Thursday, November 19, 2015

Joni Telah Pergi

Denting suara jarum jam bergema pelan di dalam pikiran ini, tiap detik yang ditempuhnya semakin memperdalam halusinasi. Aku yang seorang diri bertemukan mata ini pada sebuah album foto yang tak sengaja dahulu terabadikan. Foto yang tidak lain hanyalah beberapa gambaran tak bertema seperti kail pemantik masa lalu. Dalam album itu terdapat kumpulan foto – foto yang diambil saat acara kantor di tepian pantai barat setahun silam. Acara yang biasa dilakukan ketika ada karyawan baru dari kantor. Semacam penyambutan. Kala itu acara dibuat untukku, seseorang dari tanah jawa yang baru saja lulus dari bangku kuliah. Seseorang yang baru menginjakkan kaki di tanah kalimantan. Serta seseorang yang belum begitu paham akan bahasa persahabatan. 

Mataku masih saja terpana pada sebuah foto selfie yang entah mengapa dua hari ini selalu menjadi perhatian dalam benak ini. Membayang selalu dan entah mengapa foto ini membuat diri ini jatuh kedalam kubang kesedihan, kesedihan yang hadir karena kerinduan yang muncul begitu saja terkenang akan masa lalu. Didalam foto tersebut terbingkai kami berlima dari divisi finance yang sedang asik menikmati senja bersama – sama, berlatar langit senja dengan kawan lain yang sedang asik dengan bola volinya. Aku, Joni, erwin, Daniel dan Robert. Namun entahlah, mengapa mataku tak berhenti untuk memandangi orang yang satu ini, Joni. Si raja lawak yang baru saja mengajukan resign dari kantor untuk melanjutkan pendidikannya ke inggris. 

Joni adalah orang pertama yang kukenal di kantor ini, itupun ia yang berinisiatif memperkenalkan diri kepadaku. Ia memang kocak dan tindakannya sangat konyol bahkan terlihat bodoh. Meskipun aku tak pernah tahu pasti akan bagaimana sebenarnya dirinya.Karena aku memang jarang menggali informasi akan dirinya bahkan ketika ia kerap kali mencoba ingin menjalin persahabatan denganku, namun yang kadang mengherankanku ialah ia termasuk karyawan berprestasi di kantor. Di kantor aku memang dikenal sebagai orang yang dingin, serius dan kurang humoris. Jadi mungkin wajar hanya beberapa orang saja yang ingin berdekatan denganku, Selebihnya tak lebih dari sekedar hubungan professional kering belaka. Namun joni tidak demikian, ia tak mempedulikan perkataan atau anggapan tersebut. Ia sepertinya malah ingin berteman denganku meskipun seringkali aku bersikap seperti tiada peduli dengan hal tersebut. 

Entahlah pikiranku kembali menerawang saat mendengar kabar pengunduran dirinya lusa kemarin. Pagi itu aku seperti biasa, berjalan kaki ke kantor yang terletak di area perkantoran kota pontianak. Jarak kantor memang tak begitu jauh dari kontrakanku. Pagi itu kujumpai Joni yang juga hendak berangkat kerja 

“Hei,good morning, How are you buddy ? tanyanya riang 
“Baik”. Jawabku singkat dan tak acuh 
“How about your weekend ?” 
“baik. eh, kau lahir di inggris ya ? ”sindirku 
“wow, no no no. Im indonesian. Im just trying to get better on that language”. Jawabnya melawak. 
“Do you have hear any rumors ?” sambungnya 
“Rumor apa ?”
 “ohh, nothing. forget it” 

Dan tak berselang lama kami sudah sampai di kantor. Kami seruang karena memang berada pada divisi yang sama, divisi finance pada perusahaan pertambangan biji besi yang berkantor pusat di Pontianak.  Meja kerja Joni berada di seberang pojok yang agak jauh dari mejaku. Pagi itu suasana ruangan finance terasa ada yang sedikit berbeda, kulihat beberapa staf HRD mengunjungi Joni untuk kesekian kali. Entah apalah gerangan, tak tahuku pasti hanya tidak seperti biasanya saja. Pada sekitaran pukul 10.00 ia menyampaikan perihal pengundurannya. Aku terkejut mendengarnya. Seperti tidak percaya saja akan hal itu. Memang aku bukan orang yang begitu peduli dengan dirinya selama ini, bahkan acapkali aku meremehkan leluconnya yang kurasa kurang menarik. Namun dia tidak pernah menghindar karena sikapku tersebut. Bahkan ia berusaha untuk menjalin persahabatan denganku. 

Tapi kenapa disaat ia akan pergi kurasakan seperti ada yang hilang. Entah apa sebab namun demikianlah adanya. Tak lama kemudian Daniel menghampiri Joni yang memang meja kerjanya tidak begitu jauh. Kudengar agak jelas percakapan mereka. 
“Jon, tak ada hujan tak ada angin, kau tiba-tiba hendak resign. Ada masalah sama bos ?” Tanya Daniel 
“Haha gak ada, aku cuma mau melanjutkan studi. lamaran beasiswaku ketrima” jawab Joni 
“Kemana ?" 
“Ke Inggris, chevening award” “wahhh, hebat kau” 
Erwin dan Robert pun segera bergabung dengan mereka. Ditanyailah Joni oleh mereka. Sedangkan aku masih saja berpura –pura sibuk dengan laporan bulanan. Padahal telinga dan pikiran ini tertuju kepada perbincangan mereka. 
“kapan kau balik ke jakarta ?” tanya Erwin 
“Besok pagi” “Wah buru - buru amat, Okelah good luck aja jon, jangan lupa ngasih kabar ke kita ya” sahut Robert 
“ sippp” jawabnya sambil tersenyum tipis 

Waktu menunjukkan waktu istirahat siang, semua karyawan satu demi satu bergegas keluar. Kala itu aku masih dalam ruangan dan joni terlihat sibuk mengemasi barang – barangnya. Tadi ia sudah berpamitan dengan teman – teman kantor lainnya. Tinggal aku saja sepertinya belum menanyai, entahlah mengapa egoku begitu besarnya, bahkan untuk sekedar menanyai seseorang yang tak akan lama lagi hendak pergi. 

Dan akhirnya ia datang sendiri kepadaku 
“Hei Ron, kelihatannya lagi sibuk ni “tannyanya 
“iya deadline akhir bulan”jawabku
“Ron aku pamit dulu ya, sorry kalau mungkin selama ini aku ada hal – hal yang kurang berkenan” tuturnya serius meskipun kulihat ada keharuan di wajahnya. 

Aku tak memberikan sebuah jawaban, hanya sedikit menganggukkan kepala. Meskipun sebenarnya aku ingin bercakap banyak hal padanya. Lidahku seperti terkunci untuk berbicara. Aku ingin berterima kasih kepadanya. Terima kasih karena tanpa kusadari kekonyolannya selama ini memiliki tempat tersendiri bagiku. 

“Ok Sob, aku cabut dulu. See you next time” ucapnya sambil menyalami ku. 

Dan iapun segera berlalu. sungguh kusumpahi diriku saat itu, mengapa hanya berdiam diri saja tidak berusaha melakukan sesuatu untuk memberikan kesan terakhir, sebuah penghormatan kepada seseorang yang mungkin takkan berjumpa lagi. Lalu tanpa berpikir panjang, segeraku bergegas turun ke lobby bawah untuk mengejar Joni, kutinggalkan meja kerjaku berserakan dengan laporan yang belum selesai tersebut. Hah apalah pentingnya kertas – kertas berangka bodoh tersebut. Esok juga kan kujumpai lagi. 

