Wednesday, August 5, 2015

Pelangi Senja Hari


Ingatkah kamu waktu itu sahabatku, beberapa tahun  lalu dimana belum ada kenal diantara kita. Kala itu kita masihlah dua hal kejanggalan yang ada di sudut kota rantau itu, meraba hidup dan menggapai angan cita – cita. Kini beberapa tahun setelah cerita disana telah habis masanya dan jarak telah memisahkan kita. Aku hanya ingin sedikit lebih tau tentang apa yang selama ini menjadi kegelisahan diriku kepadamu. Aku hanya menduga saja namun aku sebenarnya ingin tahu sebenar-benarnya tentang itu. semoga kau tak keberatan dengan apa yang menjadi pertanyaanku elama ini. Meskipun mungkin saja sudah kuketahui apa yang akan menjadi jawabanmu.
***
            Indahnya pelangi sore di gunung prahu kala itu masih terlihat jelas dalam benakku. Itulah pendakian pertama bagiku, ya memang gunung ini adalah gunung yang ideal bagi orang yang baru dalam hal dunia pendakian. Sore itu gunung prahu tetaplah memukau meskipun sebelumnya hujan sesaat datang menyapanya dan menjadikan hawa sejuk disana semakin menusuk. Apakah kau masih ingat apa yang kita bicarakan bertiga bersama romi itu tentang rencana – rencana setelah lulus.
“ kalo udah lulus, rencana kalian apa ? “ tanyaku
“ Kerjalah San, mau apa lagi kalo ngga kerja “ Romi singkat
“ Kerja dimana ? “ tanyaku lagi
“ Mmm, dimana ya ? belum tau nih, buat apa sih San nanya hal itu, kita kan baru beberapa bulan kuliah, santai aja lagi ” jawab romi
“Haha, bukan gitu, biar jelas aja jalannya nanti. Kalo kamu Dan ? “
“Inginnya ya kerja dulu di Oil company lalu nikah “ Jawabmu
“Gile pikirannya udah mau kawin ni Dani, semester 1 aja baru jalan. Wwkwkwk” sahut romi
“Ya gapapa toh” jawabmu.

Aku hanya tersenyum saja dan masih takjub denngan pemandangan senja sore diatas gunung ini serta indahnya pelangi diatas sana. tak berlangsung lama senjapun terlihat mulai memudar, cahaya keemasan itupun perlahan mulai tergantikan oleh remang – remang malam. Sang pelangipun hanya bersisa sedikit hanya menunggu beberepa saat saja untuk hilang. Dalam benakku aku masih berusaha memahami apa yang kita bicarakan serta mencari makna dari pemandangan senja sore itu. Mengapa begitu cepatnya pelangi itu menghilang. Seiring berjalannya waktu akupun mulai mengenal lebih dalam siapa – siapa kalian yang sesungguhnya, aku mulai paham dengan tingkah dan hobi – bobi kalian yang sebelumnya belum kuketahui. Dan mengenai dirimu aku lebih paham lagi, aku tahu akan kepandaianmu menyembunyikan emosi dalam dirimu. Meskipun mulut diam tak berucap namun semua tingkah laku berbicara dengan jelas kepadaku. Terutama ketika kita saling bersipandang, teramat jelas disana. Tapi biarlah kuanggap itu hanya persangkaan yang tidak masuk akal aja.
***
            Kamu juga pasti masih ingat, diakhir semester 4  kukenalkan seseorang kepadamu. Seseorang yang kini telah menjadi pendamping hidupku. Ya, Linda. Gadis sederhana dari kampus sebelah. Malam minggu itu kebetulan adah hari kedua resminya hubungan kami. Dan kala itu aku belum memberitahu akan hal ini kepada kalian. Malam itu Linda datang ke kontrakan kita. Ia ingin mengajakku nonton launching film perdana di bioskop langganan kita. Acaranya jam 8 malam. Jam baru menunjukkan pukul 6.30, terdengar pintu diketuk dari luar. Saat itu kita bertiga sedang bergiliran main PS dan kebetulan giliran kita berdua.
Tok tok tok
Tok tok tok

“Masuk aja” teriak Romi dari kamar Mu yang lumayan jauh dari lobi rumah.
“Eh Rom itu ada tamu bukain sono, siapa tahu kurir nganter duit semobil” pintamu ke romi.
“iye juragan” jawab romi sambil toyeng mukamu
“ Aduh, kampret...”
“Hahaha...”jawabku masih konsentrasi dengan layar di depan.
Tak lama kemudian muncul lagi si Romi.
“Siapa Rom ? “ tanyaku
“Monggo mbak itu Hasan nya, ealah, satu orang ini kalo udah main PS bisa lupa daratan”
Tak berapa lama muncullah linda dibelakang romi
“eh Lin, awalan ni datangnya ?”
“ada peubahan jadwal”
“Bro, kenalin ini Linda, pacarku”
“Cieeee yang udah dapat pacar ndak kabar-kabar” sindir romi
“Sory, baru kemarin juga jadiannya Rom” jawabku
Kemudian linda memperkenalkan dirinya. Sejujurnya aku senang sekali malam itu melihat ada seseorang lagi menjadi bagian dari lingkaran hidupku selain kalian berdua yang sudah kuanggap sebagai saudaraku.

