Saturday, September 3, 2016

Sedikit Cerita KL 2 Bayat 2016

Malam sebelum Balik KL (Rowo Jombor)

Klik link untuk memutar Musik Latar (Tulus-Monokrom)

Setelah berjuang selama lima belas hari untuk menakklukkan perbukitan Jiwo dan Pegunungan Selatan, tiba pulalah pada penghujung cerita. Hari Jumat pagi (3/9/2016) menjadi hari yang kiranya begitu Sentimental, KL 2 Bayat telah usai dan kami akan bersiap kembali ke kota Jogja lagi. Ku yakin banyak diantara teman-teman peserta KL 2 pagi itu yang masih memutar video kenangan di memori masing - masing. Ya pagi ini memang menjadi akhir sudah. Masihlah tergambar dengan jelas kemarin hari, saat menghadapi pendadaran. Wajah - wajah tegang,panik,takut atau semacamnya terlihat disana sini. Kini mereka semua telah membawa ransel dan koper masing-masing bersiap untuk menaiki bus penjemputan. Wajah - wajah lelah berlukis kerinduan tersirat di mana-mana. Ya, KL 2 benar-benar sudah usai.

Teringat, Sore kemarin hari sehabis pendadaran diadakan lomba sepak bola untuk peserta putra dan lomba Volly untuk peserta Putri. Suasana begitu santai dan riuh disana sini. Aku yang duduk santai di teras pintu gerbang selatan SD krakitan melihat banyak wajah sumringah sore itu, ada yang sedang berkejar-kejaran mengejar bola sepak, ada yang heboh menjadi suporter tim, ada pula rombongan cewek yang tak mau kalah gila - gilaan main volly dan beberapa pula yang bercengkerama di warung pojok selatan untuk sekedar bertegur sapa dengan sesama yang lainnya ataupun menikmati minuman segar. 

Jam telah menunjukkan pukul 5 sore, aku bersama beberapa kawan dekat pergi ke Rowo jombor untuk menikmati sunset sore di sana. Ada Wandi, Haidir, Gerry, Rian ,Sigit dan Welly. Meskipun datang disaat matahari tinggal beberapa menit saja akan tenggelam namun sore itu menjadi sore yang berarti untuk berkenang dalam rangkaian KL ini. Cukup lama kami mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Dari spot perahu kayu kemudian berpindah cukup jauh di jembatan bambu di tengah Rowo. Disana kami berjumpa dengan Puji,Bili dan Galih. Ya, meskipun dalam keseharian kuliah kita terpisah dengan kesibukan masing-masing. Setidaknya beberapa foto bisa menjadi kenangan yang menyatukan kami semua agar kelak menjadi buah tutur yang tak terlupakan. Magrib hari itu begitu memang begitu indah. 

Tak berakhir di situ, pukul 19.30 sesudah makan malam dengan menu yang super banyak. Acara dilanjutkan dengan penampilan dari masing-masing barak dalam berkesenian. Yang lucu adalah penampilan dari barak 1, mereka menampilkan tari kecak dengan john (12) sebagai leak nya, sumpah itu perform paling kocak dari kesemua barak. Barak 2 menampilkan choir dan goyang itik yang di pandu oleh acing dan hasta yang vulgar . Barak putri menampilkan tarian yang aku sendiri tak paham apa maksudnya, namun menghibur bagi para peserta Putra. Dan barak ku sendiri (barak 3) menampilkan perform lagu yang dikomandoi haidir yang pandai menyampaikan kata-kata persuasif untuk menutup perform malam itu dan terlebih menutupi kekurangan perform dari barak kami. Dan benar, kata-kata dari haidir ini seperti membawa mantra ajaib sebab setelah kata-kata itu diucapkan, teman-teman dalam ruangan kulihat lebih menghayati bahwa perform malam ini bukanlah ajang untuk berkompetisi melainkan malam untuk merayakan dan menikmati moment kebersamaan yang kedepan memang tak akan terulang kembali. Semua audience menikmati perform dari barak kami yang tampil seadanya dan sepertinya menjadi perform penutup yang bermakna. 

Setelah itu acara dilanjutkan dengan pembacaan ranking nilai teratas peserta KL 2 tahun ini. Syukurlah saudaraku (Wandi) masuk 5 besar, ia berada di ranking 5. Ia kurasa memang layak menerima penghargaan itu. Aku tahu, ia telah berusaha keras untuk itu. Sedang aku sendiri berdasarkan penghitungan nilai berada di urutan 9, turun 4 grade dari KL 1 yang ada di peringkat 5. Ya, pelajaran yang berarti bagiku. Bahwa orang lain terus memacu dirinya untuk berproses. Jangan lengah dengan prestasi maupun kemampuan yang dimiliki saat ini. banyak hal yang bisa ditingkatkan.harus berlari lebih kencang lagi.

Terima kasih semuanya, kenangan KL 2 ini tak akan pernah kulupakan. Dan semoga kita semua sukses dengan impian dan cita-cita masing masing. Terkhusus buat teman-teman yang selalu ada disekitar saat acara KL 2 ini (Haidir, Wandi, Sigit, Gerry, Rian dan Hamzah) semoga ini bukan menjadi saat terakhir kita untuk bersama. meskipun jalan kedepan memang menjadi tumpuan diri sendiri, entah Seminar, KKN, ataupun Tugas akhir. Semoga silaturahim tetap terjaga agar ikatan ini tak pudar termakan oleh waktu.

Aku akan selalu merindukan moment ini kawan. Dan aku yakin kalian semua akan jadi orang besar di kemudian hari.

Monday, August 8, 2016

Resensi Roman Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer


Buku ini merupakan buku pertama dalam Tetralogi Roman yang dibuat saat Pram berada di pengasingan (Pulau Buru). Buku yang selesai dibuat pada 1975 ini merupakan salah satu karya terbaiknya yang begitu melegenda. Berisi sekitar 545 halaman, buku ini menyajikan bumbu-bumbu pengalaman historis,roman,humanisme serta keadilan yang begitu menarik dan memikat untuk dibaca. 

Adapun Kisah di dalamnya adalah tentang perjalanan hidup seorang Anak Bupati dari sebuah kabupaten di Jawa Timur (B/Bojonegoro), seorang pelajar tingkat akhir H.B.S. Surabaya (setingkat SMA) bernama Raden Mas Minke. Mengambil sudut pandang orang pertama (Minke) pada kisaran tahun 1900an pada zaman kolonial hindia belanda. Kisahnya demikian:

Minke merupakan pelajar tahun terakhir di H.B.S. Surabaya. Ia memiliki seorang teman sekolah (belanda) bernama Robert suurhoof. Suatu hari ia diajak olehnya untuk berkunjung kesebuah rumah yang menurut cerita desas desus merupakan tempat tinggal seorang Nyai (Simpanan Orang belanda) yang terkenal angker. nyai itu memiliki anak yang begitu cantik. Dan Robert menantang minke untuk bertaruh mendapatkan gadis anak nyai itu. Sebenarnya minke agak segan untuk datang namun karena ini tantangan, tak ada salahnya untuk dicoba. Minke tahu sebenarnya ia hanya akan dikerjai robert namun kiranya tak apa dengan reputasinya sebagai playboy.

Pada hari yang telah ditentukan datanglah mereka ke rumah nyai tersebut. Dari sinilah semua kisah dari buku ini dimulai. Di Rumah itu tinggallah Seorang Nyai bernama sanikem (Nyai Ontosoroh) istri tidak syah dari Herman Mallema (orang belanda), Annelies mallema, dan robert mallema serta seorang asisten dari Nyai ontosoroh bernama Darman. 

