (Nanti akan diberikan peta panduan perjalanannya). Nanti akan melewati berbagai keadaan geologi dan disana bisa melihat keadaan geologinya. Dan garis finisnya adalah di daerah parangtritis sebelah timur untuk mengambil JABIG. Setelah itu teman-teman resmi menjadi anggota HMTG"BUMI" dan kemudian 0,5 harinya teman - teman tinggal persiapan untuk pulang saja dan bisa menikmati suasana parangtritis. 

Itulah sedikit bocoran untuk kegiatan ini, banyak hal-hal yang luar biasa akan teman-teman dapatkan selama kegiatan ini. yang terpenting lakukanlah semua rangkaiannya dengan gembira dan pikiran terbuka. Kamu akan paham hal ini setelah lulus melewatinya. Dan bagi saya sendiri, tentu inilah salah satu moment dalam hidup yang susah terlupakan. Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat dari sedikit cerita dari tulisan ini. terima kasih dan selamat bergabung di himpunan kita.
Kalo ingin informasi selanjutnya bisa lihat di FB himpunan : Official Facebook HMTG"BUMI"

Tuesday, August 2, 2016

Jadi Maba di Teknik Geologi STTNAS / ITNY

Saat menulis ini aku sudah semester 7, jadi sebenarnya hanya ingin bagi cerita saja siapa tahu ada adik-adik yang lagi nyari info tentang kampus ini.

Aku daftar di STTNAS / ITNY pada tahun 2013. Setelah sebelumnya mengambil keputusan untuk resign dari tempat kerja di Kalimantan. Tiga tahun merantau untuk mengumpulkan dana kuliah. Setelah melewati berbagai pertimbangan, maka pilihanku adalah Teknik Geologi di STTNAS / ITNY. Awalnya aku benar-benar minim informasi tentang kampus ini, hanya bermodal browsing aja di komputer kantor tempat kerja serta informasi dari kawan SMA yang sudah kuliah disana. Dari Pontianak ke Jakarta, tiga hari di UI aku membatalkan niat untuk kuliah disana dan membulatkan tekat untuk memilih Jogja saja yang biaya hidupnya lebih terjangkau. 

STTNAS / ITNY merupakan salah satu perguruan tinggi di Jogja yang memiliki prodi Teknik Geologi, selain UGM,UPN Veteran dan IST AKPRIND. Lokasinya di Jogja bagian timur (meski secara administrasi masuk Kab.Sleman), tepatnya jalan Babarsari (Kawasan Kampus) yang populer di Jogja. Jurusan Geologi di kampus ini memposisikan diri sebagai Kampus Gunungapi jadi lebih mengarah ke Geologi mineral (Hardrock) meski demikian bagi yang suka Geologi Migas (Softrock) tetap ada dosen yang bisa diandalkan untuk bidang tersebut.

STTNAS / ITNY tiap tahun kurang lebih untuk jurusan teknik Geologi membuka kuota pendaftaran kurang lebihnya 100-150an mahasiswa. Beberapa tahun belakangan memang banyak yang berminat masuk ke sini dan sering over kuota pendaftaran. Cerita jadi maba, dulu masih ada perpeloncoan (dikerjain sama kakak tingkat). Namun setelah tahunku, ospek seperti itu sudah dilarang dan diganti dengan orientasi mahasiswa biasa yang cuma memperkenalkan seluk beluk kampus bahkan ada trip ke tempat wisata di sekitaran Jogja. Ospek sekarang lebih banyak pada kegiatan mendidik dan positif. Namun tak bisa dipungkiri pula kalo jadi maba memang harus tahu diri. Mentang-mentang ada pelarangan perpeloncoan, jadi seenaknya saja saat ospek melanggar ini itu.  

Dulu sebelum mutusin kuliah disini, saya dapat saran dari keluarga kalau"Kuliah dimana pun itu tergantung orangnya, mau negeri / swasta semua kembali ke pribadinya juga. Memang bila dibanding dengan negeri mereka akan lebih banyak fasilitas penunjangnya. Namun kuliah di negeri bukan jaminan. Yang menjadi jaminan adalah keseriusan kamu dalam kuliah itu sendiri dan berusaha proaktif untuk mencari sumber pembelajaran dimanapun". Kuliah bukan seperti SMA lagi yang semua diatur dan di jejali oleh guru dan orang tua. Saat Kuliah kamu memegang tanggung jawab akan dirimu, semua kamu yang menentukan dan mengarahkan.