Joni sudah berada di lobby utama gedung kantor, kususul ia segera. Setelah ada tak jauh darinya kupanggil ia 
“Jon, tunggu” 
“Hei, ada apa ron ?” sedikit keheranan 
“besok kau terbang jam berapa ? 
“ jam 7 pagi”
“besok ku antar ke bandara ya ?” 
“mmm, bolehlah kalau kamu ngga sibuk” mukanya keheranan melihat tingkahku 
Itulah mungkin kesempatan terakhir, aku tak ingin sesal panjang menghampiriku karena ego ini. 

Esok pagi kujemput joni di kontrakannya, kusewa sebuah mobil MPV untuk mengantar ia ke bandara supadio di Kuburaya. Aku tak peduli kalo hari ini harus telat untuk bekerja ataupun kalau perlu tidak masuk saja sekalian. Ia nampak heran melihat tingkah ku ini. Mungkin ia baru kali pertama ini melihatku berbuat seperti demikian. Ia hanya tersenyum pagi itu, mungkin ia melihatku lucu saja orang yang begitu dingin ini kiranya juga bisa melakukan hal – hal yang aneh juga. Jam 6.35 sampailah kami. 
“Makasih Ron sudah mau repot – repot ngantar ke sini” 
“biasa ajalah”jawabku 
“Oke, pesawatnya kayaknya udah mau berangkat ini, aku harus segera cabut. eh, nanti jangan lupa ngasih kabar” 
“Dan aku pengen pesen padamu, kau jangan terlalu serius – serius amatlah, kamu harus banyak tertawa” katanya dengan mata meyakinkan. 

Kemudian ia menyergapku untuk beberapa saat lalu segera bergegas masuk ke dalam bandara. Aku masih berdiri di lobby depan mencoba mencerna kata-kata yang barusan diucapnya tersebut. Sekarang barulah aku tahu akan apa yang ia lakukan selama ini dengan segala lelucon itu. Tepat jam 7 pesawat yang di tumpanginya segera lepas landas. Dan pesawat itupun kini telah berhasil membawa sepotong bagian dari kehidupanku yang maknanya baru kusadari saat ini. Selamat jalan kawan terima kasih atas hiburannya selama ini, semoga kelak dapat berjumpa kembali. 

Kututuplah album itu dan segera kumatikan ponselku.         

Sumber gambar: amitytravel.co.id

Friday, August 14, 2015

Maafkan Ibumu Ini Nak

Hari telah larut, kumandang isya telah terlantun lama ketika di bagian kecil desa itu, disebuah rumah yang berhiaskan lampu – lampu neon yang temaram tenang itu di datangi satu demi satu tetangga maupun kerabat yang seolah tergesa – gesa ingin masuk kedalam rumah sederhana itu. apalah gerangan terjadi dirumah itu ? adakan sesuatu hal yang mengusik warga dari rumah itu ? ah, bukanlah demikian adanya.

Beberapa orang ibu – ibu yang tak lebih dari empat orang bergerombol di depan rumah itu, di dalam sepertinya sudah tak ada tempat lagi. Mereka terlihat serius sambil berbisik – bisik pelan dengan ekspresi yang sangat aneh, antara keheranan, penasaran, atau mungkin rupa-rupa perumpi tepatnya. Sekilas terdengar percakapan mereka.
“Makin parah sepertinya” kata seorang ibu - ibu
“Iya ya Bu, Mungkin sudah waktunya kali”sahut seorang ibu – ibu pendek disampingnya
“Aduh Bu, jangan ngomong yang tidak –tidak” ibu – ibu satunya

Ya begitulah sekilas, dan di beberapa tempat di dalam kasak – kusuk juga tak henti hentinya terdengar di sudut rumah itu. Ternyata sumber dari segala kasak kusuk yang jadi di dalam rumah itu adalah seorang nenek tua yang sedang terbaring lemah di kamarnya. Namanya Surati.Dikamar itu ia tidaklah sendiri, di sekelilingnya nampak banyak ibu – ibu yang mengelilingi tempat tidurnya. Ada yang berdiri dan ada yang duduk khidmat. Muka mereka semua seoalah berpadu untuk menampakkan keprihatinan melihat sosok nenek tua yang mungkin sedang berjuang dengan hidupnya. Berjuang dalam bilik kehidupan bersamping dengan pintu keabadian yang mendekat. Disamping nenek itu terlihat seorang dokter pria muda bersama seorang lelaki berusia 40han yang bersimpuh disamping nenek itu. itulah Pak Alim, anak bu surati. Muka lelaki itu berkalut duka, air matanya mengalir terus seiring dengan kalimat – kalimat doa yang ia lantunkan tak henti – hentinya.

Sang nenek hanya diam saja namun nafasnya terlihat berat dan tersengal – sengal. Dadanya naik turun seiring dengan usaha menarik udara masuk kedalam paru – parunya. Matanya masih terbuka memandang lurus keatas dinding kamar, ia masih sadar namun seluruh badan sungguh terasa berat dan tak mau digerakkan. Lunglai tak berdaya di atas dipan. Beberapa saat kemudian terlihat, ia dengan lirikan pelan matanya mencoba memandangi orang – orang yang berada di dalam kamar itu. satu per satu dipandanginya. Ia kenal mereka semua. mereka semua adalah para tetangga, cucu serta sanak keluarganya.

Dan tiba tiba entah apa yang terjadi pendengaranya seperti mendengar dengkingan panjang yang aneh dan tiba – tiba ia tidak bisa mendengarkan apapun dan seperti tertarik kebelakang oleh waktu, ingatanya kembali 25 tahun yang lalu. Dilihatnya dirinya yang sedang duduk anggun di belakang bendi bersama suaminya tercinta, Pak Darno beserta kedua anaknya Alim dan Nurti yang masih berusia belasan. Bendi itu akan mengantarkan mereka ke rumah baru, rumah yang begitu di idam – idamkan olehnya, rumah hasil kerja kerasnya selama lima belas tahun menjadi juragan tanah di desa tersebut. Dan kebetulah hari itu adalah tahun ke 15 usia pernikahannya. Ia mengadakan hajat besar syukuran di rumah baru itu. seluruh warga desa diundang dan terhitung ada tiga sapi yang di sembelih untuk mengadakan hajatan. sungguh suatu bentuk pagelaran kemakmuran bagi ukuran warga di desa kala itu. Ia sungguh gembira bagaikan seorang yang teramat penting, disambut banyak orang orang yang sudah berjejer rapi menghadiri pesta hajatan didepan rumah besar baru tersebut.

“Selamat ya Yu, selamat ya Mbok Dhe, selamat ya Mbak” berbagai ucapan membanjirinya

Sungguh gagah memang rumah barunya itu, sebuah rumah kayu bergaya jawa klasik yang nampak megah dengan tiang-tiang kayu jati nan kokoh berhias dengan ukiran-ukiran jepara yang tiada duanya. Sungguh wajah kepuasan dan kebanggaan nampak di wajahnya kala itu. sebuah pencapaian yang luar biasa dimasanya. Namun mengapa tiba-tiba rumah yang dilihatnya itu kabur dan lama lama menjadi gelap dan berubah kembali seperti semula, wajah-wajah haru yang mengelilinginya. Sungguh apakah ini sebenarnya, manakah ini yang nyata, mengapa ia berlalu cepat.