Nyai Ontosoroh dalam buku ini digambarkan sebagai seorang wanita pribumi yang begitu berani, tangguh,pekerja keras dan berpendidikan (meskipun ia tak pernah sekolah). Berbeda dari nyai - nyai pada umunya yang selalu di cap negatif. Ia adalah pimpinan dari perusahaan milik Herman Mallema. Yang sejak lima tahun terakhir mengalami gangguan jiwa, sehingga segala urusan perusahaan milik belanda itu dikelola olehnya bersama putri nya (annelies). Dibalik sikapnya yang luar biasa tersebut, Wanita tersebut menyimpan pesakitan (batin) luar biasa akibat masa lalunya. Ia begitu dendam dan benci dengan keluarganya karena menjualnya ke Herman mallema saat ia masih gadis. Dan ia sangat Anti dengan Belanda. 

Dari hubungan yang tidak syah antara Herman Mallema dan Sanikem tersebut lahirlah 2 anak Indo (Robert mallema & Annelies mallema). Robert adalah anak pertama dimana ia begitu bangga menjadi belanda dan membenci pribumi (meski dalam darahnya mengalir dalah pribumi) sedang annelies malah ingin jadi pribumi seperti ibunya. Kisah robert dalam buku ini tak begitu banyak disinggung, sedangkan Annelies gadis yang begitu cantik parasnya ( menyerupai ratu belanda yang baru dilantik ) ini adalah seorang gadis manja namun pandai bekerja yang kesepian dan merindukan cinta. awalnya Minke mendekati gadis ini karena tantangan dari Suurhoof namun entah apa gerangan seperti gayung bersambut ternyata annelies juga menyukai Minke.

Sejak kedatangan Minke kerumah tersebut annelies sering sakit karena merindukan minke dan singkat cerita Minke diminta oleh Nyai Ontosoroh untuk tinggal di sana bersama annelies. sebab Annelies selain sebagai anak, ia juga merupakan Orang yang penting bagi kelangsungan usaha Nyai Ontosoroh sehingga kesembuhannya adalah mutlak. Sebab hal tersebut terdengarlah desas desus akan minke yang mana menurut umum tindakannya kurang patut. Seorang terpelajar hidup dirumah Nyai-nyai, apalagi ia anak seorang Bupati. Dan semenjak itu ia dijauhi oleh kawan sekolahnya karena hasutan dari Suurhoof yang iri dengannya karena mendapatkan annelies, namun Minke tak ambil pusing dengan itu. Hingga akhirnya ia mendapat isu akan dibunuh oleh Kakak Annelies yang membenci pribumi. Dan minke pun menghindar untuk tak tinggal di rumah nyai itu lagi. Sehingga annelies kembali sakit-sakitan karena obsesinya pada Minke yang berlebihan itu. Tapi beberapa waktu berselang akhirnya mereka berdua kembali bersama dan beberapa bulan kemudian menikah setelah kelulusan Minke Dari H.B.S.

Pada Suatu waktu timbullah persoalan bahwa perusahaan Nyai ontosoroh yang memang sebelumnya merupakan perusahaan dari mendiang suaminya (mati diracun seorang tionghoa) menerima gugatan dari anak Sah Herman mallema dengan istrinya yang tinggal di belanda. Disinilah perjuangan dan usaha dilakukan dengan segala upaya untuk menggagalkan upaya tersebut. Sebab menurut Nyai Ontosoroh, perusahaan tersebut sudahlah menjadi miliknya sebab sudah lama si Herman mallema itu menelantarkan perusahaan, sedang yang menangani dan mengembangkan usahanya sehingga besar selama ini hanyalah ia bersama annelies semata. Minke pun tak tinggal diam, dengan keahlian profesional dalam jurnalistik. Ia melakukan perlawanan dengan tulisan-tulisannya. Segala daya upaya dikerahkan oleh Nyai Ontosoroh dan Minke, namun sayang pribumi selalu disalahkan dalam hukum belanda yang tidak adil. Dan akhirnya perusahaan pun disita oleh pengadilan belanda sedangkan Annnelies harus dipulangkan ke Belanda. sebab menurut hukum belanda ia adalah orang belanda, bukan pribumi. meskipun jikalau bisa memilih, Annelies lebih bahagia untuk menjadi pribumi saja. sehingga bisa membersamai Ibu kandung dan suami tercintanya.

Cerita dalam buku ini begitu indah,menarik dan berbobot. Penggunaan tata bahasa dan pemilihan kata begitu baik sehingga memudahkan memahami alur ceritanya serta enak untuk dibaca. Banyak sekali nilai dan pesan pesan bernuansa humanisme dalam Roman ini. Sungguh ini merupakan karya yang layak untuk dibaca dan dikoleksi. Demikianlah, semoga sedikit resensi ini bisa menjadi gambaran awal sebelum anda untuk membeli buku aslinya.

Wednesday, August 3, 2016

Apa itu Gladi Bumi ?

Ketika menjadi mahasiswa baru tentu yang bakalan ada dalam pikiran kita adalah Ospek. Ya ospek merupakan sarana untuk memperkenalkan mahasiswa baru mengenai apa-apa saja yang ada di kampus tersebut. Tujuan diadakannya ospek sebenarnya baik, namun mungkin selama ini ada beberapa orang yang memanfaatkan masa-masa ospek untuk hal - hal yang kurang terpuji. Sehingga kerap terdengar bahwa ospek diidentikan dengan perpeloncoan. meskipun dalam kenyataannya tidak sepenuhnya benar.

Sekedar sharing saja bahwa di lingkungan STTNAS, Ospek ada dua Jenis, pertama Ospek dari pihak kampus dan yang kedua dari Jurusan / Himpunan masing - masing. Untuk ospek yang dari pihak kampus, biasanya dilakukan di awal - awal sebelum jadwal kuliah dimulai (Sekitaran akhir Agustus / awal bulan September). sedangkan untuk pihak himpunan (Teknik Geologi) biasanya saat liburan UTS (Oktober-an). Sedangkan untuk jurusan lain sepertinya berbeda jadwalnya.

Ospek untuk jurusan Teknik geologi STTNAS biasa disebut GLADI BUMI. FYI, Gladi Bumi adalah salah satu acara penting sebelum kamu masuk kedalam Himpunan, karena memang untuk menjadi bagian dari Himpunan mahasiswa teknik geologi STTNAS ini itulah syarat mutlaknya. Oh iya, nama untuk HMTG di STTNAS ialah "BUMI". 

HMTG "BUMI" sendiri adalah organisasi jurusan yang menghimpun mahasiswa Teknik Geologi di STTNAS. Dimana di dalam organisasi inilah nantinya teman - teman bisa belajar banyak dalam berorganisasi serta mengembangkan kemampuan sesuai dengan bakat dan keahlian yang ingin / sudah dimiliki. Jikalau sudah mengikuti Gladi bumi dan dinyatakan lulus nanti teman-teman akan mendapatkan JABIG (jaket biru geologi) dan kalian mendapat sebutan JABIGER (Sebutan untuk anggota HMTG ''BUMI"). 

Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan ini selain untuk menghimpun anggota baru, disini pihak Himpunan ingin memperkenalkan akan gambaran mengenai dunia geologi lapangan secara umum. Sehingga teman-teman nanti tidak heran/kaget jikalau sudah menjadi orang geologi. Sebab sudah mengerti apa yang akan dilalui jika memilih jalan di bidang geologi. Dalam acara ini nanti teman-teman juga akan mendapatkan materi pembelajaran semacam kuliah lapangan sederhana oleh beberapa dosen perwakilan. Dan yang terpenting diharapkan dengan adanya acara ini bahwa semua anggota baru bisa selayaknya saudara, Satu hati dan seperjuangan. Agar kelak menjadi motor penggerak ilmu geologi pada umumnya dan himpunan Pada khususnya dalam kepengurusan selanjutnya.

Untuk Gladi Bumi biasanya dilakukan di daerah Parangtritis Selama 2,5 hari. gambaran acara ialah nanti teman-teman akan melakukan semacam foot trip lapangan yang akan didampingi oleh teman-teman Jabiger yang sudah berpengalaman sebagai pendamping dan pemandu jalan selama 2 hari (Nanti akan diberikan peta panduan perjalanannya). Nanti akan melewati berbagai keadaan geologi dan disana bisa melihat keadaan geologinya. Dan garis finisnya adalah di daerah parangtritis sebelah timur untuk mengambil JABIG. Setelah itu teman-teman resmi menjadi anggota HMTG"BUMI" dan kemudian 0,5 harinya teman - teman tinggal persiapan untuk pulang saja dan bisa menikmati suasana parangtritis. 

Itulah sedikit bocoran untuk kegiatan ini, banyak hal-hal yang luar biasa akan teman-teman dapatkan selama kegiatan ini. yang terpenting lakukanlah semua rangkaiannya dengan gembira dan pikiran terbuka. Kamu akan paham hal ini setelah lulus melewatinya. Dan bagi saya sendiri, tentu inilah salah satu moment dalam hidup yang susah terlupakan. Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat dari sedikit cerita dari tulisan ini. terima kasih dan selamat bergabung di himpunan kita.
Kalo ingin informasi selanjutnya bisa lihat di FB himpunan : Official Facebook HMTG"BUMI"

Tuesday, August 2, 2016

Jadi Maba di Teknik Geologi STTNAS / ITNY

Saat menulis ini aku sudah semester 7, jadi sebenarnya hanya ingin bagi cerita saja siapa tahu ada adik-adik yang lagi nyari info tentang kampus ini.

Aku daftar di STTNAS / ITNY pada tahun 2013. Setelah sebelumnya mengambil keputusan untuk resign dari tempat kerja di Kalimantan. Tiga tahun merantau untuk mengumpulkan dana kuliah. Setelah melewati berbagai pertimbangan, maka pilihanku adalah Teknik Geologi di STTNAS / ITNY. Awalnya aku benar-benar minim informasi tentang kampus ini, hanya bermodal browsing aja di komputer kantor tempat kerja serta informasi dari kawan SMA yang sudah kuliah disana. Dari Pontianak ke Jakarta, tiga hari di UI aku membatalkan niat untuk kuliah disana dan membulatkan tekat untuk memilih Jogja saja yang biaya hidupnya lebih terjangkau. 

STTNAS / ITNY merupakan salah satu perguruan tinggi di Jogja yang memiliki prodi Teknik Geologi, selain UGM,UPN Veteran dan IST AKPRIND. Lokasinya di Jogja bagian timur (meski secara administrasi masuk Kab.Sleman), tepatnya jalan Babarsari (Kawasan Kampus) yang populer di Jogja. Jurusan Geologi di kampus ini memposisikan diri sebagai Kampus Gunungapi jadi lebih mengarah ke Geologi mineral (Hardrock) meski demikian bagi yang suka Geologi Migas (Softrock) tetap ada dosen yang bisa diandalkan untuk bidang tersebut.

STTNAS / ITNY tiap tahun kurang lebih untuk jurusan teknik Geologi membuka kuota pendaftaran kurang lebihnya 100-150an mahasiswa. Beberapa tahun belakangan memang banyak yang berminat masuk ke sini dan sering over kuota pendaftaran. Cerita jadi maba, dulu masih ada perpeloncoan (dikerjain sama kakak tingkat). Namun setelah tahunku, ospek seperti itu sudah dilarang dan diganti dengan orientasi mahasiswa biasa yang cuma memperkenalkan seluk beluk kampus bahkan ada trip ke tempat wisata di sekitaran Jogja. Ospek sekarang lebih banyak pada kegiatan mendidik dan positif. Namun tak bisa dipungkiri pula kalo jadi maba memang harus tahu diri. Mentang-mentang ada pelarangan perpeloncoan, jadi seenaknya saja saat ospek melanggar ini itu.  

Dulu sebelum mutusin kuliah disini, saya dapat saran dari keluarga kalau"Kuliah dimana pun itu tergantung orangnya, mau negeri / swasta semua kembali ke pribadinya juga. Memang bila dibanding dengan negeri mereka akan lebih banyak fasilitas penunjangnya. Namun kuliah di negeri bukan jaminan. Yang menjadi jaminan adalah keseriusan kamu dalam kuliah itu sendiri dan berusaha proaktif untuk mencari sumber pembelajaran dimanapun". Kuliah bukan seperti SMA lagi yang semua diatur dan di jejali oleh guru dan orang tua. Saat Kuliah kamu memegang tanggung jawab akan dirimu, semua kamu yang menentukan dan mengarahkan.


Jadi jangan berkecil hati masuk di kampus swasta / PTS, apalagi di Jogja. Banyak sekali peluang dan kesempatan yang bisa kamu lakukan untuk mengembangkan diri. Mengenai Kampus STTNAS / ITNY, kamu gak perlu ragu banyak mahasiswa berprestasi di kampus ini. Info terbaru dari teman-teman Himpunan, tim Geologi kami menjadi juara 2 GEOSC 2016 (Tingkat Nasional) yang merupakan acara bergengsi tahunan dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), menyisihkan UGM di juara 3 dan kalah 1 point saja dari ITB sebagai juara 1. 

Malam Inagurasi 2015

Trip Ke museum di Prambanan

Saturday, July 30, 2016

Resensi Roman Rumah Kaca (Pramoedya Ananta Toer)



Bagi pecinta sastra di negeri ini, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Pramoedya Ananta Toer atau yang biasa dipanggil dengan Pram ini. Berpuluh judul buku telah dibuatnya, dan banyak diantaranya yang menjadi masterpiece dalam sastra Indonesia. Adapun salah satu karya luar biasa darinya adalah yang berjudul Rumah Kaca (House Of Glass).

Rumah kaca merupakan buku terakhir dari rangkaian tetralogi buku (Bumi manusia, Anak Semua Bangsa,Jejak langkah dan Rumah Kaca) yang ditulisnya saat pengasingan di pulau buru. Buku setebal 644 halaman ini mengangkat tentang kejadian sejarah pada awal - awal embrio terbentuknya negeri ini. Dengan mengambil sudut pandang cerita orang pertama dari seorang polisi-intelegent pemerintahan Hindia belanda berdarah manado bernama Jacques pangemanann yang menceritakan tentang sepak terjang bergeraknya kesadaran berpolitik dan berorganisasi di dalam negeri sekitaran tahun 1911-1919. Yang mana semua pergerakan tersebut berpusat pada seorang tokoh bernama Raden Mas Minke.