Jadi jangan berkecil hati masuk di kampus swasta / PTS, apalagi di Jogja. Banyak sekali peluang dan kesempatan yang bisa kamu lakukan untuk mengembangkan diri. Mengenai Kampus STTNAS / ITNY, kamu gak perlu ragu banyak mahasiswa berprestasi di kampus ini. Info terbaru dari teman-teman Himpunan, tim Geologi kami menjadi juara 2 GEOSC 2016 (Tingkat Nasional) yang merupakan acara bergengsi tahunan dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), menyisihkan UGM di juara 3 dan kalah 1 point saja dari ITB sebagai juara 1. 

Malam Inagurasi 2015

Trip Ke museum di Prambanan

Saturday, July 30, 2016

Resensi Roman Rumah Kaca (Pramoedya Ananta Toer)



Bagi pecinta sastra di negeri ini, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Pramoedya Ananta Toer atau yang biasa dipanggil dengan Pram ini. Berpuluh judul buku telah dibuatnya, dan banyak diantaranya yang menjadi masterpiece dalam sastra Indonesia. Adapun salah satu karya luar biasa darinya adalah yang berjudul Rumah Kaca (House Of Glass).

Rumah kaca merupakan buku terakhir dari rangkaian tetralogi buku (Bumi manusia, Anak Semua Bangsa,Jejak langkah dan Rumah Kaca) yang ditulisnya saat pengasingan di pulau buru. Buku setebal 644 halaman ini mengangkat tentang kejadian sejarah pada awal - awal embrio terbentuknya negeri ini. Dengan mengambil sudut pandang cerita orang pertama dari seorang polisi-intelegent pemerintahan Hindia belanda berdarah manado bernama Jacques pangemanann yang menceritakan tentang sepak terjang bergeraknya kesadaran berpolitik dan berorganisasi di dalam negeri sekitaran tahun 1911-1919. Yang mana semua pergerakan tersebut berpusat pada seorang tokoh bernama Raden Mas Minke.

Dengan penuturan narasi kronologis yang apik serta penyajian cerita yang menarik dan mengalir, menjadikan buku ini tidak membosankan untuk dibaca meskipun buku ini termasuk tebal serta memuat tema berat. Menariknya kisah dalam buku ini disusun berdasarkan fakta-fakta sejarah negeri ini pada tahun-tahun tersebut. Dan nama-nama tokohnya pun juga tidak asing lagi bagi yang pernah mempelajari sejarah negeri ini. Berikut ini adalah sedikit gambaran umum atau ringkasan cerita dari roman Rumah Kaca ini:

Pada awal - awal kebangkitan negeri ini sekitaran tahun 1911 terdapatlah seorang komisaris polisi dalam pemerintahan kolonial hindia belanda bernama Jacques Pangemanann. Ia adalah orang pribumi berdarah manado yang diambil anak angkat oleh orang prancis. Ia mendapatkan pendidikan dan pandangan eropa. Ia bekerja untuk pemerintah Kolonial. Pangemanann, dalam pemerintahan kolonial ditugasi oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda untuk mengawasi segala arah gerak dari kebangkitan perlawanan orang pribumi yang tak lagi menggunakan senjata fisik namun mulai dengan kesadaran intelektual. Adapun pelopor dari pergerakan tersebut adalah seorang bernama Raden Mas Minke (Tokoh utama pada 3 buku awal), seorang keturunan priyayi yang menjadi gerbong pergerakan tersebut. 

Pangemanann ditugaskan agar dapat menghentikan upaya dari Raden Mas Minke yang terus berupaya memperluas pengaruh pemikirannya kepada pribumi melalui kegiatan organisasinya (Syarekat dagang islam) serta jurnalistik. Yang mana ini adalah kekhawatiran utama dari pemerintah hindia belanda. Berbagai intrik dilakukan oleh pangemanann untuk menghentikan langkah Minke namun tak kunjung berhasil juga, Hingga akhirnya Minke ditangkap dan diasingkan ke Maluku atas surat perintah dari pemerintahan kolonial. Meskipun Minke diasingkan, namun diluar dugaan pergerakan yang dipikirnya akan berahir dengan ketiadaan pemimpinnya, ternyata malah semakin bertambah saja arus pergerakan tersebut dan semakin luas merambah ke daerah daerah lain di pulau jawa. 