“Mak, cepat sembuh Mak” seru Pak alim dengan suara serak

Tak berselang lama ia merasakan bahwa salah satu tangannya dipengang oleh seseorang, genggaman itu dikenalinya, genggaman dari anak laki – lakinya yang bersimpuh disamping dari tadi. Laki – laki itu menaruh kepala diatas genggaman tangan ibunya. sang ibu yang dalam ketidakberdayaan masih bisa merasakan bulir – bulir air mata hangat jatuh di genggaman tangan itu. Dadanya tiba - tiba bergemuruh, muka sang nenek tiba – tiba mengkerut seperti orang yang hendak menangis namun wajah itu itu terlihat janggal yang terlihat hanya matanya yang kian menyipit dan muncul rembesan – rembesan kecil di pelupuknya membentuk aliran kecil.

Kemudian teringatlah ia akan segala tindak budi kepada kedua anaknya, Alim dan Nurti di tahun tahun yang telah berlalu lama. Sungguhlah penyesalan yang teramat berat dirasainya saat ini jikalau mengingat itu. Ingatlah ia bayang – bayang dirinya yang sedang memaki – maki Alim. Kala ituAlim datang menanyakan kejelasan akan tanah yang ditinggalinya kala itu. Alim hanya bertanya karena ia mendengar dari istri barunya bahwa Nurti ( saudaranya ) telah dibagi atas hak tanah rumahnya, bahkan Nurti mendapat 25 persen lebih banyak termasuk rumah itama milik ibunya.

“Mak, katanya si nurti baru saja balik nama sertifikat rumah ini ya Mak ?”

“Ia lim, kenapa ?” jawab Bu Surati

“Oh, ya syukurlah mak. Saya hanya ingin nanya  tanah rumah saya itu mak, gimana itu kapan sertifikatnya bisa saya pegang sendiri ? terus tanah yang di tegal itu jadinya milik nurti semua ya mak”

“Kamu ini gimana to Lim, masih syukur – syukur kamu masih tak beri tanah buat didirikan rumah, sertifikat mah biar aku saja yang bawa”jawab bu surati

“Saya hanya pingin kejelasannya mak, tak ada maksud lain – lain”

“Alah Lim, wes wes. Kapan – kapan saja. Kamu ini dari dulu selalu sewot dengan apa yang mak lakuin, dari duru selalu ngeyel ( membantah )”

“Tapi Mak, biar jelas. Saya iklas kok Nurti mak kasih jatah lebih banyak dari saya. Saya Cuma ingin kejelasan dari rumah saya itu mak”

“Ealah, kamu ini emang ngga bisa dibilangin yaa Lim, sudah dewasa sudah beristri masih ae tak punya sopan santun sama orang tua. Sana – sana mak mau ketemu pakdemu di pasar Jati” usir Bu surati kepada Alim kala itu

Pak Alim kala itu hanya pasrah dan sungguh heran dengan peringai ibunya yang selama ini selalu membedakan perlakuan dengan adik perempuannya, Nurti. Sejak kecil Nurti selalu dituruti segala keinginannya, sedangkan alif tak dianggap. Ia hanyalah selalu mendapat jatah sisa. Bahkan rumah megah milik ibunya itupun sudah diatas namakan kepada Nurti. Dan mungkin karena selalu dituruti dan paling dipilih kasih sama ibunya inilah yang menjadikan Nurti berani dengan ibunya itu suatu saat.

“Mak, sampean sekarang ikut saja ke rumah mas Alim. Saya sudah ngga sanggup mengurus mak. Mak selalu bikin repot keluarga saya. Sudah – sudah, sekarang giliran mas Alim yang mengurus Mak, masa harus saya terus”

“Tapi Nduk” sela bu surati

“Halah, sudah mak, bosen saya. Nanti barang – barang mak biar saya yang ngantar ke rumah mas alim”

Dan saat ini jelaslah sudah. Bu surati terusir dari istana megah masa lalunya. Ia di usir nurti anak perempuan yang paling disayanginya setelah semua yang dimilikinya diberikan pada Nurti. Dan yang lebih menyakitkan adalah Nurti bersama suaminya menjual banyak sekali tanah – tanah hasil kerja keras ibu Surati tanpa ada sedikitpun rembuk rukun bersamanya. Inilah sumber penyesalan besar dari Bu surati. Nurti benar – benar telah menenggelamkannya dalam dasar kekecewaan hidup sebesar – besarnya. Anak yang paling dicintainya ternyata yang paling keji juga meggoreskan luka dalam hidupnya.

Namun kabar – kabarnya, Nurti beberapa bulan yang lalu telah tiada. Menurut kabar ia terkena serangan jantung dan tak tertolong lagi.

***

Dilihatnya Pak Alim yang masih tertunduk disampingnya, entah tenaga dari Mana tiba – tiba terdengarlah geraman suara lemah Bu Surati yang lemah tak berdaya.

“Emmmmhhhh, leeee’’ (le = anak laki-laki) geraman bu surati

Pak Alim masih tertunduk, namun dari belakang beberapa ibu – ibu memberi tahunya

“Mas, mas, ibunya sampean bicara itu ... “

Dengan tergagap gagap pak Alim bangkit mendekatkan mukanya ke dekat muka Bu surati

“Iya Mak, cepat sembuh Mak, Alim Minta maaf ya Mak, selama ini alim selau buat susah mak” kata pak alim

Tidak nak, seharusnya yang meminta maaf adalah aku, bukan kamu. Astagfirullah, sungguh betapa kejinya aku selama ini. Anak yang kusiakan ini ternyata berhati malaikat. Sungguh buruklah peringaiku ini ya Tuhan. Ampunilah aku, aku menyesal, sungguh – sungguh menyesal Ya Tuhan. Jikalau masihlah ada kesempatan biarkanlah aku untuk meminta maaf padanya. Mudahkanlah lidah ini bersuara Ya Tuhan.

Namun percuma lidahnya sungguh terasa kaku. Air mata bu Surati deras mengalir. Pak Alim berusaha menyeka air mata di pelupuk ibunya itu. dipandangilah mata ibunya itu. dan disitu pak alif melihat pancaran insaf dari mata itu. Pak Alif hanya menganggung – ngangguk dan tak berapa lama kemudian turutlah ia menangis. Karena seseorang dihadapannya tersebut kini telah berpulang kembali kepada pemilik sejatinya.

Sumber gambar:www.dailymotion.com

Thursday, August 13, 2015

Chatting Semalam Mengajariku


Jam menunjukkan pukul 7 malam. Malam ini Dina memilih untuk diam di kamarnya sendirian, ia tak ingin pergi kemana  - mana dan sungguh tak ingin diganggu oleh siapapun. Akhir – akhir ini entah mengapa banyak sekali hal – hal yang menjengkelkan terjadi dalam dalam hidup pikirnya. Kenapa masalah tak mengenakkan silih berganti datang menghampirinya. Belum juga selesai urusan pelik dengan dosen tentang argumentasi yang menyudutkan saat dikelas dulu berujung pada nilai yang menurutnya tidak fair.

Kini nambah lagi urusan organisasi yang yang tak kalah memanaskan hati. Betapa tidak kasus permasalahan penyalahgunaan keuangan organisasi yang hari ini santer menjadi perbincangan di Himpunan, mencatut namanya sebagai salah seorang tertuduh. Dalam isu tersebut uang organisasi digunakan oknum bendahara yang mengelolanya untuk keperluan pribadi. Namun dina merasa tidak pernah memakai sepeserpun uang di organisasi tersebut. Dina memang Bendahara dua di Himpunan kampusnya. Bersama Sari Sebagai Bendahara utama serta Nanda sebagai Bendahara 1. Dan menurut informasi yang didapatinya ternyata Sari dan Nandalah yang menggunakan uang tersebut. Sore tadi, ia habis berdebat hebat dengan kedua rekannya tersebut, karena ulah mereka kini dina juga ikut terkena getah pula untuk bertanggung jawab kaerena dananya akan segera digunakan untuk acara organisasi. Dina hanya ngga habis pikir saja mengapa mereka bisa – bisanya melakukan hal tersebut.