            Namun aku juga tidak alfa dengan apa yang telah kulihat dari raut mukamu kala itu, sesuatu yang tidak biasa kulihat dari mukamu, sebuah bahasa yang tak terucap lagi nampak dimukamu itu. begitupun sorot dari mata dan pandanganmu yang nambah berpendar seperti kaca – kaca cair yang samar. Aku pernah melihat bahasa itu pada orang lain, sebuah bahasa kecemburuan. Namun lagi – lagi kulihat kembali kemahiranmu dalam menyembunyikan emosi itu, dengan senyum yang menyungging kau mencoba mengelabuhi kami. Boleh saja linda dan romi tak mengetahui akan hal itu namun aku tak bisa kau bohongi dengan bahasa darimu itu.
“Aku ganti baju dulu ya say “ pancingku
“Cie cie udah say say ini manggilnya”Romi nyolot
“apa sih...” jawabku sambil melihat linda yang tersenyum dan sesaat aku melihatmu.

            Ketika di bioskop Aku masih saja kepikiran saja dengan dugaan – dugaanku itu, aku hanya tak ingin saja sahabatku tersebut masuk ke jalan yang salah. Dan semoga saja dugaan tersebut adalah salah.
***
Dua tahun telah berlalu begitu cepatnya. Dan hidup seseorang  terus berjalan dengan jalanya masing – masing. Begitupun kau yang memutuskan pindah ke apartemen beberapa bulan setelah hal itu. tapi apalah semua ini sejatinya akan semakin mendewasakan diri. Lebih bijaksana lagi dalam mengambil keputusan.  Aku telah lulus, dan pada sore hari sehabis wisudaku itu akupun masih ingat percakapan kita  di atap apartemenmu.

“Linda apa kabar San ?”
“Ia masih di Bandung, mgangnya belum selesai dia”
“Ohh...” jawaban yang menggantung
“Gimana skripsimu Dan ?”
“Tinggal bab terakhir saja”
Diam untuk beberapa saat
“kamu kapan balik ke pontianak san ? “ lanjutmu
“Rencananya minggu depan berangkat “
“San, aku ingin bertanya padamu”
“well, ada apa sepertinya serius nih” jawabku
Kau hanya tersenyum sesaat kemudian berkata “ menurutmu Cinta itu apa ? “

Deg...

Aku hanya menahan berat ketika mendengar pertanyaanmu itu ? pikiranku tak tentu arah kesana – kemari karena tak percaya dengan apa yang kudengar. Otakku sungguh bekerja keras kala itu dan dadaku hanya kembang kempis menahan beban berat yang ada di dalam dadaku. Aku tahu arah akan pembicaraanmu. Aku hanya bertanya – tanya mengapa kau tanyakan hal itu ? bukankah hal ini jelas adanya. Kukira waktu telah menyembuhkanmu. Dan sekali lagi aku terlarut dalam dugaan itu lagi. Aku masih diam saja mencoba memberikan jawaban terbaikku kala itu.

“Dan, bagiku cinta itu ibarat persahabatan dan keluarga. Ia akan hadir ketika kita bisa menerima dengan ihklas atas segala kekurangan dan kelebihan seseorang, tak peduli siapapun ia. Cinta akan selalu menghubungkan hati meskipun orang itu terpisahkan oleh keadaan, jarak dan waktu. Tak ada sekat setebal apapun yang bisa menghalanginya. Linda, kedua orang tuaku, adikku,romi dan kamu kalian semua adalah cintaku. Aku menyayangi kalian semua”
Ya itulah kata – kata yang tersisa dari dalam diriku yang bisa kuungkapkan sepenuhnya kala itu. Dan itu adalah usaha terakhirku untuk meyakinkanmu agar bisa menerima kedaan yang sungguh aneh diantara kita saat itu. Kau hanya diam termenung melihat senja sore itu, seperti ada sesuatu yang engkau harapkan darinya kala itu.