Setelah tugas pengasingan tersebut pangemanann mendapatkan promosi jabatan menjadi staff ahli pemerintahan. Dan pada jabatan inilah ia menjadi semakin liar dan licik dalam menjalankan perintah kolonial belanda. Di jabatan inilah ia memainkan peranan sebagai seorang dalang dan otak dalam berbagai percaturan permainan kotor untuk menumbangkan pergerakan organisasi pribumi tersebut. Dari sinilah istilah Rumah Kaca tersebut diambil. Ya, dari ruangan kerjanya tersebut seolah olah ialah yang menggerakkan dan mengendalikan berbagai pergolakan yang terjadi di organisasi pribumi dan mengawasi segala gerak tingkah pemimpin organisasi tersebut. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, berbagai organisasi mulai muncul dimana-mana dan ini menjadi tugas berat bagi pangemanann. 

Memang pangemanann dapat berhasil melumpuhkan pimpinan - pimpinan organisasi yang menentang, namun seolah sia sia belaka. Sebab pergerakan tersebut tak pernah berhenti dan rakyat pribumi pun sudah semakin sadar akan hak-hak hukumnya. Semakin lama pangemanann semakin dibuat frustasi oleh keadaan tersebut. Tahun demi tahun berlalu hingga akhirnya selesai juga masa pengasingan minke di maluku, namun sungguh tragis nasib minke karena sesampainya di batavia ia baru menyadari bahwa berbagai aset pribadi maupun perusahaan yang dimilikinya ternyata telah berpindah tangan karena dibekukan oleh pemerintah hindia belanda. Hingga akhirnya ia meninggal karena sebab yang kemungkinan diracun oleh seseorang dan tak tertolong lagi. Dan pada saat yang sama setelah beberapa tahun sejak bergantinya gubernur jendral, tugas pangemanann semakin sedikit karena kebijakan Gubernur jendral yang baru sangat bernuansa politis dan mengambil jalan damai dalam tiap langkahnya. Sehingga ia merasa semakin tak berguna dan tentu semakin tua sebab usia. 

Dan pada bab - bab terakhir nya diceritakan bahwa kondisi pangemanann semakin memburuk ditambah dengan datangnya sanikem dari prancis yang menanyakan keberadaan Minke. Dan disinilah pangemanann menyesali berbagi tindakan buruknya tersebut. Ya dalam Roman ini pergolakan pribadi memang menjadi bumbu-bumbu menarik dalam alur ceritanya. Adapun roman rumah Kaca ini ditutup dengan kata-kata yang sangat indah yakni "Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles" Dia Rendahkan mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina.

Ya itulah sedikit gambaran mengenai Roman Rumah kaca karya Pramoedya Ananta Toer ini. Keseluruhan secara pribadi menurut saya, ini merupakan karya yang sangat layak untuk dikoleksi. Selain menghayati akan keindahan sastra disini kita juga dapat belajar akan sejarah negeri ini dengan lebih menyenangkan. Dan saya kira banyak dari koleksi buku saya yang terlibas habis dari segi kualitas oleh buku ini. Somoga sedikit resensi ini bisa menjadi pertimbangan sebelum masuk dalam daftar baca / beli anda.

Tuesday, December 1, 2015

Resensi Roman Merantau Ke Deli - Buya Hamka

Sumber gambar Gema Insani

Novel ini merupakan salah satu novel klasik yang dibuat buya hamka pada sekitar tahun 1939 dan dimuat pada sekitaran tahun 1940-1941. Kisah roman ini merupakan salah satu cerita yang sangat menarik disamping novel lain karangannya semisal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Roman ini mengangkat isu tentang adat minang masa itu, poligami dan kebiasaan sosial di daerah perantauan. Dalam pembukaan buku ini, Buya Hamka mengisahkan bahwa cerita pada roman ini terilhami pada keadaan sosial masyarakat kala itu di daerah deli yang mana merupakan sebuah kota yang memiliki kegiatan ekonomi yang cukup maju yang menjadikannya magnet bagi para perantau.

Roman ini menceritakan kehidupan seorang bernama Leman, seorang pedagang kain muda dari Minangkabau yang mengadu nasib di perantauan (Deli). Di kota inilah ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Poniem. Poniem adalah seorang bekas pekerja perkebunan dan karena ia cantik maka ia menjadi istri simpana dari mandor kebun. Di area perkebunan inilah mereka bertemu, ketika Leman berjualan, sedang poniem tentu saja dikenal karena seorang istri dari mandor. 