Malam itu sebenarnya ia juga ada janji dengan pacarnya, tapi urung ia batalkan karena badmood yang melandanya itu. Ia hanya bergelut dengan buku catatan kecilnya. Adalah kebiasaannya untuk menuliskan segala permasalahan yang dihadapinya dengan menuangkannya pada tulisan. Menurutnya selama ini, itulah cara terbaik untuk membuang stress yang melandanya. Berlembar – lembar halaman telah selesai ia tuliskan, namun sepertinya kegelisahan diwajahnya masih nampak begitu jelas. Dengan ekspresi kesal yang terukir diwajah, ditutuplah buku catatan itu. Ia memandangi cover catatannya itu sambil memainkan pena di atas buku tersebut, pikirannya menerawang akan sesuatu. Dan beberapa saat kemudian ia bangkit dan mengambil laptopnya yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya.

Dinyalakanlah laptop itu  dan kemudian ia membuka skype serta situs chatting instan favoritnya yang terhubung ke banyak orang diseluruh dunia. Mungkin ini bisa sedikit menenangkan pikirnya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Dina untuk terhubung dengan dunia maya. Dunia keduanya bahkan mungkin bagi kebanyakan orang saat ini.

Di situs chating instan itu, semua orang di dunia terhubung disitu. Yang Dina suka dari Chatting instan ini adalah, karena hanya cukup daftar jadi anggota dan online maka semua orang bisa chatting dengan siapapun yang ia minati asalkan ia sedang online. Tak perlu menunggu ijin pertemanan ataupun follow - followan seperti kebanyakan situs media sosial saat ini, Jadi lebih bebas dan lebih menyenangkan. Kalo tertarik tinggal ajak chatting kalo tidak tertarik tinggal tekan tombol next. Dina sudah online, ditelusurinya orang – orang di sana yang berubah acak terus menerus seiring ditekannya tombol next. Ia bisa melihat rupa orang seluruh dunia di situs chat instan ini, mulai dari orang Amerika, Inggris, Italy, Turki, Mesir, India, China dan banyak lagi termasuk orang orang Indonesia. beberapa saat ia terlihat mengetik di papan keyboardnya, ia sedang chatting dengan seorang pemuda hispanik yang nanya – nanya hal basa – basi kepadanya. Dina hanya menjawab singkat dan seadanya. Ia merasa malas karena yang seperti ini ujung – ujungnya minta yang macam – macam. Ditekannya tombol next, seorang pria berusia 40 an dari yunani. Ditekannya lagi, kali ini seorang Gadis berwajah arab dari Mesir. Dina menyapa dengat chat namun beberapa saat kemudian si gadis arab itu telah pergi dan berganti seorang pria yang kalau dilihat dari fotonya seperti rupa – rupa orang Turki. Sang pria itu menyapa

“Hi yang disana”
“Hi Juga” balas Dina
“Sedang apa ? bagaimana kabarnya disana ?”
“Ga ngapa – ngapain. Hmmm, baik-baik aja” jawab dina asal
 “Boleh tau namanya siapa ? “
“Dina”
“Aku Mert dari Angkara, senang bertemu denganmu Dina”
“Oke Mert“
“Punya Skype ? ini akunku Mert-nurhy kalo mau kita bisa chat disana”

Dina sebenarnya tidak begitu tertarik untuk menanggapi Chat dari Mert namun entah mengapa ia tambahkan juga nama mert-nurhy tersebut di akun skypenya yang sudah On dari tadi itu. mungkin karena sudah terlalu lama dan bosan gonta – ganti orang untuk chat. Beberapa saat kemudian nampaklah seseorang yang mengaku namanya mert itu di layar laptopnya. Dina juga sudah mengaktifkan cameranya jadi ia juga nampak jelas di salah satu sudut layar  itu. Dina agak terheran dengan sosok yang dilihatnya, difoto chatting tadi foto pria ini tersenyum lebar dan nampak ceria. Namun saat ini keceriaan itu tak nampak, yang nampak hanya wajah kaku nan serius yang memelototi kamera web sambil mengetik – ngetik disana. Sungguh berbeda dengan yang diperkiraanya.

“Hi Dina, terima kasih sudah di tambahkan jadi teman skype” jawab mert serius sambil mengangguk-nganguk ringan.
“ Oke” Jawab Dina sambil menerka – nerka tipikal orang didalamnya. Menerut pengalamannya selama ini tentang wajah seseorang, Mert adalah orang yang baik, wajahnya menggambarkan keramahan meskipun seperti ada mendung yang menggelayuti wajahnya. Matanya kuyu dan keningnya seperti tergambar garis – garis yang menggambarkan masalah. Dina entah mengapa tiba – tiba menjadi penasaran dengan orang yang di depannya tersebut. Kemudian dia memancing sebuah pertanyaan seperti menyelidik secara halus
“Malam ini menyenangkan sekali ya mert, bagaimana menurutmu ? J “
“ ya tak terlalu buruk “ jawab mert serius
Tak terlalu buruk ? Dina dibuat makin penasaran dengan pernyataan dari mert itu
“ wah, serius amat ya. Sepertinya kamu ini ganteng lo kayaknya kalo tersenyum mert” pancing Dina lagi

Beberapa detik kemudian benarlah ia terbawa pancingan dari Dina. Mert tersenyum dengan agak malu – malu di seberang layar sana. Dina juga tersenyum kecil.

“Gitu dong, nambah lo cakepnya”

Dan semakin lebarlah senyum Mert, ia seperti tak sadar dengan pancingan dari Dina. Dina berpikir bahwa mert sedang memiliki masalah berat sehingga secara tak sadar mengabaikan aspek – aspek dugaan yang biasa muncul pada seseorang yang tak berbeban berat pikirannya. Pujian yang sebenarnya pancingan itu telah mencaairkan segala kebekuan di wajah pria tersebut. Mert sekarang nampak lebih santai dengan senyum yang tergambar ringan di wajahnya. Namun wajahnya masih menyimpan beban. Dina terus memancing mert, dengan percakapan – percakapan ringan dan mengalir.Dan perlahan keluarlah permasalahan yang dihadapi mert yang membuat wajahnya mendung tersebut. Dina akhirnya tahu juga akar masalahnya. Mert banyak masalah di tempat kerjanya di perusahaan komputer, menurutnya bosnya menekan dia.

“Rasa – rasanya aku ingin menangis Din “
“Pria juga manusia mert, jadi tak masalah untuk menangis, kalo gak pernah nangis malah aneh : D ”
“Sorry aku nanggis, Aku malu Din”
“tidak apa – apa. Masalah jangan disimpen sendiri, dishare ke orang yang kamu percaya biar gak jadi penyakit” Ketik Dina.
Beberapa saat dina terkesiap, ia seperti tak sadar dengan apa yng telah di ucapkannya kepada Mert. Ia merasa malu dengan kata – katanya, kata yang dirinya sendiri tak melakukannya.

Kemudian, Dina hanya memasang senyum tipis menyungging, baru kali ini ia melihat seorang pria menangis di depannya meskipun hanya tangis yang ditahan – tahan. Hal ini baginya seperti sebuah permainan tebak – tebakan saja dan dia merasa menang serta ia lupa akan masalah dengan organisasinya.