Dengan penuturan narasi kronologis yang apik serta penyajian cerita yang menarik dan mengalir, menjadikan buku ini tidak membosankan untuk dibaca meskipun buku ini termasuk tebal serta memuat tema berat. Menariknya kisah dalam buku ini disusun berdasarkan fakta-fakta sejarah negeri ini pada tahun-tahun tersebut. Dan nama-nama tokohnya pun juga tidak asing lagi bagi yang pernah mempelajari sejarah negeri ini. Berikut ini adalah sedikit gambaran umum atau ringkasan cerita dari roman Rumah Kaca ini:

Pada awal - awal kebangkitan negeri ini sekitaran tahun 1911 terdapatlah seorang komisaris polisi dalam pemerintahan kolonial hindia belanda bernama Jacques Pangemanann. Ia adalah orang pribumi berdarah manado yang diambil anak angkat oleh orang prancis. Ia mendapatkan pendidikan dan pandangan eropa. Ia bekerja untuk pemerintah Kolonial. Pangemanann, dalam pemerintahan kolonial ditugasi oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda untuk mengawasi segala arah gerak dari kebangkitan perlawanan orang pribumi yang tak lagi menggunakan senjata fisik namun mulai dengan kesadaran intelektual. Adapun pelopor dari pergerakan tersebut adalah seorang bernama Raden Mas Minke (Tokoh utama pada 3 buku awal), seorang keturunan priyayi yang menjadi gerbong pergerakan tersebut. 

Pangemanann ditugaskan agar dapat menghentikan upaya dari Raden Mas Minke yang terus berupaya memperluas pengaruh pemikirannya kepada pribumi melalui kegiatan organisasinya (Syarekat dagang islam) serta jurnalistik. Yang mana ini adalah kekhawatiran utama dari pemerintah hindia belanda. Berbagai intrik dilakukan oleh pangemanann untuk menghentikan langkah Minke namun tak kunjung berhasil juga, Hingga akhirnya Minke ditangkap dan diasingkan ke Maluku atas surat perintah dari pemerintahan kolonial. Meskipun Minke diasingkan, namun diluar dugaan pergerakan yang dipikirnya akan berahir dengan ketiadaan pemimpinnya, ternyata malah semakin bertambah saja arus pergerakan tersebut dan semakin luas merambah ke daerah daerah lain di pulau jawa. 

Setelah tugas pengasingan tersebut pangemanann mendapatkan promosi jabatan menjadi staff ahli pemerintahan. Dan pada jabatan inilah ia menjadi semakin liar dan licik dalam menjalankan perintah kolonial belanda. Di jabatan inilah ia memainkan peranan sebagai seorang dalang dan otak dalam berbagai percaturan permainan kotor untuk menumbangkan pergerakan organisasi pribumi tersebut. Dari sinilah istilah Rumah Kaca tersebut diambil. Ya, dari ruangan kerjanya tersebut seolah olah ialah yang menggerakkan dan mengendalikan berbagai pergolakan yang terjadi di organisasi pribumi dan mengawasi segala gerak tingkah pemimpin organisasi tersebut. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, berbagai organisasi mulai muncul dimana-mana dan ini menjadi tugas berat bagi pangemanann. 

Memang pangemanann dapat berhasil melumpuhkan pimpinan - pimpinan organisasi yang menentang, namun seolah sia sia belaka. Sebab pergerakan tersebut tak pernah berhenti dan rakyat pribumi pun sudah semakin sadar akan hak-hak hukumnya. Semakin lama pangemanann semakin dibuat frustasi oleh keadaan tersebut. Tahun demi tahun berlalu hingga akhirnya selesai juga masa pengasingan minke di maluku, namun sungguh tragis nasib minke karena sesampainya di batavia ia baru menyadari bahwa berbagai aset pribadi maupun perusahaan yang dimilikinya ternyata telah berpindah tangan karena dibekukan oleh pemerintah hindia belanda. Hingga akhirnya ia meninggal karena sebab yang kemungkinan diracun oleh seseorang dan tak tertolong lagi. Dan pada saat yang sama setelah beberapa tahun sejak bergantinya gubernur jendral, tugas pangemanann semakin sedikit karena kebijakan Gubernur jendral yang baru sangat bernuansa politis dan mengambil jalan damai dalam tiap langkahnya. Sehingga ia merasa semakin tak berguna dan tentu semakin tua sebab usia. 

Dan pada bab - bab terakhir nya diceritakan bahwa kondisi pangemanann semakin memburuk ditambah dengan datangnya sanikem dari prancis yang menanyakan keberadaan Minke. Dan disinilah pangemanann menyesali berbagi tindakan buruknya tersebut. Ya dalam Roman ini pergolakan pribadi memang menjadi bumbu-bumbu menarik dalam alur ceritanya. Adapun roman rumah Kaca ini ditutup dengan kata-kata yang sangat indah yakni "Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles" Dia Rendahkan mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina.

Ya itulah sedikit gambaran mengenai Roman Rumah kaca karya Pramoedya Ananta Toer ini. Keseluruhan secara pribadi menurut saya, ini merupakan karya yang sangat layak untuk dikoleksi. Selain menghayati akan keindahan sastra disini kita juga dapat belajar akan sejarah negeri ini dengan lebih menyenangkan. Dan saya kira banyak dari koleksi buku saya yang terlibas habis dari segi kualitas oleh buku ini. Somoga sedikit resensi ini bisa menjadi pertimbangan sebelum masuk dalam daftar baca / beli anda.

Tuesday, December 1, 2015

Resensi Roman Merantau Ke Deli - Buya Hamka

Sumber gambar Gema Insani

Novel ini merupakan salah satu novel klasik yang dibuat buya hamka pada sekitar tahun 1939 dan dimuat pada sekitaran tahun 1940-1941. Kisah roman ini merupakan salah satu cerita yang sangat menarik disamping novel lain karangannya semisal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Roman ini mengangkat isu tentang adat minang masa itu, poligami dan kebiasaan sosial di daerah perantauan. Dalam pembukaan buku ini, Buya Hamka mengisahkan bahwa cerita pada roman ini terilhami pada keadaan sosial masyarakat kala itu di daerah deli yang mana merupakan sebuah kota yang memiliki kegiatan ekonomi yang cukup maju yang menjadikannya magnet bagi para perantau.

Roman ini menceritakan kehidupan seorang bernama Leman, seorang pedagang kain muda dari Minangkabau yang mengadu nasib di perantauan (Deli). Di kota inilah ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Poniem. Poniem adalah seorang bekas pekerja perkebunan dan karena ia cantik maka ia menjadi istri simpana dari mandor kebun. Di area perkebunan inilah mereka bertemu, ketika Leman berjualan, sedang poniem tentu saja dikenal karena seorang istri dari mandor. 

Setelah bertemu beberapa kali Leman menaruh hati kepada poniem dan Ia ingin memperistrinya. Ia tidak peduli dengan status Poniem yang sebagai istri mandor dan ia adalah orang Jawa ( inilah yang akan menjadi masalah dikemudian hari). Awalnya Poniem menolak karena takut akan nasibnya, ia tahu betul adat minang dan ia tak ingin senasib seperti perempuan lain yang menikah dengan pemuda minang yang akhirnya hanya diperah saja. Namun karena niat maupun rayuan Leman, akhirnya runtuhlah pendiriannya. Leman pun sebenarnya sudah dinasehati Bagindo kayo agar tak menikahi Poniem, namun leman tak mengindahkannya. Dan mereka Pun menikah.

Awal pernikahan mereka dirajut dengan mengupayakan membesarkan dagangan kain yang telah Leman rintis. Berkat kerja keras dan ketekunan keduanya, perlahan namun pasti makin besarlah toko mereka. Dan untuk membantu mengoperasikan kegiatan toko tersebut, Leman mempekerjakan seorang pemuda Jawa bernama Suyono. Hadirnya Suyonopun semakin memperbesar usaha Leman.