“kadang aku iri kepadamu san” katamu pelan. Aku diam lau mencoba memandangmu yang masih saja asik dengan senja.
“Hidupmu begitu sempurna, kau miliki segalanya”
“Ngga ada kata sempurna dalam hidup Dan. Percayalah kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Jujur malah sebenarnya aku malah ingin bisa sepertimu. Bisa melukis, bernyanyi, fotografi. Sesuatu yang aku tak pandai akan hal itu”
***
Kini aku paham mengapa pelangi seringkali muncul pada sore hari kala senja hari, ada hikmah terendiri bagiku bahwa keindahan dibeberapa bagian kehidupan kadangkala hanyalah pantulan – pantulan semu yang tidak nyata dan apabila saatnya tiba keindahan itu hanyalah ilusi sesaat saja lalu menghilang. hari ini telah terjawab sudah pertanyaanku saat di gunung prahu itu

Hari ini Senin, 29 Juni 2015, empat tahun berlalu semenjak wisudaku. Alangkah bahagianya diriku ketika mendapatkan pesan gambar dari nomor yang tak kukenal pagi ini. Kulihat dalam foto itu seseorang yang sudah tidak asing lagi, yang menggendong anak kecil berusia sekitar 2 th yang tertawa lebar di pundak beserta seorang wanita cantik memegangi tangannya di samping. Aku tersenyum bahagia melihat itu, berjuta syukur tak terucap dari dalam hatiku. Aku amat kenal akan wajah itu dan sudah pasti, itu adalah kau dan keluarga kecilmu. Dani silalahi.

*Sumber gambar: http://preecey.deviantart.com/art/Rainbow-Sunset-Final-Version-179922964

Wednesday, May 6, 2015

Kenapalah


Hati yang kelam,
Terasa hampa kian menghujam,
Malam, akankah engkau sanggup untuk tertawa ?
Ketika dalam bayangmu terliput duka,
Malam kenapa ini ?
Kenapa diri ini ?
Kesana - kemari terkurung dalam senyum,
Senyum pembungkus luka yang tak terlihat,
Senyum sebagai fatamorgana semata,

Sejujurnya jikalau ada,
Jikalau hadir saat itu,
Teringinku hancur lebur tiada bekaspun,
Sayatan ini senyuman ini,
Sungguh,
Sungguh ingin saat seperti itu,
adalah kekejian terbesar bagi kebenaran sejati.

Tuesday, May 5, 2015

Pergi Bukan Untuk Meninggalkan


Pagi itu Andy seperti hari - hari biasanya mempersiapkan segala sesuatu sebelum ia berangkat mencari rezeki di kota. Andy adalah anak bungsu dari beberapa bersaudara yang sederhana. Hari - harinya ia habiskan untuk bekerja sebagai karyawan restauran di kota.

Andy memang telah lama hidup tanpa ada kedua orang tuanya. Orang tuanya meninggal beberapa tahun silam akibat penyakit kanker yang didetitanya. Saat ini ia serumah dengan kakak laki - lakinya, Doni. Doni masih bujang 5 tahun lebih tua dari usia Andy yang berada pada tahun 21, ia adalah seorang pengangguran.

Jam 8 pagi Andy telah sampai di restauran tempatnya bekerja. Pagi itu ia terlihat lebih diam, ia bekerja dengan cekatan seperti biasa namun dengan sikap diam tanpa kata yang tak biasa. Dari raut mukanya saja terlihat seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mimik mukanya begitu serius. Kalau sudah seperti ini biasanya ia ada masalah dengan kakaknya. Dan nyatanya benar, bahwa malam kemarin ketika Andy baru pulang dari kerjanya. Doni mencecarnya dengan hal yang memberatkan Andy.

"Ndy, kamu ada duit ndak ?"
"Buat apa Mas ?" Tanya Andy balik.
"Buat bayar hutang"jawab Doni
"Utang apalagi Mas, utangmu lo udah berapa, masa mau utang terus kah" kesal Andy
"Utang sama Ridho tempo hari, ada ndak e ? " 
"Itu utang buat apa ? Apa buat ngewarung."
"Kamu ga perlu tau" jawab Doni
"Kalo gitu kenapa sekarang minta aku buat bayarin itu hutang, aku ada beberapa ratus ribu namun ini jatah makan untuk bulan ini "
"Aku pakai Sertifikat tanah rumah ini wae kalau begitu buat pinjam di Bank"
"Apa ? Ya jangan gitulah, sembarangan saja".

Mungkin itulah hal yang membuat dirinya terlihat demikian hari itu. Ia memang sering kesal dengan kelakuan kakaknya, terutama tentang hutang menghutang, bagaimana mungkin terus berhutang sedangkan dirinya tak bekerja ditambah gaya hidupnya tak bisa di kontrol.

Pengunjung restoran cukup banyak, sehingga cukuplah buat Andy untuk berkonsentrasi saja dengan memasak pesanan pelanggan tanpa banyak bicara. Tiba - tiba handphone di saku celananya berbunyi. Tanda bunyi pesan masuk, dibacanya pesan itu "Selamat Pagi saudara Andy, kami dari HRD Hotel Grand Sahid Surabaya ingin menyampaikan bahwa anda diterima menjadi Kepala Chef di unit restoran kami. Anda bisa mulai bekerja pada senin lusa. Terima kasih."