Waktu bergulir cepat, kedua orang ini seperti lupa waktu karena keasyikan dengan chatnya tersebut. Dan sepertinya mereka berdua sedang menikmati hidup mereka dengan menanggalkan beban permasalahan yang sedang dihadapi. Mereka saling saut sautan, dalam chat awalnya memang dina yang banyak bertannya kini mert juga tak mau kalah. Sungguh serulah apa yang mereka perbicarakan mulai dari promosi negara mereka masing - masing, pekerjaan, hobi, pengalaman dan berbagai macam hal lainnya. Dina berhenti sejenak dari Chat, ia ingin mengambil minuman.ketika Dina melihat jam di kamarnya ternyata sudah jam 1 pagi. dia agak sedikit kaget. Mert berhenti menuliskan chat, matanya kembali sayu lagi.

Dina, kamu sudah punya Pacar ?, dina membaca psan chat dari Mert sedangkan mertnya tidak ada di depanya, hanya kasur kamarnya saja yang nampak. 

 “ya, aku sudah pacar” ketik dina dengan cepat.
Kemudian terlihatlah mert di depan sana sambil membawa Bunga. Dina hanya tersenyum tipis. Didalam benaknya ia berpikir, begitu mudahnya membaca pikiran seorang laki – laki.
“ Pacarmu sungguh beruntung” jawab mert
“haha, terima kasih mert. Semoga kamu segera juga dapat yang baik.” Jawab dina
“maaf, udah malam ini, aku keluar ya”
“Ok Din, Have nice dream. See you ”Jawab mert

Logged Out

Dina termenung, ia teringat akan segala percakapannya dengan Mert. Tidaklah sebentar ia berpikir akan bayangan kata – kata yang telah ia ketik. Ia geram dan menyumpahi dirinya, kenapa begitu sok tahu, sok bijaksana dan sok lebih baik dari Mert. Padahal dirinya sendiri belum seperti itu adanya dan apalagi dia seorang perempuan. Sungguh tidaklah patut seharusnya. Ia insaf mungkin masalah yang beberapa hari ini menghampirinya merupakan jalan penerang akan segala kebodohan yang menghinggapinya selama ini.

sumber gambar : http://www.ladiesflight.com/2012/04/17/

Wednesday, August 5, 2015

Pelangi Senja Hari


Ingatkah kamu waktu itu sahabatku, beberapa tahun  lalu dimana belum ada kenal diantara kita. Kala itu kita masihlah dua hal kejanggalan yang ada di sudut kota rantau itu, meraba hidup dan menggapai angan cita – cita. Kini beberapa tahun setelah cerita disana telah habis masanya dan jarak telah memisahkan kita. Aku hanya ingin sedikit lebih tau tentang apa yang selama ini menjadi kegelisahan diriku kepadamu. Aku hanya menduga saja namun aku sebenarnya ingin tahu sebenar-benarnya tentang itu. semoga kau tak keberatan dengan apa yang menjadi pertanyaanku elama ini. Meskipun mungkin saja sudah kuketahui apa yang akan menjadi jawabanmu.
***
            Indahnya pelangi sore di gunung prahu kala itu masih terlihat jelas dalam benakku. Itulah pendakian pertama bagiku, ya memang gunung ini adalah gunung yang ideal bagi orang yang baru dalam hal dunia pendakian. Sore itu gunung prahu tetaplah memukau meskipun sebelumnya hujan sesaat datang menyapanya dan menjadikan hawa sejuk disana semakin menusuk. Apakah kau masih ingat apa yang kita bicarakan bertiga bersama romi itu tentang rencana – rencana setelah lulus.
“ kalo udah lulus, rencana kalian apa ? “ tanyaku
“ Kerjalah San, mau apa lagi kalo ngga kerja “ Romi singkat
“ Kerja dimana ? “ tanyaku lagi
“ Mmm, dimana ya ? belum tau nih, buat apa sih San nanya hal itu, kita kan baru beberapa bulan kuliah, santai aja lagi ” jawab romi
“Haha, bukan gitu, biar jelas aja jalannya nanti. Kalo kamu Dan ? “
“Inginnya ya kerja dulu di Oil company lalu nikah “ Jawabmu
“Gile pikirannya udah mau kawin ni Dani, semester 1 aja baru jalan. Wwkwkwk” sahut romi
“Ya gapapa toh” jawabmu.

Aku hanya tersenyum saja dan masih takjub denngan pemandangan senja sore diatas gunung ini serta indahnya pelangi diatas sana. tak berlangsung lama senjapun terlihat mulai memudar, cahaya keemasan itupun perlahan mulai tergantikan oleh remang – remang malam. Sang pelangipun hanya bersisa sedikit hanya menunggu beberepa saat saja untuk hilang. Dalam benakku aku masih berusaha memahami apa yang kita bicarakan serta mencari makna dari pemandangan senja sore itu. Mengapa begitu cepatnya pelangi itu menghilang. Seiring berjalannya waktu akupun mulai mengenal lebih dalam siapa – siapa kalian yang sesungguhnya, aku mulai paham dengan tingkah dan hobi – bobi kalian yang sebelumnya belum kuketahui. Dan mengenai dirimu aku lebih paham lagi, aku tahu akan kepandaianmu menyembunyikan emosi dalam dirimu. Meskipun mulut diam tak berucap namun semua tingkah laku berbicara dengan jelas kepadaku. Terutama ketika kita saling bersipandang, teramat jelas disana. Tapi biarlah kuanggap itu hanya persangkaan yang tidak masuk akal aja.
***
            Kamu juga pasti masih ingat, diakhir semester 4  kukenalkan seseorang kepadamu. Seseorang yang kini telah menjadi pendamping hidupku. Ya, Linda. Gadis sederhana dari kampus sebelah. Malam minggu itu kebetulan adah hari kedua resminya hubungan kami. Dan kala itu aku belum memberitahu akan hal ini kepada kalian. Malam itu Linda datang ke kontrakan kita. Ia ingin mengajakku nonton launching film perdana di bioskop langganan kita. Acaranya jam 8 malam. Jam baru menunjukkan pukul 6.30, terdengar pintu diketuk dari luar. Saat itu kita bertiga sedang bergiliran main PS dan kebetulan giliran kita berdua.
Tok tok tok
Tok tok tok

“Masuk aja” teriak Romi dari kamar Mu yang lumayan jauh dari lobi rumah.
“Eh Rom itu ada tamu bukain sono, siapa tahu kurir nganter duit semobil” pintamu ke romi.
“iye juragan” jawab romi sambil toyeng mukamu
“ Aduh, kampret...”
“Hahaha...”jawabku masih konsentrasi dengan layar di depan.
Tak lama kemudian muncul lagi si Romi.
“Siapa Rom ? “ tanyaku
“Monggo mbak itu Hasan nya, ealah, satu orang ini kalo udah main PS bisa lupa daratan”
Tak berapa lama muncullah linda dibelakang romi
“eh Lin, awalan ni datangnya ?”
“ada peubahan jadwal”
“Bro, kenalin ini Linda, pacarku”
“Cieeee yang udah dapat pacar ndak kabar-kabar” sindir romi
“Sory, baru kemarin juga jadiannya Rom” jawabku
Kemudian linda memperkenalkan dirinya. Sejujurnya aku senang sekali malam itu melihat ada seseorang lagi menjadi bagian dari lingkaran hidupku selain kalian berdua yang sudah kuanggap sebagai saudaraku.