Setelah bertemu beberapa kali Leman menaruh hati kepada poniem dan Ia ingin memperistrinya. Ia tidak peduli dengan status Poniem yang sebagai istri mandor dan ia adalah orang Jawa ( inilah yang akan menjadi masalah dikemudian hari). Awalnya Poniem menolak karena takut akan nasibnya, ia tahu betul adat minang dan ia tak ingin senasib seperti perempuan lain yang menikah dengan pemuda minang yang akhirnya hanya diperah saja. Namun karena niat maupun rayuan Leman, akhirnya runtuhlah pendiriannya. Leman pun sebenarnya sudah dinasehati Bagindo kayo agar tak menikahi Poniem, namun leman tak mengindahkannya. Dan mereka Pun menikah.

Awal pernikahan mereka dirajut dengan mengupayakan membesarkan dagangan kain yang telah Leman rintis. Berkat kerja keras dan ketekunan keduanya, perlahan namun pasti makin besarlah toko mereka. Dan untuk membantu mengoperasikan kegiatan toko tersebut, Leman mempekerjakan seorang pemuda Jawa bernama Suyono. Hadirnya Suyonopun semakin memperbesar usaha Leman.

Mereka berdua hidup bahagia namun sayang, pernikahan yang hampir 5 tahun belum juga membuahkan seorang anak. Dan pada suatu ketika, mereka merencanakan untuk mengunjungi kerabat leman yang di minangkabau. Dan inilah awal segala permasalahan yang akan menghancurkan kehidupan rumah tangga mereka. Ketika di kampungnya, leman tergoda untuk menikah lagi sebab desakan sanak saudaranya. Karena bagi orang minang, menikah dengan orang selain minang adalah sebuah hal yang sangat tidak disarankan. Baiknya menikah dengan sesama orang minang saja. Selain karena adat, ada motif lain yang menyebabkan hal tersebut yakni karena leman adalah seorang pedagang kaya. Dan ternyata Lemanpun tak kuasa menahan godaan hawa nafsu mudanya ketika melihat gadis yang di tawarkan padanya. Mariatun gadis minang nan cantik dari keluarga terpandang.

Leman akhirnya menikahi Mariatun ( Ia melanggar sumpahnya untuk setia pada Poniem ). Poniem pun mengijinkan, meskipun dengan sangat berat hati, karena ia merasa Leman adalah satu- satunya pegangan hidupnya. Ia tak memiliki siapa – siapa lagi di dunia ini, hanya leman sajalah. Sedang mariatun sendiri menikahi leman tak lebih karena alasan materi semata. Setelah selang beberapa tahun pelan-pelan rumah tangga yang dimadu ini mulai memercikkan api dalam hubungan rumah tangga. 

Hal ini karena Leman tidak adil dalam memperlakukan Kedua istrinya terutama yang tertua. Kedua perempuan ini sering bercekcok mulut dan puncaknya adalah ketika Poniem bertengkar hebat memperebutkan sebuah kain dengan mariatun. Dan karena seperti membela mariatun atau memang ingin mebuang poniem. Leman memisah kedua perempuan tersebut dan yang tak disangka – sangka adalah ia menjambak Poniem, menendangnya dan yang menyakitkan adalah mentalak 3 istri pertamanya tersebut. Dan poniem tanpa pikir lagi, ia segera meninggalkan leman, Suyono tak tega melihat hal tersebut dan iapun menyusul poniem ke Medan.

Setelah kepergian kedua orang jawa tersubut, surutlah usaha Leman. Besar pasak daripada tiang. Ia insyaf bahwa selama ini yang banyak berjasa besar membesarkan usahanya adalah Poniem dan Suyono. Namun bagaimana, Nasi sudah menjadi bubur. Sesal panjang dirasainya.

Tahun berlalu dan keadaan pun berganti. Melihat keadaan poniem yang ddemikian Suyono menaruh simpati pada poniem. Ia ingin menikahi poniem, meskipun poniem usianya jauh lebih tua darinya dan mengabaikan hal – hal lainnya. Kemunngkinan karena ia ingin menolong janda tersebut. Dan menikahlah mereka, dan keadaan sekarang berbalik. Mereka berdua semakin naik berkat kerja keras, cermat dan hemat dalam menjalankan usahanya. Sedangkan Leman makin terpuruk dengan utang-utangnya.