Tiba - tiba sebuah senyum kegembiraan tersungging dari wajahnya. Mungkin inilah jawaban serta saat yang tepat untuk hal yang selama ini ia pikirkan. Ia telah lama berfikir bagaimana cara yang tepat agar kakaknya itu bisa belajar untuk mandiri dan bisa bertanggung jawab dalam hidupnya sendiri. Disadari ataupun tidak kakaknya memang bergargantung pada dirinya. Sedangkan Doni sendiri seolah tak memperdulikan hal tersebut, ia lebih asik dengan dunianya sendiri, dunia warung kopi. Namun mau sampai kapan ingin seperti itu pikir Andy dalam hatinya selama ini.

Dan Siang itu ia telah ia telah memantapkan hati, bahwa besok ia akan berangkat ke Surabaya. Mencari asa dan masa depan disana, dan selain itu ia ingin memberikan pembelajaran buat kakaknya tetsebut.

Dan benarlah bahwa Minggu siang itu ia berangkat dengan diantar oleh Kakaknya. Kakaknya terlihat seperti orang bingung, Andy tahu itu namun ia tetap mantap melangkah bahwa ia ingin agar kakaknya belajar akan arti kemandirian dan tanggung jawab. Andy tak akan pernah meninggalkan kakaknya, ia hanya ingin agar Tuhanlah yang beberapa saat membimbingnya dalam didikannya. Beberapa saat kemudian Bus kota yang di tumpangi Andy pun meluncur dari terminal.


*sumber gambar: www.pinteres.com

Monday, May 4, 2015

Dimanakah ?













Cinta, dimanakah dirimu ?
Apakah selama ini kau sengaja menghindar ?
Apakah kau tak mau bersua denganku ?
Selama ini, diriku hanya mendengar kabar,
Isu dan hal yang manis - manis tentangmu,
Tapi aku benar - benar belum mengenalmu jauh,
Aku hanya menerka, berguman dan berimajinasi tentangmu.
sekali lagi,
aku ingin tanya kepadamu,
Dimanakah dirimu ?
Mendekatlah,
berilah aku kesempatan untuk mengenali dirimu.

Sunday, May 3, 2015

Melepas Sahabat di Stasiun Tugu


Malam ini akan menjadi malam yang tiada mudah bagiku. Karenamu akan tiada lagi di kota yang mana menjadi saksi akan persahabatan kita selama ini. Wisuda telah berlalu dan sudah saatnya bagi kita untuk meraih impian masing - masing. Kau akan pergi meraih mimpimu di Kota kelahiranmu begitu pula denganku.

Stasiun Tugu kota Yogyakarta. Aku masih duduk dalam peron menunggu penumpang, mengantarmu yang kini sedang asyik menjajalkan hvs cetakanmu di loket penukaran tiket tersebut. Suara sirine khas stasiun terdengar beberapa kali dari pengeras suara. Aku hanya senyum sendiri, dan entah mengapa tiba-tiba aku ingat kala itu. Pertemuan kita di tempat ini kawan. Hari ini tepat empat tahun yang lalu. Pertemuan tanpa sengaja itu menjadi hal yang tak akan pernah mungkin bisa aku lupakan.

Kala itu Kereta yang kau tumpangi dari Jakarta baru saja berhenti, kemudian Kau yang berlari - lari dengan tas travel mu kala itu. Seperti orang kerasukan yang ingin segera keluar dari stasiun. Aku sudah setengah jam di stasiun Tugu waktu itu, keretaku yang dari surabaya telah berhenti pukul pukul 15.30. Sembari sore, kala itu aku mencari Wifi gratis di Sana. Lumayan setengah jam buat download video dari chanel langgananku di Youtube. Dan setengah jam kemudian itulah keretamu datang. Aku aku beranjak bangkit dari kursi tunggu untuk melangkah keluar dari stasiun untuk menuju tempat kost yang kupesan tempo hari. Aku jalan santai sambil membawa barang bawaanku, Dan entah apa pasal tiba - tiba tas travelku yang kupegang disampinh itu mendadak jatuh karena tanganku tersodok oleh tas mu dari samping. saat kau lari kala itu.
"weih ... santai bung, santai" spontan kataku.
"Eh sory sory mas lagi buru - buru" jawabmu kala itu.
"Buru-buru ya buru - buru tapi biasa juga kali mas, moga aja ga ada barangku yang rusak"
"Maaf mas, gua ganti kalo ada yang rusak"jawabmu
"Orang ini sepertinya dari Jakarta kalo dilihat dandanan sama bahasanya" jawabku dalam hati.
"Ok aku cek dulu" singkat.
Kemudian kubuka tas travel kecilku itu, kulihat isinya sebab ada tablet baru yang kutaruh disitu. Untunglah tak ada yang rusak. 
Sekali lagi kau ucapkan maaf, dan tanpa panjang lebar kaupun berlalu karena kau sedang ditunggu oleh seseorang katamu. Kenangku.