            Namun aku juga tidak alfa dengan apa yang telah kulihat dari raut mukamu kala itu, sesuatu yang tidak biasa kulihat dari mukamu, sebuah bahasa yang tak terucap lagi nampak dimukamu itu. begitupun sorot dari mata dan pandanganmu yang nambah berpendar seperti kaca – kaca cair yang samar. Aku pernah melihat bahasa itu pada orang lain, sebuah bahasa kecemburuan. Namun lagi – lagi kulihat kembali kemahiranmu dalam menyembunyikan emosi itu, dengan senyum yang menyungging kau mencoba mengelabuhi kami. Boleh saja linda dan romi tak mengetahui akan hal itu namun aku tak bisa kau bohongi dengan bahasa darimu itu.
“Aku ganti baju dulu ya say “ pancingku
“Cie cie udah say say ini manggilnya”Romi nyolot
“apa sih...” jawabku sambil melihat linda yang tersenyum dan sesaat aku melihatmu.

            Ketika di bioskop Aku masih saja kepikiran saja dengan dugaan – dugaanku itu, aku hanya tak ingin saja sahabatku tersebut masuk ke jalan yang salah. Dan semoga saja dugaan tersebut adalah salah.
***
Dua tahun telah berlalu begitu cepatnya. Dan hidup seseorang  terus berjalan dengan jalanya masing – masing. Begitupun kau yang memutuskan pindah ke apartemen beberapa bulan setelah hal itu. tapi apalah semua ini sejatinya akan semakin mendewasakan diri. Lebih bijaksana lagi dalam mengambil keputusan.  Aku telah lulus, dan pada sore hari sehabis wisudaku itu akupun masih ingat percakapan kita  di atap apartemenmu.

“Linda apa kabar San ?”
“Ia masih di Bandung, mgangnya belum selesai dia”
“Ohh...” jawaban yang menggantung
“Gimana skripsimu Dan ?”
“Tinggal bab terakhir saja”
Diam untuk beberapa saat
“kamu kapan balik ke pontianak san ? “ lanjutmu
“Rencananya minggu depan berangkat “
“San, aku ingin bertanya padamu”
“well, ada apa sepertinya serius nih” jawabku
Kau hanya tersenyum sesaat kemudian berkata “ menurutmu Cinta itu apa ? “

Deg...

Aku hanya menahan berat ketika mendengar pertanyaanmu itu ? pikiranku tak tentu arah kesana – kemari karena tak percaya dengan apa yang kudengar. Otakku sungguh bekerja keras kala itu dan dadaku hanya kembang kempis menahan beban berat yang ada di dalam dadaku. Aku tahu arah akan pembicaraanmu. Aku hanya bertanya – tanya mengapa kau tanyakan hal itu ? bukankah hal ini jelas adanya. Kukira waktu telah menyembuhkanmu. Dan sekali lagi aku terlarut dalam dugaan itu lagi. Aku masih diam saja mencoba memberikan jawaban terbaikku kala itu.

“Dan, bagiku cinta itu ibarat persahabatan dan keluarga. Ia akan hadir ketika kita bisa menerima dengan ihklas atas segala kekurangan dan kelebihan seseorang, tak peduli siapapun ia. Cinta akan selalu menghubungkan hati meskipun orang itu terpisahkan oleh keadaan, jarak dan waktu. Tak ada sekat setebal apapun yang bisa menghalanginya. Linda, kedua orang tuaku, adikku,romi dan kamu kalian semua adalah cintaku. Aku menyayangi kalian semua”
Ya itulah kata – kata yang tersisa dari dalam diriku yang bisa kuungkapkan sepenuhnya kala itu. Dan itu adalah usaha terakhirku untuk meyakinkanmu agar bisa menerima kedaan yang sungguh aneh diantara kita saat itu. Kau hanya diam termenung melihat senja sore itu, seperti ada sesuatu yang engkau harapkan darinya kala itu.

“kadang aku iri kepadamu san” katamu pelan. Aku diam lau mencoba memandangmu yang masih saja asik dengan senja.
“Hidupmu begitu sempurna, kau miliki segalanya”
“Ngga ada kata sempurna dalam hidup Dan. Percayalah kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Jujur malah sebenarnya aku malah ingin bisa sepertimu. Bisa melukis, bernyanyi, fotografi. Sesuatu yang aku tak pandai akan hal itu”
***
Kini aku paham mengapa pelangi seringkali muncul pada sore hari kala senja hari, ada hikmah terendiri bagiku bahwa keindahan dibeberapa bagian kehidupan kadangkala hanyalah pantulan – pantulan semu yang tidak nyata dan apabila saatnya tiba keindahan itu hanyalah ilusi sesaat saja lalu menghilang. hari ini telah terjawab sudah pertanyaanku saat di gunung prahu itu

Hari ini Senin, 29 Juni 2015, empat tahun berlalu semenjak wisudaku. Alangkah bahagianya diriku ketika mendapatkan pesan gambar dari nomor yang tak kukenal pagi ini. Kulihat dalam foto itu seseorang yang sudah tidak asing lagi, yang menggendong anak kecil berusia sekitar 2 th yang tertawa lebar di pundak beserta seorang wanita cantik memegangi tangannya di samping. Aku tersenyum bahagia melihat itu, berjuta syukur tak terucap dari dalam hatiku. Aku amat kenal akan wajah itu dan sudah pasti, itu adalah kau dan keluarga kecilmu. Dani silalahi.

*Sumber gambar: http://preecey.deviantart.com/art/Rainbow-Sunset-Final-Version-179922964

Wednesday, May 6, 2015

Kenapalah


Hati yang kelam,
Terasa hampa kian menghujam,
Malam, akankah engkau sanggup untuk tertawa ?
Ketika dalam bayangmu terliput duka,
Malam kenapa ini ?
Kenapa diri ini ?
Kesana - kemari terkurung dalam senyum,
Senyum pembungkus luka yang tak terlihat,
Senyum sebagai fatamorgana semata,

Sejujurnya jikalau ada,
Jikalau hadir saat itu,
Teringinku hancur lebur tiada bekaspun,
Sayatan ini senyuman ini,
Sungguh,
Sungguh ingin saat seperti itu,
adalah kekejian terbesar bagi kebenaran sejati.

Tuesday, May 5, 2015

Pergi Bukan Untuk Meninggalkan


Pagi itu Andy seperti hari - hari biasanya mempersiapkan segala sesuatu sebelum ia berangkat mencari rezeki di kota. Andy adalah anak bungsu dari beberapa bersaudara yang sederhana. Hari - harinya ia habiskan untuk bekerja sebagai karyawan restauran di kota.

Andy memang telah lama hidup tanpa ada kedua orang tuanya. Orang tuanya meninggal beberapa tahun silam akibat penyakit kanker yang didetitanya. Saat ini ia serumah dengan kakak laki - lakinya, Doni. Doni masih bujang 5 tahun lebih tua dari usia Andy yang berada pada tahun 21, ia adalah seorang pengangguran.

Jam 8 pagi Andy telah sampai di restauran tempatnya bekerja. Pagi itu ia terlihat lebih diam, ia bekerja dengan cekatan seperti biasa namun dengan sikap diam tanpa kata yang tak biasa. Dari raut mukanya saja terlihat seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mimik mukanya begitu serius. Kalau sudah seperti ini biasanya ia ada masalah dengan kakaknya. Dan nyatanya benar, bahwa malam kemarin ketika Andy baru pulang dari kerjanya. Doni mencecarnya dengan hal yang memberatkan Andy.