Pada suatu hari suyono dan poniem berencana membeli sebidang tanah, dan diptuskanlah untuk membeli tanah di tempat dulu mereka tinggal di deli. Disana bertemulah antara mereka berempat Poniem,suyono,leman, dan mariatun. Keadaan telah terbalik. Sungguh melihat kenyataan tersebut bahwa orang yang dulu dihina dan dibuangnya kini telah berganti kulit. Sungguh leman tak kuat hati menahan malu dan terlebih ia tak ingin harga dirinya tercoreng dengan kebaikan kedua orang ini. sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Minangkabau.

Kisah dalam novel ini sangat mengharukan, banyak hikmah – hikmah kehidupan yang bisa diambil. Dan tentu saja ini adalah salah satu daftar favoritku yang baru. semoga Resensi Novel Roman Merantau ke Deli ini bisa memberi informasi tambahan sebelum anda membeli Buku ini. secara pribadi Novel Roman karya buya hamka satu ini sangat rekomended.
           


Saturday, November 21, 2015

Little Darling

Kenapalah acapkali seseorang bergelimang duka dengan masa lalu. Kesedihan, ratapan hingga perih tak bermuara kadang harus di lalui dalam diri. Namun, apakah yang membuat semua itu layak dan memiliki arti. Tak sedikitpun kecuali hanya berakhir pada dada sesak membungkus lara itu tadi. Masa lalu serupa kenangan, suka maupun tidak ia akan selalu mengikuti setiap jalan hidup meskipun kau berlari sampai ke ujung langit, takkan pernah mampu untuk menghindarinya. Terima sajalah lalu biarkan terlepas.

Sore itu di jalan selatan kota Jogja, Terlihat iring – iringan tiga bus berukuran sedang yang membawa rombongan mahasiswa yang hendak menjalani makrab jurusan. Mereka adalah mahasiswa jurusan Geografi dari sebuah kampus negeri di Kota Jogja. Bus–bus tersebut mengarah ke pantai parangkusumo. Hari sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika rombongan tersebut sampai di lahan parkiran. Perlahan satu persatu pintu bus terbuka, terlihat pertama orang yang keluar itu adalah seorang Pemuda berusia sekitar 21 tahunan dangan seragam kaos polo merah yang membawa backpack kecil. Perawakannya sedang dengan wajah khas orang melayu. Dialah Danis, mahasiswa semester 5 dari palembang. Dialah yang mengetuai acara ini. Dari raut mukanya dia nampak orang yang Calm.

Semua peserta serta panitia telah turun dari bus, segeralah mereka berbaris rapi menuju gumuk pasir parangkusumo yang lokasinya tak begitu jauh dari parkiran tersebut. Ada 80 peserta serta 50 panitia dalam acara ini. Para peserta terlihat riang-riang saja, ini tidak lebih adalah acara makrab kekeluargaan dan tak ada kekerasan sama sekali.

Sejak Turun dari Bus Danis tak banyak bicara, ia hanya berkata seperlunya saja memberikan instruksi kepada seluruh panitia dan ketua lapangan acara ini, karena semua pekerjaan teknis memimpin acara sudah diplotkan ke Jordan Sebagai Ketua lapangan. Tak ada pekerjaan teknis baginya sore itu. Jadi ia lebih banyak untuk mengawasi teman – teman panitia dari kejauhan. Semua peserta beserta pendamping terlihat berbaris rapi menuju lokasi perkemahanr. Kala itu ia berada di belakang dan sengaja memautkan diri agak jauh dari rombongan. Ia berjalan santai menikmati matahari sore yang perlahan – lahan mulai menampakkan cahaya keemasan. Angin pantai pun tak mau kalah, ia berhembus cepat menembus pohon – pohon cemara yang tumbuh sepanjang jalan. Bulan september adalah salah satu moment yang bagus untuk melihat keindahan sunset di pantai ini.