Mereka berdua hidup bahagia namun sayang, pernikahan yang hampir 5 tahun belum juga membuahkan seorang anak. Dan pada suatu ketika, mereka merencanakan untuk mengunjungi kerabat leman yang di minangkabau. Dan inilah awal segala permasalahan yang akan menghancurkan kehidupan rumah tangga mereka. Ketika di kampungnya, leman tergoda untuk menikah lagi sebab desakan sanak saudaranya. Karena bagi orang minang, menikah dengan orang selain minang adalah sebuah hal yang sangat tidak disarankan. Baiknya menikah dengan sesama orang minang saja. Selain karena adat, ada motif lain yang menyebabkan hal tersebut yakni karena leman adalah seorang pedagang kaya. Dan ternyata Lemanpun tak kuasa menahan godaan hawa nafsu mudanya ketika melihat gadis yang di tawarkan padanya. Mariatun gadis minang nan cantik dari keluarga terpandang.

Leman akhirnya menikahi Mariatun ( Ia melanggar sumpahnya untuk setia pada Poniem ). Poniem pun mengijinkan, meskipun dengan sangat berat hati, karena ia merasa Leman adalah satu- satunya pegangan hidupnya. Ia tak memiliki siapa – siapa lagi di dunia ini, hanya leman sajalah. Sedang mariatun sendiri menikahi leman tak lebih karena alasan materi semata. Setelah selang beberapa tahun pelan-pelan rumah tangga yang dimadu ini mulai memercikkan api dalam hubungan rumah tangga. 

Hal ini karena Leman tidak adil dalam memperlakukan Kedua istrinya terutama yang tertua. Kedua perempuan ini sering bercekcok mulut dan puncaknya adalah ketika Poniem bertengkar hebat memperebutkan sebuah kain dengan mariatun. Dan karena seperti membela mariatun atau memang ingin mebuang poniem. Leman memisah kedua perempuan tersebut dan yang tak disangka – sangka adalah ia menjambak Poniem, menendangnya dan yang menyakitkan adalah mentalak 3 istri pertamanya tersebut. Dan poniem tanpa pikir lagi, ia segera meninggalkan leman, Suyono tak tega melihat hal tersebut dan iapun menyusul poniem ke Medan.

Setelah kepergian kedua orang jawa tersubut, surutlah usaha Leman. Besar pasak daripada tiang. Ia insyaf bahwa selama ini yang banyak berjasa besar membesarkan usahanya adalah Poniem dan Suyono. Namun bagaimana, Nasi sudah menjadi bubur. Sesal panjang dirasainya.

Tahun berlalu dan keadaan pun berganti. Melihat keadaan poniem yang ddemikian Suyono menaruh simpati pada poniem. Ia ingin menikahi poniem, meskipun poniem usianya jauh lebih tua darinya dan mengabaikan hal – hal lainnya. Kemunngkinan karena ia ingin menolong janda tersebut. Dan menikahlah mereka, dan keadaan sekarang berbalik. Mereka berdua semakin naik berkat kerja keras, cermat dan hemat dalam menjalankan usahanya. Sedangkan Leman makin terpuruk dengan utang-utangnya.

Pada suatu hari suyono dan poniem berencana membeli sebidang tanah, dan diptuskanlah untuk membeli tanah di tempat dulu mereka tinggal di deli. Disana bertemulah antara mereka berempat Poniem,suyono,leman, dan mariatun. Keadaan telah terbalik. Sungguh melihat kenyataan tersebut bahwa orang yang dulu dihina dan dibuangnya kini telah berganti kulit. Sungguh leman tak kuat hati menahan malu dan terlebih ia tak ingin harga dirinya tercoreng dengan kebaikan kedua orang ini. sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Minangkabau.

Kisah dalam novel ini sangat mengharukan, banyak hikmah – hikmah kehidupan yang bisa diambil. Dan tentu saja ini adalah salah satu daftar favoritku yang baru. semoga Resensi Novel Roman Merantau ke Deli ini bisa memberi informasi tambahan sebelum anda membeli Buku ini. secara pribadi Novel Roman karya buya hamka satu ini sangat rekomended.
           


Saturday, November 21, 2015

Little Darling

Kenapalah acapkali seseorang bergelimang duka dengan masa lalu. Kesedihan, ratapan hingga perih tak bermuara kadang harus di lalui dalam diri. Namun, apakah yang membuat semua itu layak dan memiliki arti. Tak sedikitpun kecuali hanya berakhir pada dada sesak membungkus lara itu tadi. Masa lalu serupa kenangan, suka maupun tidak ia akan selalu mengikuti setiap jalan hidup meskipun kau berlari sampai ke ujung langit, takkan pernah mampu untuk menghindarinya. Terima sajalah lalu biarkan terlepas.

Sore itu di jalan selatan kota Jogja, Terlihat iring – iringan tiga bus berukuran sedang yang membawa rombongan mahasiswa yang hendak menjalani makrab jurusan. Mereka adalah mahasiswa jurusan Geografi dari sebuah kampus negeri di Kota Jogja. Bus–bus tersebut mengarah ke pantai parangkusumo. Hari sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika rombongan tersebut sampai di lahan parkiran. Perlahan satu persatu pintu bus terbuka, terlihat pertama orang yang keluar itu adalah seorang Pemuda berusia sekitar 21 tahunan dangan seragam kaos polo merah yang membawa backpack kecil. Perawakannya sedang dengan wajah khas orang melayu. Dialah Danis, mahasiswa semester 5 dari palembang. Dialah yang mengetuai acara ini. Dari raut mukanya dia nampak orang yang Calm.

Semua peserta serta panitia telah turun dari bus, segeralah mereka berbaris rapi menuju gumuk pasir parangkusumo yang lokasinya tak begitu jauh dari parkiran tersebut. Ada 80 peserta serta 50 panitia dalam acara ini. Para peserta terlihat riang-riang saja, ini tidak lebih adalah acara makrab kekeluargaan dan tak ada kekerasan sama sekali.

Sejak Turun dari Bus Danis tak banyak bicara, ia hanya berkata seperlunya saja memberikan instruksi kepada seluruh panitia dan ketua lapangan acara ini, karena semua pekerjaan teknis memimpin acara sudah diplotkan ke Jordan Sebagai Ketua lapangan. Tak ada pekerjaan teknis baginya sore itu. Jadi ia lebih banyak untuk mengawasi teman – teman panitia dari kejauhan. Semua peserta beserta pendamping terlihat berbaris rapi menuju lokasi perkemahanr. Kala itu ia berada di belakang dan sengaja memautkan diri agak jauh dari rombongan. Ia berjalan santai menikmati matahari sore yang perlahan – lahan mulai menampakkan cahaya keemasan. Angin pantai pun tak mau kalah, ia berhembus cepat menembus pohon – pohon cemara yang tumbuh sepanjang jalan. Bulan september adalah salah satu moment yang bagus untuk melihat keindahan sunset di pantai ini.