"Za, bentar ya" teriakmu.
Kulihat kau masih mengantri tiketmu.
Dan akupun kembali dalam kenangan itu.

Aku bergegas keluar, menuju halte transjogja menunggu tumpangan. Masih sempat kulihat kau bersama seseorang dan kemudian masuk kedalam mobil sedan itu. Dalam halte diriku sedikit termenung, aku merasa seperti pernah melihat orang ini sebelumnya, tapi kapan dan dimana pikirku terheran - heran. Kemudian beberapa saat kemudian terbesit bahwa ia pernah kulihat dalam mimpiku beberapa hari yang lalu. Ya dalam mimpi, tidak salah lagi. Apakah ini pertanda akan sesuatu ? Entahlah aku masih terheran heran. Dan seperti mimpi yang menjadi nyata, ternyata tiada sangka bahwa kau sekampus denganku, sejurusan bahkan sekelas. Apakah ini kebetulan, tiada tahulah.
Dan semenjak perkenalan di ospek itu hingga saat ini kaulah sosok sahabat terbaik itu. Sahabat dalam segala hal.

Namun waktu terus berlalu dan sudah hukum pasti bahwa akan selalu ada fase datang dan perginya seseorang dalam hidup, entah sahabat, pacar,orang tua ataupun orang orang yang berarti lainnya.
Kini di depanku sana, akan ada sesosok sahabat yang akan berlalu dari hidupku, waktu begitu cepatnya, kukira baru kemarin saja kita bersama dan mencari asa di kota ini. Kini 15 menit lagi, kereta dari surabaya akan datang dan akan membawa sahabatku ini ke tanah kelahirannya. Jakarta.

"Sory ya lama, panjang banget antriannya" 
"Iya, ga apa eh. Gimana sudah clear semua ?" jawabku
"Tinggal nunggu keretanya saja ini Za, paling bentar lagi datang juga tu kereta"Katamu

"Gue bakal kangen banget sama loe nanti Za, gila... tak terasa ya udah empat tahun kita bersama"
"Ya begitulah Jim, tapi ini bukan akhir dari persahabatan kita kan""Ngomong apa eh, ya ngga lah Za, kita kan masih bisa telponan, chat atau skype. santai bro, loe sahabat gue selamanya"Jawabmu
"Iya iya, tapi gak serulah kalo lewat gadget" kulihat kau paham maksudku itu.

Tak lama kemudian kereta Sembrani dari surabaya telah datang, terdengar riuh pengeras suara stasiun dan suara kereta datang mendekat. 
Jimmy sudah siap dengan segala bawaannya, ia berdiri akan menuju ke kereta itu. Aku juga ikut berdiri menentengkan tasnya yang lumayan besar itu. Jujur ada perasaan sedih dalam diri, namun rasa itu terkikis oleh harapan dan impian masa depan yang sering kami bicarakan.
"Hati - hati Jim, sampai jumpa lagi lain waktu. Ingat janji kita ya" kataku sambil memberikan salam persahabatan khas kami

"Siap bos, gue udah buat semua note-note gue tentang hal itu"jawabnya seceria mungkin. Namun aku sudah paham betul mimik sahabatku ini, kulihat matanya tak bisa menyembunyikan rasa berat perpisahan ini. Namun apalah daya, hidup harus terus berjalan. Iapun lalu melangkah ke dalam kereta tersebut. Di peron, diriku masih menanti keberangkatan kereta itu.
"Tungtungtungtunggggg,tungtungtungtungggg,tungtubgtungtung ..." keretapun berjalan perlahan dan pergi membawa semua kenangan itu.

"Tak apalah 5 tahun lagi kutunggu kau disini dan di jam ini dengan membawa kesuksesan masing-masing" itulah janji kami.


*Sumber gambar :Inijogja.co.id/stasiun-tugu/

Saturday, May 2, 2015

Mengalir melambai













Saat kulihat tetesan embun,
kulihat cahaya kehidupan begitu terang,
kelipan kejernihan yang begitu menggoda,
membuat diriku syahdu ingin merasakan kemurniannya,

kupalingkan wajahku ketika suara gemericik membuai,
terdengar jelas ia dari sisi belakangku,
entah dari mana asalnya,
akan tetapi disitulah terlihat pendaran airnya,
embun berharap tuk ikutinya,

kini di depanku kejernihan dan cahaya semakin jelas,
bahkan akupun bisa melihat diriku darinya,
Mataku mencoba memahami,
perlahan air tersebut berkumpul,
namun ia tiada diam,
ia bergerak takjub melalui celah - celah bebatuan didekatku itu,

kucoba mengikuti kemana arahnya,
langkah demi langkah terus terjalin,
diripun tercebur dalam sandiwara keasyikan,
terlupa sesaat akan sang waktu,

mengapa ia terus mengalir cepat saat ini,
namun kadang ia mengalir begitu pelan membingungkan,

ya, kulihat itu semua,
begitu tegar,jernih dan menyegarkan,
kuliat air suci itu berkumpul bersatu,
berkawan jutaan bulir lainnya sekarang,

Dan kini semakin terang pula kulihat,
dan ya itulah,
itulah dirimu yang kelak kan menirunya.