Dari arah belakang terdengar suara motor mendekat ke arahnya, Danis masih terpesona dengan keindahan sore Parangkusumo. Semakin dakat tiba–tiba ia dibuat kaget oleh suara klakson motor tersebut.

tiiit titt

“Sialan” gerutu danis dalam hati, kemudian ditengoknya arah belakang.
“Mas Danis, Jangan kebanyakan nglamun lo” suara seorang perempuan
Ternyata Risa, panitia konsumsi. Mahasiswi semester 3 dari Bandung
“Butuh boncengan ga Mas” sapanya dengan wajah ceria
“Duluan saja Ris” jawab Danis dengan senyum yang dipaksakan
“Okelah Mas, daaa” Risapun berlalu mengejar rombongan

Percaya atau tidak, telah lama diam–diam Risa menaruh hati pada Danis semenjak mengenal pemuda itu semenjak Ospek. Namun sayang gayung itu belum bersambut jua, namun Risa tak pernah padam. Ia hanya mencoba menaruh harapan.Danispun sebenarnya sudah mengetahui bahwa Risa menaruh hati padanya, namun ia tak memberi tanggapan apapun akan hal tersebut.

Entahlah Mengapa suasana sore itu membawa pikiran Danis pada seorang perempuan yang telah membekukan hatinya. Seseorang bernama Indah yang hadir pada tahun terakhir SMA. Seseorang yang mampu membuat Danis rela melakukan apapun dan yang telah membuat hatinya gelap diliput kabut. Apalah yang istimewa dari Indah pikirnya. Rasa benci ataukah masih ada perasaan padanya. Ia sendiri masih kabur memahami ini. Bukankah di Jogja ribuan mahasiswi cantik menjamur di tiap – tiap sudut. Lagipula soal penampilan dia juga tidak begitu jelek, malah banyak lawan jenis yang memuji tampangnya. Kadang ia menertawai dirinya sendiri. Sungguh konyol, tapi begitulah kenyataannya.

Malam itu cuaca cerah, langit malam berhias bulan sabit bersama bintang – bintang kemilauan menampakkan keindahannya. Semua peserta terlihat membentuk sebuah lingkaran besar di gumuk pasir malam itu. masing masing dari mereka membawa senter dan di tengah lingkaran tersebut tersulut puluhan lilin besar yang berlindungkan cerobong kaca  membentuk piringan besar seperti api unggun. Malam sudah nampak sepi, meskipun waktu baru berada pada angka 9 malam. Yang terdengar hanyalah suara semilir angin malam dari laut selatan. Sudah saatnya acara perenungan, dimana sehabis matahari tenggelam hingga sekarang mereka telah melakukan bermacam kegiatan seperti games serta solidarity time yang lumayan menguras tenaga.

Sang pembawa acara sudah berada di tengah lingkaran, ia sepertinya sudah bersiap dengan berbagai cerita maupun gombalan sandiwara untuk disuguhkan kepada mahasiswa – mahasiswa tersebut seperti tahun-tahun sebelumnya. Danis beserta panitia lain berada dibelakang peserta. Mungkin ini akan sedikit memberikan hiburan baginya. Tak jauh, terlihat Risa yang dari tadi mencuri pandang pada Danis. Dilihatnya Danis Malam itu dengan samar–samar, wajah yang tertampak cahaya lilin itu begitu memesona hatinya. Lain halnya dengan Danis yang pandangannya  tertuju pada lilin–lilin di tengah sana. Ia sibuk bergumul dengan pikirannya.

Mengapa dulu kukenal Indah, mengapa ku mengenalnya dan bodohnya mengapa ku mencintainya. Mengapalah ia tak mau pergi dari pikiran ini, apalah yang salah denganku ini ? banyak wanita yang menanti, namun tetap saja perempuan satu ini selalu datang membayang” Pikirannya masih menerawang, sampai beberapa saat sebelum tersadar kembali logikanya.

Terdengarlah suara pembawa acara yang mencoba membuat suasana menjadi lebih hening dan Khidmad ”....terimalah masa lalu yang sudah terlampau, biarlah ia mengalir ke muara, jangan kau halangi jalannya dengan egomu. hidupmu adalah sekarang, bahagiamu ada di depan ...”kata pembawa acara.

Betapa bodoh seorang lelaki memikirkan perempuan yang berkhianat, betapa bodoh seorang lelaki yang bergelut dengan perasaan menciutkan, betapa bodoh lelaki yang lupa akan rahmat sekarang dan harapan masa depan, Oh God. How stupid me....”