Dari arah belakang terdengar suara motor mendekat ke arahnya, Danis masih terpesona dengan keindahan sore Parangkusumo. Semakin dakat tiba–tiba ia dibuat kaget oleh suara klakson motor tersebut.

tiiit titt

“Sialan” gerutu danis dalam hati, kemudian ditengoknya arah belakang.
“Mas Danis, Jangan kebanyakan nglamun lo” suara seorang perempuan
Ternyata Risa, panitia konsumsi. Mahasiswi semester 3 dari Bandung
“Butuh boncengan ga Mas” sapanya dengan wajah ceria
“Duluan saja Ris” jawab Danis dengan senyum yang dipaksakan
“Okelah Mas, daaa” Risapun berlalu mengejar rombongan

Percaya atau tidak, telah lama diam–diam Risa menaruh hati pada Danis semenjak mengenal pemuda itu semenjak Ospek. Namun sayang gayung itu belum bersambut jua, namun Risa tak pernah padam. Ia hanya mencoba menaruh harapan.Danispun sebenarnya sudah mengetahui bahwa Risa menaruh hati padanya, namun ia tak memberi tanggapan apapun akan hal tersebut.

Entahlah Mengapa suasana sore itu membawa pikiran Danis pada seorang perempuan yang telah membekukan hatinya. Seseorang bernama Indah yang hadir pada tahun terakhir SMA. Seseorang yang mampu membuat Danis rela melakukan apapun dan yang telah membuat hatinya gelap diliput kabut. Apalah yang istimewa dari Indah pikirnya. Rasa benci ataukah masih ada perasaan padanya. Ia sendiri masih kabur memahami ini. Bukankah di Jogja ribuan mahasiswi cantik menjamur di tiap – tiap sudut. Lagipula soal penampilan dia juga tidak begitu jelek, malah banyak lawan jenis yang memuji tampangnya. Kadang ia menertawai dirinya sendiri. Sungguh konyol, tapi begitulah kenyataannya.

Malam itu cuaca cerah, langit malam berhias bulan sabit bersama bintang – bintang kemilauan menampakkan keindahannya. Semua peserta terlihat membentuk sebuah lingkaran besar di gumuk pasir malam itu. masing masing dari mereka membawa senter dan di tengah lingkaran tersebut tersulut puluhan lilin besar yang berlindungkan cerobong kaca  membentuk piringan besar seperti api unggun. Malam sudah nampak sepi, meskipun waktu baru berada pada angka 9 malam. Yang terdengar hanyalah suara semilir angin malam dari laut selatan. Sudah saatnya acara perenungan, dimana sehabis matahari tenggelam hingga sekarang mereka telah melakukan bermacam kegiatan seperti games serta solidarity time yang lumayan menguras tenaga.

Sang pembawa acara sudah berada di tengah lingkaran, ia sepertinya sudah bersiap dengan berbagai cerita maupun gombalan sandiwara untuk disuguhkan kepada mahasiswa – mahasiswa tersebut seperti tahun-tahun sebelumnya. Danis beserta panitia lain berada dibelakang peserta. Mungkin ini akan sedikit memberikan hiburan baginya. Tak jauh, terlihat Risa yang dari tadi mencuri pandang pada Danis. Dilihatnya Danis Malam itu dengan samar–samar, wajah yang tertampak cahaya lilin itu begitu memesona hatinya. Lain halnya dengan Danis yang pandangannya  tertuju pada lilin–lilin di tengah sana. Ia sibuk bergumul dengan pikirannya.

Mengapa dulu kukenal Indah, mengapa ku mengenalnya dan bodohnya mengapa ku mencintainya. Mengapalah ia tak mau pergi dari pikiran ini, apalah yang salah denganku ini ? banyak wanita yang menanti, namun tetap saja perempuan satu ini selalu datang membayang” Pikirannya masih menerawang, sampai beberapa saat sebelum tersadar kembali logikanya.

Terdengarlah suara pembawa acara yang mencoba membuat suasana menjadi lebih hening dan Khidmad ”....terimalah masa lalu yang sudah terlampau, biarlah ia mengalir ke muara, jangan kau halangi jalannya dengan egomu. hidupmu adalah sekarang, bahagiamu ada di depan ...”kata pembawa acara.

Betapa bodoh seorang lelaki memikirkan perempuan yang berkhianat, betapa bodoh seorang lelaki yang bergelut dengan perasaan menciutkan, betapa bodoh lelaki yang lupa akan rahmat sekarang dan harapan masa depan, Oh God. How stupid me....”

Setelah perenunungan, seluruh peserta di persilahkan untuk istirahat sembari menunggu jam 12. Mereka diminta untuk tidur di lautan pasir ituataupun kalau tidak bisa menikmati suguhan langit malam. Semua panitia mulai bersiap untuk kegiatan selanjutnya, yakni perjalanan menuju bukit Gupit. Bukit ini berada di sebelah timur parangtritis dan memerlukan waktu tempuh berjalan kaki selama satu jam dari parkir kendaraan. Beberapa diantara panitia sudah sibuk mempersiapkan pos dalam perjalanan. Semua panitia yang tidak mendampingi peserta mulai berjalan duluan untuk menempati pos mereka. Dan kebetulan Danis dan Risa menempati pos yang sama di pos terakhir yang ada di dekat puncak Gupit.

Mereka berjalan beriringan bersama teman teman panitia yang lain, mereka memilih berjalan dibelakang. Awalnya risa terlihat bersemangat untuk memperturut rute jalan yang lumayan terjal dan panjang itu, ia beberapa langkah didepan Danis ingin mengejar teman yang lain. Danis terheran, sungguh lucu melihat tingkah perempuan di depannya ini, ia hanya senyum-senyum sendiri di perjalanan itu, namun senyum itu tersamarkan oleh gelap malam tanpa penerang. Risa tak mengetahui hal tersebut. Beberapa saat kemudian dilihatnya risa berhenti berjalan. Dilihanya ia nampak kelelahan mendaki jalan bukit tersebut. Nafasnya terengah - engah.

“Mas, pos kita masih jauh tidak ?” katanya
“masih lumayan Ris” jawab Danis dengan senyum tersamar
“Lumayan jauh ?”
“ya begitulah, masih ada tiga tanjakan lagi” jawab danis
“Mampus”

Mereka berdua mulai jalan lagi, Danis berjalan santai saja. Beberapa teman panitia sudah menempati pos mereka masing - masing. Risa ada di depan, tak berselang lama ia kembali berhenti.

“Mas, istirahat aja dulu ya, sumpah capek banget”
“tinggal satu tanjakan Ris, nanggung banget berhenti disini” jawab Danis terkekeh
“aduh, sebentar ajalah mas”
“di depan situ pemandangannya bagus lo, pos kita ada di situ”
“huh...” gerutu risa mulai melangkahkan kaki. Ia terpaksa daripada ditinggal sendirian

Merekapun kembali berjalan menapaki tanjakan terakhir, risa tak mau kalah ia tak ingin dianggap lemah, ia berjalan buru – buru didepan.
“santai aja Ris”

Danis tersenyum saja. Dan kemudian teringat kebajikan bahwa kala mendaki sebuah gunung ataupun yang serupa, akan terlihat bagaimana sifat asli orang tersebut. Ia melihat tingkah Risa yang kelihatan childish itu dan tak sadar bahwa perlahan timbul benih suka dihatinya. Segeralah Danis mendekati Risa yang berjalan semakin melamban karena terengah – engah.

“Biar aku yang bawa ranselmu” sergah Danis mengambil tas Risa di punggungnya. Risa tak menjawab, ia hanya menunduk kelelahan dan sepertinya mengiyakan. Ia berpikir sejenak apakah ini sinyal dari Danis.