"Ndy, kamu ada duit ndak ?"
"Buat apa Mas ?" Tanya Andy balik.
"Buat bayar hutang"jawab Doni
"Utang apalagi Mas, utangmu lo udah berapa, masa mau utang terus kah" kesal Andy
"Utang sama Ridho tempo hari, ada ndak e ? " 
"Itu utang buat apa ? Apa buat ngewarung."
"Kamu ga perlu tau" jawab Doni
"Kalo gitu kenapa sekarang minta aku buat bayarin itu hutang, aku ada beberapa ratus ribu namun ini jatah makan untuk bulan ini "
"Aku pakai Sertifikat tanah rumah ini wae kalau begitu buat pinjam di Bank"
"Apa ? Ya jangan gitulah, sembarangan saja".

Mungkin itulah hal yang membuat dirinya terlihat demikian hari itu. Ia memang sering kesal dengan kelakuan kakaknya, terutama tentang hutang menghutang, bagaimana mungkin terus berhutang sedangkan dirinya tak bekerja ditambah gaya hidupnya tak bisa di kontrol.

Pengunjung restoran cukup banyak, sehingga cukuplah buat Andy untuk berkonsentrasi saja dengan memasak pesanan pelanggan tanpa banyak bicara. Tiba - tiba handphone di saku celananya berbunyi. Tanda bunyi pesan masuk, dibacanya pesan itu "Selamat Pagi saudara Andy, kami dari HRD Hotel Grand Sahid Surabaya ingin menyampaikan bahwa anda diterima menjadi Kepala Chef di unit restoran kami. Anda bisa mulai bekerja pada senin lusa. Terima kasih."

Tiba - tiba sebuah senyum kegembiraan tersungging dari wajahnya. Mungkin inilah jawaban serta saat yang tepat untuk hal yang selama ini ia pikirkan. Ia telah lama berfikir bagaimana cara yang tepat agar kakaknya itu bisa belajar untuk mandiri dan bisa bertanggung jawab dalam hidupnya sendiri. Disadari ataupun tidak kakaknya memang bergargantung pada dirinya. Sedangkan Doni sendiri seolah tak memperdulikan hal tersebut, ia lebih asik dengan dunianya sendiri, dunia warung kopi. Namun mau sampai kapan ingin seperti itu pikir Andy dalam hatinya selama ini.

Dan Siang itu ia telah ia telah memantapkan hati, bahwa besok ia akan berangkat ke Surabaya. Mencari asa dan masa depan disana, dan selain itu ia ingin memberikan pembelajaran buat kakaknya tetsebut.

Dan benarlah bahwa Minggu siang itu ia berangkat dengan diantar oleh Kakaknya. Kakaknya terlihat seperti orang bingung, Andy tahu itu namun ia tetap mantap melangkah bahwa ia ingin agar kakaknya belajar akan arti kemandirian dan tanggung jawab. Andy tak akan pernah meninggalkan kakaknya, ia hanya ingin agar Tuhanlah yang beberapa saat membimbingnya dalam didikannya. Beberapa saat kemudian Bus kota yang di tumpangi Andy pun meluncur dari terminal.


*sumber gambar: www.pinteres.com

Monday, May 4, 2015

Dimanakah ?













Cinta, dimanakah dirimu ?
Apakah selama ini kau sengaja menghindar ?
Apakah kau tak mau bersua denganku ?
Selama ini, diriku hanya mendengar kabar,
Isu dan hal yang manis - manis tentangmu,
Tapi aku benar - benar belum mengenalmu jauh,
Aku hanya menerka, berguman dan berimajinasi tentangmu.
sekali lagi,
aku ingin tanya kepadamu,
Dimanakah dirimu ?
Mendekatlah,
berilah aku kesempatan untuk mengenali dirimu.

Sunday, May 3, 2015

Melepas Sahabat di Stasiun Tugu


Malam ini akan menjadi malam yang tiada mudah bagiku. Karenamu akan tiada lagi di kota yang mana menjadi saksi akan persahabatan kita selama ini. Wisuda telah berlalu dan sudah saatnya bagi kita untuk meraih impian masing - masing. Kau akan pergi meraih mimpimu di Kota kelahiranmu begitu pula denganku.

Stasiun Tugu kota Yogyakarta. Aku masih duduk dalam peron menunggu penumpang, mengantarmu yang kini sedang asyik menjajalkan hvs cetakanmu di loket penukaran tiket tersebut. Suara sirine khas stasiun terdengar beberapa kali dari pengeras suara. Aku hanya senyum sendiri, dan entah mengapa tiba-tiba aku ingat kala itu. Pertemuan kita di tempat ini kawan. Hari ini tepat empat tahun yang lalu. Pertemuan tanpa sengaja itu menjadi hal yang tak akan pernah mungkin bisa aku lupakan.

Kala itu Kereta yang kau tumpangi dari Jakarta baru saja berhenti, kemudian Kau yang berlari - lari dengan tas travel mu kala itu. Seperti orang kerasukan yang ingin segera keluar dari stasiun. Aku sudah setengah jam di stasiun Tugu waktu itu, keretaku yang dari surabaya telah berhenti pukul pukul 15.30. Sembari sore, kala itu aku mencari Wifi gratis di Sana. Lumayan setengah jam buat download video dari chanel langgananku di Youtube. Dan setengah jam kemudian itulah keretamu datang. Aku aku beranjak bangkit dari kursi tunggu untuk melangkah keluar dari stasiun untuk menuju tempat kost yang kupesan tempo hari. Aku jalan santai sambil membawa barang bawaanku, Dan entah apa pasal tiba - tiba tas travelku yang kupegang disampinh itu mendadak jatuh karena tanganku tersodok oleh tas mu dari samping. saat kau lari kala itu.
"weih ... santai bung, santai" spontan kataku.
"Eh sory sory mas lagi buru - buru" jawabmu kala itu.
"Buru-buru ya buru - buru tapi biasa juga kali mas, moga aja ga ada barangku yang rusak"
"Maaf mas, gua ganti kalo ada yang rusak"jawabmu
"Orang ini sepertinya dari Jakarta kalo dilihat dandanan sama bahasanya" jawabku dalam hati.
"Ok aku cek dulu" singkat.
Kemudian kubuka tas travel kecilku itu, kulihat isinya sebab ada tablet baru yang kutaruh disitu. Untunglah tak ada yang rusak. 
Sekali lagi kau ucapkan maaf, dan tanpa panjang lebar kaupun berlalu karena kau sedang ditunggu oleh seseorang katamu. Kenangku.

"Za, bentar ya" teriakmu.
Kulihat kau masih mengantri tiketmu.
Dan akupun kembali dalam kenangan itu.

Aku bergegas keluar, menuju halte transjogja menunggu tumpangan. Masih sempat kulihat kau bersama seseorang dan kemudian masuk kedalam mobil sedan itu. Dalam halte diriku sedikit termenung, aku merasa seperti pernah melihat orang ini sebelumnya, tapi kapan dan dimana pikirku terheran - heran. Kemudian beberapa saat kemudian terbesit bahwa ia pernah kulihat dalam mimpiku beberapa hari yang lalu. Ya dalam mimpi, tidak salah lagi. Apakah ini pertanda akan sesuatu ? Entahlah aku masih terheran heran. Dan seperti mimpi yang menjadi nyata, ternyata tiada sangka bahwa kau sekampus denganku, sejurusan bahkan sekelas. Apakah ini kebetulan, tiada tahulah.
Dan semenjak perkenalan di ospek itu hingga saat ini kaulah sosok sahabat terbaik itu. Sahabat dalam segala hal.