Setelah perenunungan, seluruh peserta di persilahkan untuk istirahat sembari menunggu jam 12. Mereka diminta untuk tidur di lautan pasir ituataupun kalau tidak bisa menikmati suguhan langit malam. Semua panitia mulai bersiap untuk kegiatan selanjutnya, yakni perjalanan menuju bukit Gupit. Bukit ini berada di sebelah timur parangtritis dan memerlukan waktu tempuh berjalan kaki selama satu jam dari parkir kendaraan. Beberapa diantara panitia sudah sibuk mempersiapkan pos dalam perjalanan. Semua panitia yang tidak mendampingi peserta mulai berjalan duluan untuk menempati pos mereka. Dan kebetulan Danis dan Risa menempati pos yang sama di pos terakhir yang ada di dekat puncak Gupit.

Mereka berjalan beriringan bersama teman teman panitia yang lain, mereka memilih berjalan dibelakang. Awalnya risa terlihat bersemangat untuk memperturut rute jalan yang lumayan terjal dan panjang itu, ia beberapa langkah didepan Danis ingin mengejar teman yang lain. Danis terheran, sungguh lucu melihat tingkah perempuan di depannya ini, ia hanya senyum-senyum sendiri di perjalanan itu, namun senyum itu tersamarkan oleh gelap malam tanpa penerang. Risa tak mengetahui hal tersebut. Beberapa saat kemudian dilihatnya risa berhenti berjalan. Dilihanya ia nampak kelelahan mendaki jalan bukit tersebut. Nafasnya terengah - engah.

“Mas, pos kita masih jauh tidak ?” katanya
“masih lumayan Ris” jawab Danis dengan senyum tersamar
“Lumayan jauh ?”
“ya begitulah, masih ada tiga tanjakan lagi” jawab danis
“Mampus”

Mereka berdua mulai jalan lagi, Danis berjalan santai saja. Beberapa teman panitia sudah menempati pos mereka masing - masing. Risa ada di depan, tak berselang lama ia kembali berhenti.

“Mas, istirahat aja dulu ya, sumpah capek banget”
“tinggal satu tanjakan Ris, nanggung banget berhenti disini” jawab Danis terkekeh
“aduh, sebentar ajalah mas”
“di depan situ pemandangannya bagus lo, pos kita ada di situ”
“huh...” gerutu risa mulai melangkahkan kaki. Ia terpaksa daripada ditinggal sendirian

Merekapun kembali berjalan menapaki tanjakan terakhir, risa tak mau kalah ia tak ingin dianggap lemah, ia berjalan buru – buru didepan.
“santai aja Ris”

Danis tersenyum saja. Dan kemudian teringat kebajikan bahwa kala mendaki sebuah gunung ataupun yang serupa, akan terlihat bagaimana sifat asli orang tersebut. Ia melihat tingkah Risa yang kelihatan childish itu dan tak sadar bahwa perlahan timbul benih suka dihatinya. Segeralah Danis mendekati Risa yang berjalan semakin melamban karena terengah – engah.

“Biar aku yang bawa ranselmu” sergah Danis mengambil tas Risa di punggungnya. Risa tak menjawab, ia hanya menunduk kelelahan dan sepertinya mengiyakan. Ia berpikir sejenak apakah ini sinyal dari Danis.

Tanjakan terakhir memang yang paling berat, Risa seolah sudah tak mampu lagi berjalan

“Masih jauh mas ?”
“Udah deket kok, santai aja ris, Gak usah terburu – buru”

Tiba–tiba Risa menggamit lengan Danis untuk berpegangan, dirasainya lengan dan jari pemuda itu. Danis hanya diam, pikirannya mencair seolah kebekuan masa lalunya mencair seketika itu juga. Digenggamnya erat tangan Risa dan dibantunya ia naik keatas. Dan tak berselang lama sampailah mereka di pos puncak. Sembari menunggu kedatangan peserta ke pos mereka menjulurkan kaki di dekat tebing itu menikmati keindahan kerlap kerlip lampu kawasan parangtritis yang begitu indah dari bukit atas sana.

Hati itu telah mencair

Menjelang pukul 2 malam, terlihat dalam bayang-bayang berlatarkan cahaya kerlipan lampu, Dua sosok tersebut telah bersanding dalam sebuah ikatan perasaan. Mungkin memang sudah saatnya untuk melepaskan yang telah berlalu.

Dan pagi itu mentari tampak begitu indah, dan semua peserta seolah tersenyum dipagi itu kepadanya. Entahlah...


(Terinspirasi dari lagu The beatles - Here Come the Sun)