Tanjakan terakhir memang yang paling berat, Risa seolah sudah tak mampu lagi berjalan

“Masih jauh mas ?”
“Udah deket kok, santai aja ris, Gak usah terburu – buru”

Tiba–tiba Risa menggamit lengan Danis untuk berpegangan, dirasainya lengan dan jari pemuda itu. Danis hanya diam, pikirannya mencair seolah kebekuan masa lalunya mencair seketika itu juga. Digenggamnya erat tangan Risa dan dibantunya ia naik keatas. Dan tak berselang lama sampailah mereka di pos puncak. Sembari menunggu kedatangan peserta ke pos mereka menjulurkan kaki di dekat tebing itu menikmati keindahan kerlap kerlip lampu kawasan parangtritis yang begitu indah dari bukit atas sana.

Hati itu telah mencair

Menjelang pukul 2 malam, terlihat dalam bayang-bayang berlatarkan cahaya kerlipan lampu, Dua sosok tersebut telah bersanding dalam sebuah ikatan perasaan. Mungkin memang sudah saatnya untuk melepaskan yang telah berlalu.

Dan pagi itu mentari tampak begitu indah, dan semua peserta seolah tersenyum dipagi itu kepadanya. Entahlah...


(Terinspirasi dari lagu The beatles - Here Come the Sun)

Resensi Novel Hujan Bulan Juni

Novel ini adalah sebuah pengembangan dari puisi - puisi Sapardi djoko damono yang berjudul sama. untuk ukuran sebuah novel, Panjang dari novel ini termasuk singkat, jumlah halamannya tidak lebih dari 135 halaman. Yang menarik perhatian dari novel ini adalah bahwa karya ini bersumber dari puisi - puisi dasyat dari Sapardi.

Novel ini bermula pada kisah seorang dosen Muda Universitas Indonesia bernama Sarwono yang berasal, seorang antropolog cerdas yang memiliki banyak prestasi dalam penelitian dalam bidang antropologi. Sarwono digambarkan sebagai sosok yang mandiri dan tak ingin menggantungkan diri pada orang tuannya. sejak kuliah ia sudah terbiasa mengirimkan karya - karya tulisnya ke redaksi penerbitan yang ada di jakarta untuk menyambung hidup dan kuliahnya di sana. Pada kisah ini tertulis bahwa tiga puisinya diterbitkan di surat kabar. puisi ini tak disebutkan diawal cerita, karena puisi inilah nanti yang akan menutup novel ini. Puisinya sungguh dasyat. dan dari semua cerita dibuku ini justru tiga puisi tersebutlah yang paling menarik dan begitu berbobot.

Dalam kisah ini terlukis juga kisah cinta sarwono dengan seorang wanita bernama pingkan. Pingkan adalah seorang bedarah Jawa-Manado yang mana juga merupakan dosen briliant pada bidang kebudayaan jepang di Universitas Indonesia juga. Pingkan mendeskripsikan dirinya sebagai seorang jawa meskipun raut mukanya lebih mirip orang manado. Hal ini sebab ia sejak kecil telah lama tinggal di solo. pada suatu kesempatan mereka berdua di tugaskan oleh pihak kampus untuk melakukan kunjunghan dinas ke Gorontalo untuk membuka sebuah prodi baru di kampus sana. dari perjalanan inilah hati mereka terbuka dan saling terpaut. setelah beberapa hari di sulawesi utara sudah saatnya mereka kembali lagi ke Jakarta, namun sayang mereka tidak bisa balik bersamaan karena pingkan diminta kerabatnya untuk tinggal seberapa hari disana. dan kabarnya disana oleh tantenya memang pingkan ingin dijodohkan dengan seorang menado. Padahal hati pingkan pada saat itu hanya untuk sarwono belaka. pada jarak yang memisahkan, kisah mereka dihiasi dengan saling berkirim pesan singkat melalui whatsaap untuk melepas bilah - bilah rindu pada diri mereka. 

Kemudian kisah terus berlanjut, ibu pingkan menyetujui hubungan mereka begitupun keluarga sarwono. jalan sudah terbuka lebar untuk hubyungannya. namun yang dirasa berat oleh mereka berdua ( terutama sarwono ) adalah perihal tentang kepergian Pingkan untuk menempuh pendidikannya di Kyoto. Sarwono terus terpikir akan kepergian pingkan ke Jepang. karena disana ada seseorang yang menyukai pingkan, dan pingkan dimasa lalunya juga sepertinya terpikat dengan pria jepang tersebut. Pesan - pesan rutin dari pingkan dari jepang tak surut menghilangkan keresahan hatinya. ia sungguh tak ingin kehilangan pingkan, meskipun ia tahu juga bahwa pingkan juga mencintainya. setelah beberapa bulan kepergian pingkan ke jepang, kesehatan sarwono menurun dan ia tak lagi mengirim kabar ke pingkan beberapa hari. Dan ketika pingkan datang ke jakarta bersama mahasiswa bimbingannya ia barulah mendengar kabar bahwa sarwono sedang sakit parah. Tak ayal lah seketika ia berangkat ke solo dan menyerahkan tugas membumbingnya pada pria jepang tadi. dan ketika ia sampai di solo, segeralah ia menuju rumah sakit dan disana sarwono tergelak lemah. ia dijumpai ibu sarwono di luar dan disitulah koran yang berisi tiga puisi itu tadi diserahkan ke pingkan. Berikut Puisinya:

/1/
Bayang-bayang hanya berhak setia
Menyusun partitur ganjil
Suaranya angin tumbang

Agar bisa berpisah
Tubuh ke tanah
Jiwa ke angkasa
Bayang-bayang ke sebermuda

Suaramu lorong kosong
Sepanjang kenanganku
Sepi itu, air mata itu

Diammu ruang lapang
Seluas angan-anganku
Luka itu, muara itu

/2/

Di jantungku
Sayup terdengar
Debarmu hening

Di langit-langit
Tempurung kepalaku
Terbit silau 
Cahayamu

Dalam intiku
Kau terbenam

/3/

Kita tiada akan bertemu:
Aku dalam dirimu

Tiadakah pilihan
Kecuali di situ?

Kau terpencil dalam diriku
*


Friday, November 20, 2015

Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk



Ronggeng dukuh paruk adalah novel trilogi yang berkisah tentang kehidupan seorang ronggeng. berikut adalah resensi singkat dari ketiga novel tersebut:

Buku pertama:
Berkisah tentang Rasus dan Srintil sebagai tokoh point dalam buku ini.Namun sudut pandangnya lebih banyak bertumpu pada Rasus. Rasus adalah pemuda ABG Yatim piatu yang ditinggal mati oleh orang tuanya karena sebab bencana keracunan tempe bonggrek bersama belasan anak lainya di dukuh paruk. Sedangkan Srintil adalah seorang gadis 3 tahun lebih muda dari Rasus yang mana ia adalah calon Ronggeng di Dukuh Paruk.

Kisah ini berlangsung di dukuh paruk, dukuh kecil yang jauh dari kota dan terasing. Dukuh ini terkenal dengan budaya ronggengnya (penari penghibur) kemiskinan, kebodohan, kecabulan dan keterbelakangannya. Masyarakat dukuh paruk yang tak lebih dari 25 rumah tangga ini sangatlah kental akan kebiasaan yang berbau mistis. Ronggeng merupakan kehidupan mereka, tiada peduli kemiskinan dan kemelaratan menggelayutinya. Anehnya mereka menganggap perbuatan cabul adalah hal yang tak perlu dirisaukan bahkan kelakuan cabul suami kepada ronggeng malah menjadikan mereka para istri bangga bukan cemburu jika pada perempuan umumnya. Hal inilah yang ditentang oleh pikiran Rasus. Ia tak bisa menerima budaya ini dan membenci budaya dari asal moyannya ini.