Friday, May 1, 2015

Akan Berlalu Begitu Saja


Dikala terasa dinginnya hawa subuh hari, terdengar suara angin angin sepoi menerpa pohon di luar tenda ini, di puncak bukit G.prau ini. Cukuplah enam jam bagiku untuk memulihkan kesegaran diri ini. Bersama tiga sahabat yang menemani pendakian ini, mencari sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata. karena kata - kata kadang membuat batasan - batasan tersendiri yang tak bisa diganggu lagi, 

Refresing adalah kamuflase bagi kami berempat, namun anggap saja benarlah demikian apa adanya.
Aku bangun lebih awal, kulihat dalam remang tenda wajah - wajah yang selalu menemani dan memberi arti dalam setiap langkah perjalanan waktu ini. Wajah Ketegaran, semangat, keceriaan terlihat damai kala itu. Biarlah mereka istirahat dulu, menikmati jamuan belaian dekapan bukit ini. Akupun keluar dari tenda perlahan. Hawa dingin bukit ini begitu terasa meskipun sudah kukenakan jaket tebal sekalipun. Tanda tanda subuh hari mulai menampakkan diri, dibalik ufuk nan jauh pendar - pendar cahaya mulai nampak. Dari sini terlihat jelas kerlap kerlip lampu perkampungan nan begitu mempesona terpajang sepanjang mata memandang. Awan - awanpun tak lupa datang untuk menyapa beriringan dengan cantiknya.

Diriku takjub namun ada juga perasaan luluh datang menghampiri, teringat akan beberapa tahun yang telah berlalu, teringat akan perjalanan hati yang selalu mencari - cari  meraba - raba dalam kebutaan,akan tempat berlabuh yang dinanti - nanti. Begitulah tempat singgah yang telah terlewati hanya menjadi puing - puing harapan dan kekecewaan yang sering berlanjut. Dan hanya menjadi kenangan kosong yang tiada layak jadi cerita bagi anakku nanti. Memanglah benar kata bahwa diri ini tiada pandai menemukan tempat singgah yang tepat. Bahkan pernah onggokan kayupun kuanggap sebagai dermaga. Mengapalah begitu konyol apa yang telah kulalui tersebut. Hanya renunganlah tersurat jika teringat akan itu. Namun tak apalah, kesalahanku dimasa lalu tersebut adalah nilai yang amat sangat berharga yang akan selalu menjadi pemandu dalam perjalananku ini, Dan kuketahui bahwa selama ini diri ini sejatinya belum benar - benar singgah, ku hanya megaitkan tali kapalku dan belum beranjak darinya.

Ah, sudahlah. Betapa bodohnyalah diriku jika memikirkan hal itu disini. Apalah gunanya sesal ? tak ada yang dapat terubah dari sebuah penyesalan. kupilih tegar dalam memandang semua akan berlalu dan tertinggal bersama waktu. 

Sunrise tinggallah beberapa menit lagi, dan di depan tenda disana sahabat - sahabatku sepertinya sudah bersiap - siap untuk menanti pagi ini.

"Hoiii Cepetaan, kamera jangan lupa " seruku lantang

Daniel, Akbar, Arri dan Deni sahabatku, juga keluargaku. Mereka rumah terbaikku di Jogja dan di perjalanan ini. Dan pagi itu kamera dan G.Prau ini menjadi ice moment, perekat hubungan persahabatan kami. Semoga persahabatan ini akan kian bersemi lagi. 


*sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com/

Thursday, April 30, 2015

A Perfect Lie


Kata memang ampuh,
Bisa kaubelok bisa kau bumbu,
Kadang elok kadang seperti racun,

Namun satu hal,
Raga itu selalu jujur,
Tak urus semua yang terucap,

Kau pernah bertanya,
Mengapa mataku ini selalu jujur,
Sungguh ta sanggup,
Tak sanggup kataku yakinkanmu,

Aku heran, Segalanya jujur,
Terkecuali lidah dan persangkaan, Namun kenapa bisa lidah menguasai kita ?,
Dan sepertinya kita membiarkannya,
Kamulah penentunya.