Namun waktu terus berlalu dan sudah hukum pasti bahwa akan selalu ada fase datang dan perginya seseorang dalam hidup, entah sahabat, pacar,orang tua ataupun orang orang yang berarti lainnya.
Kini di depanku sana, akan ada sesosok sahabat yang akan berlalu dari hidupku, waktu begitu cepatnya, kukira baru kemarin saja kita bersama dan mencari asa di kota ini. Kini 15 menit lagi, kereta dari surabaya akan datang dan akan membawa sahabatku ini ke tanah kelahirannya. Jakarta.

"Sory ya lama, panjang banget antriannya" 
"Iya, ga apa eh. Gimana sudah clear semua ?" jawabku
"Tinggal nunggu keretanya saja ini Za, paling bentar lagi datang juga tu kereta"Katamu

"Gue bakal kangen banget sama loe nanti Za, gila... tak terasa ya udah empat tahun kita bersama"
"Ya begitulah Jim, tapi ini bukan akhir dari persahabatan kita kan""Ngomong apa eh, ya ngga lah Za, kita kan masih bisa telponan, chat atau skype. santai bro, loe sahabat gue selamanya"Jawabmu
"Iya iya, tapi gak serulah kalo lewat gadget" kulihat kau paham maksudku itu.

Tak lama kemudian kereta Sembrani dari surabaya telah datang, terdengar riuh pengeras suara stasiun dan suara kereta datang mendekat. 
Jimmy sudah siap dengan segala bawaannya, ia berdiri akan menuju ke kereta itu. Aku juga ikut berdiri menentengkan tasnya yang lumayan besar itu. Jujur ada perasaan sedih dalam diri, namun rasa itu terkikis oleh harapan dan impian masa depan yang sering kami bicarakan.
"Hati - hati Jim, sampai jumpa lagi lain waktu. Ingat janji kita ya" kataku sambil memberikan salam persahabatan khas kami

"Siap bos, gue udah buat semua note-note gue tentang hal itu"jawabnya seceria mungkin. Namun aku sudah paham betul mimik sahabatku ini, kulihat matanya tak bisa menyembunyikan rasa berat perpisahan ini. Namun apalah daya, hidup harus terus berjalan. Iapun lalu melangkah ke dalam kereta tersebut. Di peron, diriku masih menanti keberangkatan kereta itu.
"Tungtungtungtunggggg,tungtungtungtungggg,tungtubgtungtung ..." keretapun berjalan perlahan dan pergi membawa semua kenangan itu.

"Tak apalah 5 tahun lagi kutunggu kau disini dan di jam ini dengan membawa kesuksesan masing-masing" itulah janji kami.


*Sumber gambar :Inijogja.co.id/stasiun-tugu/

Saturday, May 2, 2015

Mengalir melambai













Saat kulihat tetesan embun,
kulihat cahaya kehidupan begitu terang,
kelipan kejernihan yang begitu menggoda,
membuat diriku syahdu ingin merasakan kemurniannya,

kupalingkan wajahku ketika suara gemericik membuai,
terdengar jelas ia dari sisi belakangku,
entah dari mana asalnya,
akan tetapi disitulah terlihat pendaran airnya,
embun berharap tuk ikutinya,

kini di depanku kejernihan dan cahaya semakin jelas,
bahkan akupun bisa melihat diriku darinya,
Mataku mencoba memahami,
perlahan air tersebut berkumpul,
namun ia tiada diam,
ia bergerak takjub melalui celah - celah bebatuan didekatku itu,

kucoba mengikuti kemana arahnya,
langkah demi langkah terus terjalin,
diripun tercebur dalam sandiwara keasyikan,
terlupa sesaat akan sang waktu,

mengapa ia terus mengalir cepat saat ini,
namun kadang ia mengalir begitu pelan membingungkan,

ya, kulihat itu semua,
begitu tegar,jernih dan menyegarkan,
kuliat air suci itu berkumpul bersatu,
berkawan jutaan bulir lainnya sekarang,

Dan kini semakin terang pula kulihat,
dan ya itulah,
itulah dirimu yang kelak kan menirunya.

Friday, May 1, 2015

Akan Berlalu Begitu Saja


Dikala terasa dinginnya hawa subuh hari, terdengar suara angin angin sepoi menerpa pohon di luar tenda ini, di puncak bukit G.prau ini. Cukuplah enam jam bagiku untuk memulihkan kesegaran diri ini. Bersama tiga sahabat yang menemani pendakian ini, mencari sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata. karena kata - kata kadang membuat batasan - batasan tersendiri yang tak bisa diganggu lagi, 

Refresing adalah kamuflase bagi kami berempat, namun anggap saja benarlah demikian apa adanya.
Aku bangun lebih awal, kulihat dalam remang tenda wajah - wajah yang selalu menemani dan memberi arti dalam setiap langkah perjalanan waktu ini. Wajah Ketegaran, semangat, keceriaan terlihat damai kala itu. Biarlah mereka istirahat dulu, menikmati jamuan belaian dekapan bukit ini. Akupun keluar dari tenda perlahan. Hawa dingin bukit ini begitu terasa meskipun sudah kukenakan jaket tebal sekalipun. Tanda tanda subuh hari mulai menampakkan diri, dibalik ufuk nan jauh pendar - pendar cahaya mulai nampak. Dari sini terlihat jelas kerlap kerlip lampu perkampungan nan begitu mempesona terpajang sepanjang mata memandang. Awan - awanpun tak lupa datang untuk menyapa beriringan dengan cantiknya.

Diriku takjub namun ada juga perasaan luluh datang menghampiri, teringat akan beberapa tahun yang telah berlalu, teringat akan perjalanan hati yang selalu mencari - cari  meraba - raba dalam kebutaan,akan tempat berlabuh yang dinanti - nanti. Begitulah tempat singgah yang telah terlewati hanya menjadi puing - puing harapan dan kekecewaan yang sering berlanjut. Dan hanya menjadi kenangan kosong yang tiada layak jadi cerita bagi anakku nanti. Memanglah benar kata bahwa diri ini tiada pandai menemukan tempat singgah yang tepat. Bahkan pernah onggokan kayupun kuanggap sebagai dermaga. Mengapalah begitu konyol apa yang telah kulalui tersebut. Hanya renunganlah tersurat jika teringat akan itu. Namun tak apalah, kesalahanku dimasa lalu tersebut adalah nilai yang amat sangat berharga yang akan selalu menjadi pemandu dalam perjalananku ini, Dan kuketahui bahwa selama ini diri ini sejatinya belum benar - benar singgah, ku hanya megaitkan tali kapalku dan belum beranjak darinya.

Ah, sudahlah. Betapa bodohnyalah diriku jika memikirkan hal itu disini. Apalah gunanya sesal ? tak ada yang dapat terubah dari sebuah penyesalan. kupilih tegar dalam memandang semua akan berlalu dan tertinggal bersama waktu. 

Sunrise tinggallah beberapa menit lagi, dan di depan tenda disana sahabat - sahabatku sepertinya sudah bersiap - siap untuk menanti pagi ini.

"Hoiii Cepetaan, kamera jangan lupa " seruku lantang

Daniel, Akbar, Arri dan Deni sahabatku, juga keluargaku. Mereka rumah terbaikku di Jogja dan di perjalanan ini. Dan pagi itu kamera dan G.Prau ini menjadi ice moment, perekat hubungan persahabatan kami. Semoga persahabatan ini akan kian bersemi lagi. 


*sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com/