Rasus kemudian meninggalkan kampungnya ini dan beberapa tahun kemudian ia menjadi seorang tentara dan menjadi kebanggaan kampungnya.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa :
1.Jangan pernah ada keraguan dalam hidup. Ia ia, tidak tidak.
2.Terkadang apa yang menurut kita benar dari sudut pamdang kita belum tentu benar bagi kita dimasa yang akan datang. Karena pengetahuan yang terbatas saat ini. Karena memang hidup merupakan proses pembelajaran tiada akhir.

Buku kedua
Bercerita bertumpu pada sudut pandang srintil. Buku kedua ini mengisahkan perjalanan pergulatan diri srintil setelah ditinggal oleh Rasus. Ia kecewa dan sangat sedih, namun semua itu berujung pada sikap srintil untuk membalas dendam atas sikap Rasus. Balas dendam dalam arti pergulatan dendam dengan melampiaskan emosi dari dalam diri. Di kisah ini srintil semakin memaklumi dan paham akan lelelakian. Dan pada beberapa alurnya, ini bercerita tentang srintil yang menjadi semacam istri percobaan bagi seorang pria yang mungkin dirasa bersikap keterbelakangan mental. Dan kisqh ini berujung akan srintil ingin berhenti menjadi Ronggeng.

Hikmah: 
1.Tentang bagaimana memahami seseorang dengan ciri fisik, tabiat dan cara bertutur kata. Memahami orang lain dari bahasa tak terucap namun terlihat.
2.Pergulatan diri akan selalu terjadi pada diri seseorang. Dan itu semua akan semakin mendewasakan pikiran .

Buku Ketiga
Kisah terakhir ini adalah puncak dari cerita dukuh paruk ini. Srintil telah membulatkan tekat untuk berhenti menjadi seorang ronggeng, ia ingin menjadi wanita sejati. Wanita yang dicintai seorang pria seutuhnya, bukan sekedar kembang pelampiasan dari nafsu kelelakian. Ia juga berkeinginan untuk menjai ibu rumah tangga. Dalam kisah ini Srintil semakin sadar akan pemahamannya yang keliru akan ronggeng. Saat itu ia sudah berusia 23-25 tahun. dan hidup dalam keterasingan dan rasa bersalah karena disebut-sebut terlibat dalam gerakan PKI saat itu.

Sedangkan Rasus, ia masih bertugas di kalimantan sebagai seorang tentara. Begitupun rasus, ia juga amat sangat kesepian. Tiada siapa-siapa lagi tempat baginya untuk bersandar atau sekedar berpulang. Namun pikirannya masih saja tertancap di tanah kelahirannya, dukuh paruk nan jauh di jawa. Ia juga masih sering kepikiran srintil namun entahlah ia merasa ragu untuk menjadikannya sebagai seorang istri.

Dilain pihak srintil yang begitu berharap akan cinta Rasus Mulai menjalin hubungan dengan seorang kepala proyek yang berpura pura bersimpatik terhafap srintil demi sebuah proyek. Srintil telah kehilangan harapan akan rasus dan harapan satu-satunya adalah pada laki laki kepala proyek tersebut. Ia sudah pasrah dan sangat menggantungkan dirinya pada lelaki tersebut. Namun ketika ia tahu bbhwa ia diperalat. Hancur leburlah harapan,impian srintil. Maka semenjak itulah srintil kehilangan kewarasannya. Dan ketika Rasus Balik kekampung halamannya dengan keinginan untuk menjenguk kampungnya. Ia tetsadar, bahwa gadis yang dulu dicintainya ternyata jadi gila, dan di akhir cerita Rasus mendapatkan pencerahan akan apa yang ia cari selama ini.

Hikmah:
1.jangan terlalu berharap berlebihan kepada seseorang. Sewajarnya saja
2.Kesombongan, keakuan bisa menghalangi kebenaran.
3.Seringkali memang kesepian selalu menjadi musuh buruk bagi jiwa.

Thursday, November 19, 2015

Resensi Novel The Sweet Sin


Kata yang cukup mewakili Novel the sweet sin karya Rangga wirianto putra ini adalah Menarik dan lumayan menghibur. Novel ini berkisah tentang Cinta sesama jenis antara Reino seorang mahasiswa berusia 20 tahun, yang mana merupakan seorang gigolo dan partygoers yang digandrungi tante-tante dengan Ardo seorang penyiar berita di stasiun TV lokal berusia 25 tahun. Kisah ini bersetting di kota pelajar Yogyakarta pada tahun 2011-2012.

Reino yang seorang gigolo dimana kehidupannya berantakan akibat masa lalu keluarganya dipertemukan secara tidak sengaja dengan Ardo ketika Reino ditemukan olehnya pingsan setelah dihajar oleh segerombolan pria yang membencinya. 

Dan dari situlah kisah mereka bermula, Reino merasa Ardo adalah sesosok seseorang yang sepertinya hilang dari kehidupannya(Ayahnya yang meninggalkan keluarganya). Ardo cerdas dan dewasa, Reino selalu mati kutu dengan kata-katanya. Ia juga merasa aman dan diperhatikan oleh Ardo. Dan entahlah tiba - tiba ia merasakan sesuatu hal yang aneh saat bersama Ardo, ia berusaha menolak perasaan itu karena mana mungkin ia yang seorang gigolo kakap bisa menyukai seorang laki - laki. namun entahlah setelah beberapa kali pertemuan akhirnya Reino menyerah dan seolah gayung bersambut disaat mereka liburan di merapi mereka resmi menjalin hubungan. Meskipun Reino masih dengan ketidakpercayaanya bahwa ia bisa menyukai laki - laki.

Seiring waktu bergulir hubungan mereka semakin intim dan dalam. Dan puncaknya ketika tersurat kabar bahwa Ardo akan dijodohkan oleh orang tuanya. Disinilah gejolak hubungan mereka, Reino tidak menginginkan hal ini dan ketika Ardo memberi tahu bahwa ia menerima tawaran dari orang tuanya itu (terpaksa karena keadaan ayahnya yang sakit dan pertimbangan rasional ) Reino terguncang dan ia menghindar dari Ardo bukan karena benci melainkan karena terlalu menyayangi Ardo dan tak ingin melepaskannya. Dan pada saat menghilang itulah ia belajar akan hakikat mencintai dan melepaskan. Dan ia sudah putuskan bahwa ia harus menerima keputusan itu,namun ketika ia sudah kuat dan berniat melepaskan Ardo, Disaat ia memutuskan untuk menemui Ardo untuk membicarakan hubungan mereka, giliran Ardolah yang tak ingin melepaskan Reino, ia merasa begitu menyesal atas keputusannya itu. Namun Reino sudah memutuskan untuk melepaskan Ardo agar ia menikah dengan Rezta. Meskipun sesungguhnya ia sangat berat untuk melepaskan Ardo. Dan akhirnya merekapun berpisah dengan cara yang baik dengan segala keharuan dan kegundahan antara keduanya. Dan semenjak itu Reino berusaha untuk tidak memikirkan Ardo, biarlah ia jadi kenangan.

Akhirnya setahun kemudian Ardo dan rezta menikah. Dan Reino lulus kuliah dan ia dapat beasiswa ke Belanda.
"Ketika kita memutuskan untuk siap memiliki, maka kita harus siap pula untuk melepaskan"

Semoga Resensi novel the sweet sin ini bisa menjadi referensi sebelum anda memutuskan untuk membelinya.