Wednesday, April 29, 2015

Aku Insaf Mencintaimu

Bila diingatnya akan masa lalunya, akan buah – buah cerita karangan yang selalu diilhaminya. Apakah benar seperti inikah kenyataan yang harus benar benar diterimanya. Kenyataan yang berbilang terbalik dari semua angan yang ia telah gantungkan kepadanya. Semua rangkaian kisah yang telah ia susun dalam benaknya akan kisah hidupnya yang dicarinya, kini hanyalah puing – puing kebahagiaan semu. Sekarang telah jelas bagaimana kelanjutan akan hubungannya. Hubungannya dengan seseorang yang dikiranya kelak akan menjadi iman dalam hidupnya.

Sekarang apalah yang akan diharapkan karena semua telah jelas. Ketika cinta suci kesetiaan menjadi hal yang tak lagi bisa masuk akal. Namun sungguh apa dikata, entahlah mengapa dalam hatinya ia belum bisa menerima semua apa yang talah nyata akan perbuatan tunanganya itu. ia terheran – heran dengan dirinya sendiri bagaimana ia bisa begitu cintanya dengan orang yang tak telah melukai hatinya bertubi - tubi. Sekali dua kali mungkin wajar saja. Namun untuk kesekian kalinya dan ia masih mencintainya, apalah itu namanya. Apakah benar demikian itu yang dinamai cinta. Begitu bodoh dan butanya diri dibuat oleh itu perasaan. Alangkah buruknya apa yang bersembunyi dibalik perasaan jika demikian adanya. Ini pulalah yang sekarang dirasai oleh Dinda, yang sedang bermenung – menung dalam kamarnya. Mengingat semua apa yang telah dilakukan oleh tunangannya itu padanya kemarin malam serta kesakitan di untaian hari – hari silam.

Kemarin malam, saat ia berkehendak untuk membeli sepasang baju untuk oleh – oleh untuk kedua adiknya di sebuah kompleks pusat perbelanjaan & hotel di pusat kota jogja yang termahsyur itu. ketika telah sampai di dekat gerbang masuknya, terlihatlah sebuah mobil sedan putih. Mobil yang sangat tidak asing baginya, mobil dari seseorang yang menjadi impiannya serta ibadahnya selama ini, Hasan. Entahlah apa yang terlintas dipikirannya, terasa sedikit kejanggalan pikirnya. Tadi siang ketika hendak menyampaikan ajakannya pada Hasan untuk menemaninya. Hasan berbilang bahwa akan ada pertemuan pekerjaan penting dengan seseorang dari Surabaya hingga nanti malam. Ia berbilang bahwa jam 10.00 ia baru akan mengunjungi Dinda jikalau tak ada alang rintang menghadang. Sekarang baru setengah tujuh malam dan pertemuan seharusnya masih berjalan. 

Dinda berdiri tegak didepan gerbang plaza tersebut, matanya mengiringi gerak laju mobil itu berhenti. Dilihatnya agak begitu samar dalam kejauhan, ternyata benarlah apa yang ia duga. Itu Hasan, namun mengapa ada seorang perempuan juga turun dari mobilnya. Apakah itu orang yang dari surabaya yang dimaksudnya. Bukankah kalau tak salah ingat Dinda, hasan mengatakan kalau klien tersebut bernama Pak .... ah lupalah ingatan Dinda. Namun apa yang dilihanya kini ini apakah Pak ....dalam benak terngiang beribu suara lidah berbisik mengajak berprasangka buruk. Gejolak hati tak terbendung lagi, rasa sakit yang selama ini berusaha ditutuppinya terkoyak lagi sebegitu besarnya membekas di hatinya. Seperti tidak terima, hatinya mengajak dirinya untuk bergegas ke hotel yang tidak jauh dari tempat berdirinya sekarang ini. Meminta penjelasan, pengakuan serta kebenaran akan semua ini. Ia sungguh berharap bahwa apa yang dilihatnya tiadalah benar-benar nyata. Karena entah mengapa ada sudut kecil dihatinya yang masih akan terus berharap akan cinta dari Hasan yang sudah benar – benar jelas akan belang dalam dirinya.

Ia berjalan lemah menuju hotel itu,tak terasa air mata Dinda menetes, gemuruh perasaan dihatinya bergelut begitu hebatnya dalam hatinya. Berperanglah antara pengharapan dan kenyataan dalam dirinya. Langkah – langkahnya seperti tak tentu arah, biarlah kaki saja yang menentukan tak perdulilah ia. Kini di pelataran depan hotel tersebut. Ia hanya menerawang seperti tak percaya, dilihatnya tunangannya tersebut bergandengan tangan begitu mesranya dalam lobby sana. Ia terpaku diam di pelataran tersebut berkhidmad mencoba memahami semuanya. Dinikmatinya kesakitan itu, ditelannya sesuka hati, biarlah puas derita diri ini menanggung butanya mata hatinya. Hilir mudik orang turun dari mobil mereka menuju hotel tak adapun dipedulikannya, bahkan sapaan santun dari karyawan hotelpun tak ditanggapinya. Hanya senyuman getir dibalaskan pada karyawan tersebut. 

Setelah sekian lama masuklah ia kedalam hotel tersebut, ditanyainya receptionis hotel tersebut mengenai seseorang yang bernama Hasan adakah benar menyewa kamar di hotel tersebut. Dibenarkanlah keterangan tersebut, Dinda mencoba menanyakan di kamar mana Hasan berada, namun apalah guna karena barang tentu hotel bintang lima seperti ini tak akan pernah memberitahukan informasi pribadi akan para tamu-tamunya. Dindapun mengetahui hal ini, pikirnya barangkali sang resceptionis tersebut berbelas kasih atau sekali akan khilaf memberitahunya. Iapun menuju sebuah sofa di sudut lobby yang tak terlihat dari arah dalam. Berduduklah ia disana sambil memutar balik segala ingatannya akan kisah dirinya bersama Hasan, satu demi satu dicoba di bukakan bebal benang dalamnya. Dalam kesendirian tersebut terkadang ia tersenyum getir, tertawa tiada jelas, dan terkadang muram serta sesal saja tegambar di raut mukanya kala itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 9.15 malam, Dinda telah sadar akan keadaannya. Kendalinya sudah terjaga dan yang terpenting ia sudah memiliki keputusan dalam hatinya. Tak berapa lama terlihatlah olehnya Hasan dengan wanita tersebut di Receptionis, gelegak tawa ringan menghiasi diri mereka. Dinda benar – benar muak melihat semua itu berdirilah ia. Kemudian dihampirinya Hasan yang tengah beranjak menuju pintu keluar.

“Hasan”Panggil dinda dari belakang. 

Hasanpun berbalik mengikutu arah suara itu berasal. Terkejutlah ia akan sesaat. Dan bingunglah wanita disampingnya, dan sepertinya menanyakan sesuatu kepada Hasan dengan berbisik pelan. 

entahlah, saya tak tahu

Tertusuk sedalam – dalamnyalah hati Dinda mendengar kata – kata itu, tak sanggup lagi ia berkata – kata, air mata telah bengalir deras dimatanya. Diambilnyalah cincin pertunanagan di jarinya. Dan dilemparkanlah cincin itu kepada Hasan, dan berlarilah ia keluar dari hotel itu. mencari taxi untuk mengantarnya pulang ke Kostnya. Hasan sembari tadi hanya tercengang saja, seperti tak memahami apa yang telah terjadi. Bodohnya pria tersebut, yang menganggap perasaan sebagai permainan belaka. Dan membiarkan berlian jatuh kedalam derasnya arus sungai. Semalaman itu menangislah dinda dalam kamarnya, dering telpon maupun pesan dari Hasan tak tihiraukannya lagi. Baginya cukup, cukup sudah semua kesakitan dari pria bernama Hasan itu. ia benar – benar insaf. Dan tak ingin lagi memberikan kesempatan perasaan cinta tersebut berkembang lagi. Meskipun tak tipungkiri pula bahwa ada sudut kecil dihatinya yang telah terpatri akan diri hasan yang tak akan pernah ia bisa hapuskan. 

            Pagi tadi sempat dibukannya berbagai pesan dari hasan di Media sosial maupun di pesan instan. Permohonan maaf, itulah semua yang tertulis, ia sangat menyesal. Dinda telah bulat, pertunangan ini tak bisa dilanjutkan lagi. Kardus telah siap, dan akan diantarkanlah Kardus itu tadi ke Kontrakan Hasan di Jogja. Biarlah semua kenangan maupun harapan yang tersimpan dalam kardus tersebut dibalikkan kepada pemberinya. Seseorang yang belum memahami akan kesetiaan dan pengorbanan cinta dari seseorang. Biarlah Tuhan yang akan mengajari dan menyadarkan akan kebebalannya itu.

Tuesday, April 28, 2015

Bunga Kemarau









Hanya air,
Maka bunga akan tersenyum indah kepada dunia,
Begitupun sebuah jiwa,
Butuh air seperti bunga,
Ia selalu menanti datangnya hujan,
Berkah Tuhan yang selalu dirindukan.

Sekian lama ia menunggu,
Dalam balutan kemarau panjang ini,
Tiada sangka tiada duga,
Muncullah keajaiban yang menghanyutkan hati,
Tiba-tiba ada air deras mengucur diatasnya.

Lantas terbukalah mata itu,
Cahaya kecil merambat perlahan di sorotnya,
Terlihat sudah siapa gerangan malaikat itu ,
Tertegun terdiam,
Biarlah mata dan raut muka itu saja yang menjelaskan
akan pengharapan dihatinya.